Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 121. Sisi Sebuah Kehidupan


__ADS_3

Kegiatan Karolina menjadi model iklan semakin banyak mendapatkan tawaran dari produk lainnya. Apalagi di iklan pertamanya itu, Karolina cukup bagus membawanya. Sehingga film iklan itu yang sangat sederhana itu justru banyak disukai ibu- ibu muda masa kini. Terutama kaum ibu muda yang banyak membutuhkan alat-alat modern dan praktis untuk dapat meringankan pekerjaan merupakan sebagai seorang ibu rumah tangga.


Sejak penayangan iklan pertamanya itu yang mendulang sukses. Karolina mulai selektif menerima berbagai tawaran menjadi model seperti itu. Sekarang dia sudah dibantu Bang Miko untuk menyeleksi berbagai tawaran pekerjaan lain yang diterimanya. Termasuk memperhitungkan usia, jenis produk dan tampilannya sebagai ibu beranak satu.


Ada kelegaan tersendiri di hati Jenna melihat Karolina lebih percaya diri untuk mulai menapaki jenjang kesusksesan lagi. Sebab sepupunya itu cukup mempunyai modal untuk berada di dunia model. Kecuali di panggung catwalk lebih tidak menentu lagi, bagi dirinya. Sebab tuntutan kerja di sana cukup tunggi, kurang sesuai dengan perannya sebagai ibu dari bayi yang masih balita.Anak itu masih perlu kasih sayang ibunya.


Apalagi Karolina pernah menyandang nama yang cukup besar di sana. Sampai dia mendapat tawaran peran main film di layar lebar. Sayangnya, Karolina kurang berbakat beradu akting. Setelah kemunculan yang pertama sebagai pendatang baru, dia tidak tertarik lagi bermain film.


" Hey, jangan melamun. Ayam tetanggaku mati, karena banyak melamun!" tegur Mbak Lydia mengejutkan Jenna.


Jenna hanya tersenyum miris dengan ucapan konyol wanita cantik itu. Jenna menutup percakapan dengan Karolina di WA- nya.


" Iya, ayam itu kena sakit tetelo, Mbak! Bukan bunuh diri kan?"ujar Jenna.


Mbak Lydia tersenyum." Ini laporannya, Neng!"


Tanpa sadar, Jenna sedang mengamati lembaran absen karyawan dalam bulan lalu. Dia melihat ada beberapa keterangan izin dari Dokter Niken itu dalam minggu-minggu sebelumnya. Tumben... Dokter muda itu sering izin setelah jam istirahat makan siang. Walaupun demikian, hitungan pembayarannya, tetap hanya perjam datang saja. Sebab pembayaran gaji untuk para dokter di klinik sangat berbeda dengan penghitungan upah dari pekerja di salon.


Bagi Jenna, hal ini agak aneh saja! Apalagi Dokter Niken Sabrina itu hanya sedikit menerima konsul dari pelanggan salon, kecuali ada pelanggan baru. Kebanyakan mereka berpindah jadwal konsultasi dengan dokter lain, di hari yang berbeda juga. Yaitu konsultasi pada Dokter Nena dan Dokter Amalia yang lebih senior dan lebih banyak pengalamannya di bidang kecantikan.


Biasanya para wanita sosialita yang berasal dari kalangan high clas itu paling tidak suka kalau mereka terlalu didikte! Apalagi kalau diatur atau dipaksa dengan bahasa yang menurutnya sedikit menekan dan ketus!


Jadi sikap Dokter Niken Sabrina seperti itu memang tidak disukai mereka. Terutama para wanita yang lebih dewasa darinya. Sebab mereka merasa punya uang banyak , sedikitnya minta dihargai. Apalagi status mereka adalah Istri dari pemilik usaha dan perusahaan yang sangat terkenal


Wanita seperti mereka itu hanya menuntut diberi pelayanan yang terbaik. Bahkan bisa saja mereka melakukan perawatan kecantikan sampai ke negara Korea Selatan. Negara yang menjadi kiblat dari kecantikan wanita modern pada masa kini. Terutama kemajuan di negara itu di bidang operasi plastik untuk kecantikan. Sebab sekarang orang punya banyak uang, adalah orang yang dihormati!


" Ini Dokter Niken Izin terus, ya. Mbak? Kenapa, sih?" tanya Jenna iseng.


" Iya, tuh! Apalagi di Minggu lalu, dia sampai nggak datang segala ... Katanya mau ngurus pasport?"


" Bukannya bisa ngurus seperti itu bisa secara online, kan?" tanya Jenna bingung. Sebab wanita itu juga pernah meminta izin untuk menggurus paspor juga. Pada masa awalnya dia bekerja di klinik ini.


" Paspornya gosong kali, Mbak Jenna?"


" Digoreng kali, gosong!" ledek Jenna.


" Itu, apa istilah... Angus? benar begitu!"

__ADS_1


" Yang Jenna tahu, sih... Kayaknya masih banyak negara - negara di luar sana yang sangat ketat menerima kedatangan orang dari negara lain, deh!"


" Ah, masa?" tanya Mbak Lydia.


" Mbak Jenna sering ya, jalan- jalan ke luar negeri?"


" Ngapain, Mbak! Memang saya pebisnis yang sering bepergian keluar negeri? Sejak saya tumbuh remaja sudah jarang ke luar negeri. Kecuali antar Opa operasi ke Singapura, sebelum pandemi Covid!"


" Itu lho, Mbak Jenna. Kayak orang lain, kalau jalan - jalan ke negara Thailand, Vietnam atau Malaysia... Bisa dibuat vlog atau siaran langsung. Biar seperti artist di aplikasi Tok-tok, begitu! Kan keren jadinya!"


" Mereka itu pada umumnya liburan sambil buat konten, Mbak Lydia! Jadi nggak berasa mahal ongkosnya, karena ditonton banyak orang. Jadi hasilnya impas!"


Wanita yang diajak bicara itu hanya menatap Jenna dengan rasa tak percaya. Betapa sederhananya Jenna itu. Gaya berpakaiannya juga simpel. Dia selalu mampu memadupadankan blus- blus yang harganya tidak terlalu mahal, yang dibeli di mall dengan bawahan berupa celana panjang, rok dan kulot yang keluaran dari butik terkenal.


Terang-terangan Jenna mengakui kalau bermacam macam tas, perhiasan dan aksesoris yang dipakainya dan ada mereknya itu merupakan hadiah ulangtahun. Hadiahnya itu diberikan oleh orang tuanya, kakak dan para sepupunya.


Saat jam istirahat makan siang, di lantai atas masih ada Mbak Hera. Dia sedang mendadani seorang pelanggan untuk hadir di sebuah acara formal. Jadi dia tidak sendirian di lantai dua sana. Jenna berniat memesan nasi Padang dari warung Uda Rizal saja. Kebetulan ada dua pekerja yang juga mau jalan ke sana. Biasanya mereka melakukan hal itu karena mendapat tips lumayan dari pelanggan yang sangat royal. Jadi agak sedikit berfoya-foya istilahnya Makan siang dari warung masakan Padang itu.


Tante Ismaya selalu menekankan pada para pegawainya untuk tetap memperlakukan semua pelanggan mereka dengan baik. Jadi mereka tidak terlalu mengharapkan mendapatkan tips. Kalau diberi tips itu juga menjadi hak mereka karena sudah melayani kemarin mereka dengan sopan dan ramah.


" Pakai apa lauknya, Mbak Jenna?"


" Beres, Mbak!"


Kedua wanita muda itu dengan cepat berjalan keluar dari gedung salon. Namun Jenna malah dikejutkan dengan kehadiran Mumun. Wanita muda itu sering diminta menjadi model bila mereka akan mencoba potongan rambut terbaru atau pewarnaan cat terbaru.


" Mbak Jenna, aku mau ngomong sebentar... Bisa nggak?"


" Kamu nggak makan siang, Mun ?"


" Tadi sudah dikasih roti banyak Mbak. Sama Tante Ony."


" Ya, sudah. Ke ruang kerjaku aja, ya!"


Mereka segera naik tangga ke lantai dua. Jenna mengeluarkan sebuah minuman dingin dari kulkas mininya. Mumun gadis yang sederhana dan lugu. Beberapa kali, Jenna memberikan pakaian bekasnya yang layak pakai untuk Mumun. Sementara gadis itu tinggal di lantai dua ruko bersama dengan dua teman wanita yang bekerja di toko roti yang sama.


" Ada apa?" Tanya Jenna pelan karena melihat wajah Mumun tampak ragu-ragu.

__ADS_1


" Ini soal Dokter yang masih muda itu, Mbak!"


" Dokter Niken?"


" Iya! Tetapi Mumun bukan bermaksud memfitnah atau apapun... Sumpah! Pokoknya Mbak Jenna bisa menilai sendiri!" katanya serius.


Segera Mumun mengotak-atik hape yang tidak terlalu mahal harganya tetapi masih baru. Saat disodorkan foto- foto di hape itu, Jenna terbelalak matanya. Antara kaget dan tidak percaya.


" Ini yang ambil foto kamu, Mun?"


" Iya, Mbak!"


Mumun terdiam. " Awalnya, saya pikir pria yang menjemputnya itu Om atau saudaranya. Kok, semakin ke sini, yang menjemput dokter muda itu beda- beda, ya! Yang sering sih, Om pakai mobil sedan yang hitam itu ...Apa ini yang sering diomongin orang orang itu, ya. Mbak?"


" Maksudnya?"


" Itu cewek yang * pen BO, begitu... " ucap Mumun lirih.


" Mungkin! Tetapi kamu belum ngomongin masalah ini ke orang lain, kan?"


" Belum , Mbak! Masih bingung aja! Takut menjadi fitnah! Masa perempuan yang punya titel dokter dan berpendidikan tinggi masih mencari duit secara nggak halal begitu, sih! Bukan gaji dokter di sini besar, ya?"


" Zaman Sekarang, sih. Bukan karena dilihat dari gajinya besar atau kecil! Kalau kita nggak pernah merasa cukup dan nggak bersyukur, akan selalu merasa kekurangan. Akhirnya segala cara dilakukan termasuk yang haram - haram juga dikerjakan, Mun!"


Mumun tertawa lirih." Ih, serem...Padahal Abah Mumun selalu berpesan, agar Mumun harus pandai - pandai menjaga diri... Makanya, saya berusaha hidup hemat... Biar badan selamat!"


" Begini, Mumun... Kamu tahu kan klinik ini punya siapa?" Gadis lugu itu mengangguk. "Jadi saya nggak punya hak untuk memecat dokter itu. Saya akan minta tolong orang lain, untuk bisa mencari tahu soal kegiatan istimewa dokter Niken ini....Biar kita nggak disebut fitnah jadi harus ada bukti yang akurat. Kamu mengerti?"


Akhirnya Mumun mengirim foto-foto itu hape Jenna." Cukup kamu yang pegang rahasia itu, ya! Kalau Dokter Niken dipecat, tandanya apa yang dia kerjakan itu memang benar menurut penilaianmu!"


Sebelum izin kembali ke tempat kerjanya, Mumun tak dapat menolak ketika Jenna memberikan dua botol minuman teh dingin dan sekotak brownies panggang merek ternama, yang dibawa Jenna dari rumahnya pagi tadi.


" Ini untuk ganti waktu makan siang kamu, agar dapat menyampaikan berita ini. Kapan - kapannkita ngobrol lagi, ya. Mun!"


" Terimakasih, Mbak Jenna!"


" Saya yang berterimakasih karena kamu bisa menahan diri untuk tidak membocorkan masalah ini kepada orang lain. Bisa rusak nama klinik ini kalau begitu, karena perempuan yang nggak benar itu."

__ADS_1


Tanpa ragu sedikit pun, Jenna segera menghubungi Pak Sanad. Pria itu terkejut dengan keterangan yang disampaikan oleh cucu bosnya itu. Apalagi dengan foto-foto yang segera diterimanya. Memang hanya foto- foto biasa. Tampak dokter cantik itu bertemu dengan pria - pria yang berbeda-beda setiap harinya. Tetapi umumnya mereka adalah pria berumur yang mempunyai kehidupan mapan dan sukses dengan usahanya.


Pada foto itu juga, bisa mendapatkan data yang lebih akurat. Apalagi Mumun dengan cerdiknya juga memfoto kendaraan sedan- sedan mewah itu berikutnya nomor polisinya yang terpampang di sana. Jadi pekerjaan Pak Sanad sedikit lebih ringan.


__ADS_2