
Keadaan Opa mulai cukup stabil setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Bergantian anak- anak dan menantu sang kakek yang menjaga, itu pun hanya sebentar dan diberi pakaian khusus untuk menjenguknya pasien.
Oma selalu bersabar untuk menunggu kesehatan Opa sampai cukup stabil dan dapat dirawat di rumah. Semua atas saran Dokter Arunika melihat tidak kondusifnya keadaan yang terjadi akhir- akhir ini di sekitar mereka. Apalagi kasus covid kembali meninggi, dengan banyaknya pasien yang dirujuk ke rumah sakit ini.
Setelah hampir dua minggu menjalani perawatan, barulah Opa dapat dibawa pulang ke rumah. Tentu dengan telah disiapkannya sebuah ruangan khusus di rumah di Sentul untuk merawat Opa. Tetap harus dengan dijaga dengan tenaga perawat profesional.
Jenna yang mengantar Oma Farida dan Mbak Tum dari apartemen ke rumah neneknya itu di Sentul. Sebab para supir keluarga itu bergerak ke segala penjuru Jakarta dan sekitarnya dengan kesibukan Tante Amanda dan Om Danang menggurus segala sesuatunya.
Kamar di depan itu yang sudah disiapkan untuk ruang pemulihan Opa. Juga satu kamar lagi untuk suster yang merawat Opa beristirahat. Semua peralatan yang ada di sana sudah mirip dengan yang ada di rumah sakit. Peralatan itu dipinjamkan dari sebuah klinik tempat Dokter Arunika bekerja.
"Jenna, kamu nggak mau menjaga Opa di sini?" tanya Oma Farida sedih.
" Oma, Jenna kan harus kerja. Selama seminggu kemarin Om Jhon sudah kasih Jenna dispensasi untuk datang agak siang ke kantor. Kalau bolos- bolos kerja, nanti nggak jadi karyawan teladan? Bonus lenyap, dong..."
Tante Amanda dan Oma berpandangan agak bingung. Jenna kalau sudah mempunyai tekat, susah disuruh mundur. Apalagi dia adalah bagian dari anggota keluarga Damash walaupun menyandang nama keluarga Darmawan. Salah satu pemilik usaha dari sekian pebisnis dan pengusaha besar di Jakarta.
Sebenarnya tanpa bekerja keras pun, nama Jenna ada dalam daftar penerima saham di beberapa perusahaan milik Pak Feri Darmawan. Sebab pria itu tetap memasukkan nama istri, ketiga anaknya dan cucu laki- lakinya sebagai bagian dari kepemilikan saham PT Darmawan Eka Unggul. Perusahaan besar yang memiliki berbagai bidang usaha jasa, keuangan dan industri kreatif yang terus maju pesat. Apalagi sejak kedua anak laki-lakinya, ikut terjun mengembangkan usaha tersenyum ke beberapa daerah di Bali dan Sumatera.
Apalagi jika Jenna nanti memilih untuk bergabung dengan satu perusahaan rintisan sang kakak di Pulau Bali. Meskipun kedua orangtuanya sudah menyarankan Jenna untuk mempelajari ilmu bisnis dengan kuliah S2 di luar negeri. Lagi - lagi gadis itu menolak.
Sayangnya, Jenna lebih suka mempelajari berbagai ilmu bisnis langsung praktek dengan bekerja di perusahaan Om Jhon Sagara, adik bungsu ibunya. Karena perusahaan itu masih terkait dengan kebutuhan wanita, yaitu memproduksi kosmetik untuk wanita.
" Nanti, Jenna usahain datang di Jum'at sore, nginap di sini. Sampai berangkat kerja di Senin pagi!"
" Janji?" tanya Oma kurang antusias.
__ADS_1
" Janji dong, Oma! Apa sih yang nggak buat Oma tersayang..."
Suara helaan nafas Tante Amanda terdengar lega. Sejak Karolina menikah, anak perempuannya itu lebih banyak tinggal di rumah suaminya di Bogor. Farhan sudah lama membangun rumah itu untuk keluarga kecilnya. Tentu setelah dia mengetahui kalau Karolina tidak suka dengan gaya ibunya menerapkan semua peraturan di rumah keluarganya secara otoriter. Sebab sang ayah memang jarang di rumah karena selalu disibukkan dengan urusan partai politiknya yang sudah meluas ke tingkat nasional.
Sekali lagi Jenna menatap Opa yang masih terbaring di kamar tamu depan... Kamar yang cukup luas itu sangat sudah dipenuhi berbagai peralatan medis seperti tabung oksigen, tiang infus dan berbagai obat- obatan yang diletakkan di meja depan, sebelum pintu masuk.
Melihat keadaan Opa yang hanya bisa berbaring selama seminggu ini, membuat Jenna semakin bersedih. Padahal pihak rumah sakit sudah mengerahkan beberapa ahli bedah juga tenaga spesialis jantung terbaik yang dimiliki rumah sakit tersebut untuk menangani operasi tersebut.
Para sanak keluarga yang datang menjenguk Opa hanya diperbolehkan melihat dari daun pintu yang diberi kaca. Para perawat datang bergantian, secara teratur untuk merawat Opa hampir 24 jam penuh.
Hampir tiap sholat Maghrib, Oma dan orang-orang yang bekerja di rumah ini setelah melakukan sholat berjamaah. Mereka menghadapi pengajian dan berdoa bersama untuk kesembuhan Opa Damash.
Di sana ada Oma Farida yang duduk terpaku tak berdaya, antara harapan agar Opa lekas pulih kesehatannya. Juga perkiraan para dokter, kalau usia pasien juga turut mempengaruhi kondisi kesehatan yang belum stabil sampai saat ini.
" Maaf, Bu. Bapak mau bicara dengan Jenna!"
Suara lembut suster Ria mengejutkan orang-orang yang duduk di lantai berkarpet, di depan kamar tempat si kakek di rawat. Oma meminta suster Ria untuk makan malam terlebih dahulu. Sedangkan Pak Min buru- buru mencari keberadaan sang cucu perempuan yang merupakan kesayangan si majikan, Jenna. Biasanya Jena sering duduk di teras samping bersama si Tante Amanda.
" Non, dicari Opa Damash!"
Wajah Jenna menatap tak percaya pada Pak Min. Namun dia terburu- buru dia meninggalkan Tante Manda yang masih menikmati sepiring salad sayur. Juga semangkok bakso yang dipesan lewat online.
Di dalam kamar Opa yang besar dan bersuasana muram itulah Jenna masuk. Walaupun demikian masih ada kabel infus dan satu kabel lain yang masih menyelubungi tubuh pria itu.
Pelan Jenna mengambil kursi plastik dan duduk di samping pasien yang terbaring kaku di ranjang.
__ADS_1
Mata pria itu berkedip menyesuaikan dengan cahaya terang yang sedikit menyilaukan.
" Jenna?" panggilnya.
Suara parau Opa Damash membuat gadis itu tersentak. Ada kekuatan dan kemauan si kakek untuk melewati semua rasa sakit ini, untuk segera sembuh dan melihat wajah cantik cucunya yang menatapnya cemas.
" Opa, apa yang Opa rasakan? Biar nanti Mama yang panggilkan dokter Irawan lagi!"
"'Tenang saja, Jenna... Opa hanya berharap agar kamu tetap dapat menjaga Oma kamu saja..."
" Opa harus bersemangat untuk sehat... Jenna nggak mau Opa ngomong macem-macem, ya?"
Melihat wajah garang sang cucu pria itu tersenyum tulus. Rasa sakit di dadanya selama dua minggu ini akibat operasi yang dijalaninya mulai sedikit berkurang. Tak peduli harga obat- obat yang mahal itu dapat memberinya kekuatan. Memang tubuhnya yang sudah renta, sehingga beberapa penyakit membuatnya menghambat kesehatannya. Namun dia tahu, doa istri dan orang- orang yang selama ini bekerja melayani dan mengurus mereka sangatlah tulus.
" Hanya itu yang ingin Opa sampaikan. Kamu lebih dekat dengan Oma Frida dibanding dengan cucu - cucu lainnya..."
" Opa ngomong apa sih? Jenna sayang kok sama semua keluarga Jenna di sini. Juga Opa dan Oma!"
"Opa tahu. Sayangnya Jenna tak mau mengabulkan permintaan Opa ini. Takutnya Opa tak bisa menyaksikan cucu Opa ini menikah. Apalagi kalau kamu berencana menikah di usia 25 tahun. Sekarang saja masih jomblo, ya!"
"Huh, Opa masih bisa ngeledek Jenna, walau lagi sakit begini. Hm, awas ya . Kalau Opa sudah sehat, Jenna tinggal ke Bali!"
Ancaman itu membuat wajah Opa murung. " Oh, kamu mau liburan ke Bali. Boleh deh! Asal Opa dibawain oleh- oleh yang banyak!"
Suara percakapan Kakek dan cucu itulah selalu melegakan hati Si Nenek. Diantara semua cucunya, memang Jenna yang lebih santai, konyol dan kadang suka meledek opanya itu. Kasih sayang yang terjalin Sejak Jenna masih kecil. Bahkan anak itu pernah bertahun - tahun tinggal di rumah ini, setelah ibunya harus mendalami pendidikan spesialisasi anak di luar negeri hampir selama 3 tahun.
__ADS_1