
" Assalamualaikum, Opa, Oma! " Salam Jenna. Lalu dia mencium tangan kedua pasangan usia senja yang masih rukun dan tampak harmonis.
" Aduh, cicit Oma datang! " Seru Oma Frida senang ketika melihat Efron digendong Suster Feni turun dari mobil. Langkah bayi gemoy itu tertatih - tatih menghampiri mereka.
Bayi gemoy itu mendapat pelukan, ciuman gemas sampai gendongan penuh rasa sayang... Oma memaksa mengendong Efron agar Suster Fani dapat mengeluarkan tas keperluan bayi itu. Sedangkan si Oma minta tolong kepada ART yang ada di belakang rumah untuk membantu mengeluarkan barang - barang yang ada di bagasi Honda Jazz merah itu.
Ruang keluarga di kediaman Adrian Damash itu sekarang menjadi ramai oleh polah tingkah lucu Efron yang ditanggap oleh Oma dan Opa Damash. Apalagi bayi itu tahu kalau dia disayangi oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya itu. Sehingga Efron semakin bertambah caper, alias cari perhatian.
" Ndoro, Non Jenna banyak banget bawa buahnya!" lapor Bik Sum ketika mereka sedang menyiapkan makan siang. Buah-buahan itu bertumpuk di meja dapur.
" Seberapa banyak, Sum?" tanya Oma yang masih sibuk melihat hapenya, karena dia mendapat kabar dari Amanda, anaknya yang ada di Kalimantan.
" Banyak banget, ndoro! Sampai kulkas penuh semua... Kemarin Den Tedi yang mengirimkan obat - obat buat Ndoro Kakung!" lapor ART itu lagi.
Wanita tua itu tersenyum sedih... Justru cucu-cucunya, dari anak sulungnya, Feri Darmawan lebih cepat tanggap... Sampai mereka juga menampung Karolina , bayinya dan suster itu di rumah
nya di Pasar Minggu. Padahal rumah Orang tua Karolina di sebelah juga kosong. Sejak menantunya itu ditempatkan di Kalimantan sebagai tempat dinasnya yang baru.
" Ayo Jenna, Suster Fani makan! Opa sudah makan tadi dengan menu tersendiri!" Kata neneknya itu.
Di meja ada beberapa piring saji menyediakan berbagai menu makanan ... Biasanya Oma Farida menyiapkan menu yang lebih simpel seperti capcay kuah dan daging empal gepuk goreng... pelengkapnya bisa sambal dadak atau sambal botol oleh-oleh,dari berbagai daerah.
__ADS_1
Sejak Opa mulai sehat, banyak jenis makanan yang dilarang dokter untuk dikonsumsi oleh beliau.. Menu diet opa adalah keseimbangan antara karbohidrat, protein dan vitamin....
Sudah lama, di meja makan itu tidak lagi menyajikan menu favorit keluarga Damash, seperti rendang Padang, Soto Betawi, gulai bebek atau makanan berkuah santan lainnya yang berpadu dengan olahan daging atau ayam.
Di meja makan itu sekarang itu lebih banyak menyediakan masakan dari bermacam sayuran-sayuran, seperti karedok , pecel, atau gado- gado... Terkadang salad atau asinan sayur sebagai selingan.
Kali ini di meja itu ada semangkok sayur asam Betawi dengan lauk ikan gabus bumbu balado. Juga ada tahu- tempe goreng. Lauk- pauk wajib setelah telur dan ikan.
Efron disuapi oleh Bik Sum sambil ditunggui Opa Damash. Bayi itu sesekali berjalan di ruang tengah. Tetapi akan kembali ke Mbak Sum bila nasi di dalam mulutnya sudah habis dia kunyah.
" Pintar banget sih Efron makannya? Mau cepat besarnya untuk jaga Mama," ucap Opa Damash, sambil mengelus rambut gondrong Efron yang sedikit ikal.
Selesai makan, Jenna dan Oma pindah ke ruang keluarga. Satu orang ART menyuguhkan buah melon dan buah naga yang sudah dipotong kecil-kecil untuk Opa. Sedangkan di meja lain ada potongan melon yang lebih besar, juga tumpukan anggur yang sudah dicuci bersih menggunakan baking soda agar pengaruh zat kimia dan kotoran di kulit buah itu larut setelah dibilas dengan air bersih.
" Jelaskan, Opa! Jadi Jenna nggak harus bertanya-tanya." ucap Jenna santai.
" Opa senang kalau sekarang kamu mulai waspada saat berada di dalam mobilmu di jalan raya. Hati- hati Jenna!"
" Maksud Opa, mobil Avanza itu sengaja menguntit Jenna?"
Pria itu menghela nafas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. " Bukan keinginan Opa untuk memberi Karolina status janda dalam usianya yang masih muda. Apalagi Efron juga harus kehilangan kasih sayang seorang ayah. " Kata pria itu sedih. " Opa menjodohkan Karolina dengan anak keluarga Zaenudin Hisbillah karena yakin Farhan adalah lelaki terbaik untuk Karo!"
__ADS_1
Jenna tersenyum miris... Dipandanginya wajah Opa yang tampak semakin tua dengan segala permasalahannya yang menimpa salah satu cucu perempuan kesayangannya. " Nyatanya... Lelaki pilihan Opa itu hanyalah lelaki labil yang bisa disebut anak mami!"
" Benar itu! Opa nggak habis pikir mau-maunya Farhan diatur oleh ibunya. Seperti lelaki yang tidak punya pendirian! " Geram pria itu kesal. " Jenna! Opa mendapatkan sebuah informasi tentang pergerakan yang dilakukan secara diam -diam oleh para kakak Farhan... Tanah Parung mulai menjadi sengketa antar keluarga besar Hisbillah, setelah ditawarkan untuk dijual secara online di internet... Jadi sebagian dari anak-anak Hisbillah yakin, kalau keluarga kita ada di belakang kegagalan penjualan tanah kavling itu!"
" Tenang Opa! Jenna sekarang menyadari kalau selama ini menganggap semuanya baik-baik saja! Pantas Opa lebih memilih Karolina dan Efron tetap ada di Pasar Minggu!"
Pria itu tersenyum..." Waspada saja Jenna! Opa percaya kamu mampu melindungi dirimu sendiri... Tetapi tetap bawa alat pelindung diri, ya! Mungkin musuhmu bukan satu atau dua pria saja!"
Ini yang tidak Jenna suka lagi akibat dari perjodohan mereka... Sebuah ikatan pernikahan yang diharapkan banyak memberi keuntungan finansial dari keluarga Hisbillah... Selama pernikahan itu baik-baik saja! Tentu rekanan bisnis Opa pun masih nyaman saja, walaupun sedikit demi sedikit mereka mulai melihat ketidak kemampuan kakak-kakak Farhan mengelola usaha itu. Apalagi membangun proyek besar seperti pendirian sekolah boarding school bertaraf Internasional dengan visi berlatar belakang nilai keagamaan. Proyek itu terlalu besar dan penuh resiko!
Perceraian Karolina dan Farhan juga akhirnya didengar oleh para kolega bisnis Opa. Satu demi satu dari mereka pun mulai mundur dari beberapa proyek bisnis Hisbillah. Termasuk upaya mereka tadinya untuk menyuntikkan dana dalam proyek perumahan yang sedang dibangun oleh Farhan di daerah Banten.
" Tanah itu bukan milik keluarga Hisbillah, Opa? Kenapa jadi ramai, ya?" tanya Jenna lagi.
" Itu Warisan keluarga kakek Hisbillah...Masih ada hak waris untuk adik - adik Pak Hisbillah lainnya... Jadi mereka tidak setuju kavling itu dijual oleh salah satu dari Kakak Farhan tanpa rembukan dulu dengan keluarga besar... Padahal uang itu digunakan untuk untuk membayar hutang bank yang cukup besar! yang merupakan kepentingan pribadi dari anak Pak Zainuddin Hisbillah!"
Lama Jenna tercenung... Dalam pertemanan kakek dengan rekan-rekan bisnisnya itu bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Tetapi ada nilai yang mereka semua yakini, yaitu saling percaya, setia kawan dan persaudaraan. Maklum mereka itu adalah para mantan para membela negara yang pantang menyerah...Jadi mereka lebih suka tidak lagi bergabung dengan beberapa perusahaan milik keluarga Hisbillah yang ada pada praktek sehari-hari menjadi kurang menjaga komitmen.
" Opa sudah menugaskan satu orang untuk menjadi supir pribadi Arunika... selama ibumu masih aktif bekerja... Kalau Papamu, ada satu asisten yang selalu mendampinginya... Di rumah ada yang akan berjaga di depan rumahmu!"
Jenna jadi termangu setelah mendengar penuturan Kakeknya itu. Padahal kesehatannya pun belum pulih betul...
__ADS_1
" Opa tahu, Papamu dan Sungkono bermaksud baik dengan menyembunyikan perceraian Karo dan Farhan selama ini. Tetapi di sini Opa merasa bersalah dan tidak harus diri berdiam diri saja melihat tingkah konyol mantan Ibu Mertua Karolina dan anak menantunya itu!"
Jenna melirik si Oma yang hanya mesem-mesem dari tadi mendengar pembicaraan antara Kakek dan cucu perempuan kesayangannya itu. Apalagi yang menjadi permasalahan kali ini adalah Ibu Nyai, ibunya Kak Farhan dan ketiga kakak laki - lakinya. Tampaknya bibit permusuhan di antara dua keluarga itu akan semakin tumbuh besar, tinggi dan semakin meruncing di masa depan.