Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab . 108. Perseteruan Terbuka


__ADS_3

Lidya sudah menerima tugas untuk menjaga salon dan klinik ini selama kepergian Jenna dan Ibu Ismaya. Tampaknya ada orang yang kepo dengan segala kesibukan mereka dalam mempersiapkan si calon model untuk iklan produk kosmetik milik Tante Ismaya terbaru.


Senyum Mbak Lydia menandakan dia merasa puas. Sebab dengan adanya kegiatan yang cukup menyibukkan itu, ternyata tidak melibatkan Dokter Niken sama sekali. Padahal selama bertugas di tempat ini, wanita itu merasa dirinyalah orang yang paling penting dalam segala hal.


Bahkan Ibu Ismaya sendiri yang turun tangan untuk menangani perawatan kulit dan wajah Rara. Malah dia mempercayakan pada Ismaya pekerja yang paling senior untuk mengerjakan mengerjakan facial, lulur dan massage untuk Rara. Semua perawatan itu dilakukan agar Rara tampil lebih fresh dengan tubuhnya yang sehat dan penuh vitalitas.


Dalam seminggu ini, Rara menjalani berbagai tindakan untuk perawatan kulit wajahnya dengan serum tertentu. Sehingga dapat mengembalikan keremajaan kulitnya yang muda, mulus dan cerah. Justru Jenna yang diminta untuk mengawasi sesi tersebut, yang dilakukan oleh Mbak Reni.


Selain sebagai pemilik klinik dan salon kecantikan, Tante Ismaya berkecimpung cukup lama di bisnis itu, juga telah mematenkan hasil racikannya, yang ternyata cocok digunakan para pelanggan salonnya. Sehingga dia dan suaminya berhasil mendirikan sebuah perusahaan kosmetik yang terus berkembang maju sampai saat ini .


Sekarang produk kosmetik buatannya itu semakin beragam saja jenisnya. Dari berbagai produk skin care, alat dan perlengkapan make-up. Mereka juga mengeluarkan produk series untuk perawatan kulit, tubuh sampai rambut.


Tampaknya Dokter Niken agak kecewa, sebab Ibu Ismaya agak meragukan kemampuan profesionalnya di bidang perawatan kecantikan. Padahal selama ini, dirinyalah yang merasa paling tahu, paling pandai dan paling nomor satu, dari rekan kerja yang lainnya. Tak peduli, kalau di klinik ini juga bekerja dua dokter lain, yang lebih senior dan lebih banyak berpengalaman dari dirinya. Yaitu Dokter Nena dan Dokter Amalia.


Dokter Niken tidak menyadari kalau Ibu Ismaya terus memantau berbagai pelanggaran yang telah dilakukannya selama bekerja di tempat ini. Seperti sering telat masuk kerja, sering menghilangkan setelah Jam istirahat makan siang. Terkadang molor sampai satu jam kemudian, baru muncul. Juga sering izin keluar di jam kerja, tanpa alasan yang jelas.


Belum lagi peraturan penggunaan ruangan, dan fasilitas di gedung ini. Sampai peraturan penggunaan alat-alat kecantikan canggih, dengan mesin modern buatan luar negeri. Semua mesin itu pengoperasian membutuhkan seorang teknisi untuk memantaunya. Biasanya mereka memberikan laporan penggunaan alat - alat di ruang perawatan itu kepada Pak Sanusi.


Tentu laporan itu sudah dibaca Jenna, ternyata Dokter Niken sangat ceroboh dan serampangan saat pengoperasiannya. Sehingga ada beberapa bagian yang rusak dan harus diperbaiki. Dari kerusakan kecil saja, suku cadang mesin - mesin canggih itu harganya cukup mahal dan agak sulit didapatkan di pasaran bebas


Sayangnya, sampai saat ini, dokter Niken belum bisa menyentuh atau menjatuhkan nama baik Jenna. Secara tak kasat mata, gadis muda itu merupakan perwakilan dari Ibu Ismaya, si owner dari klinik dan salon kecantikan itu Ismaya Beauty itu.


Apalagi menurutnya, penampilan Jenna itu terlalu biasa, malah bisa dikatakan sangat sederhana. Tidak sesuai dengan image klinik dan Salon " Ismaya Beauty " atau kedudukannya , sebagai wakil pimpinan. Padahal pelanggan di sana, rata-rata berasal dari para wanita dari kalangan atas.


Tetap saja Jenna tak mempedulikan dokter wanita itu, yang mulai kasak-kusuk nggak jelas di belakang nya.


***

__ADS_1


Ketak- ketuk stiletto, dari ujung sepatu Dokter Niken itu terdengar menuruni tangga dari lantai dua, ke lantai satu. Saat itu sudah pukul 12.05, waktunya para karyawan istirahat untuk makan siang, juga beribadah.


Di ruang salon umum, lantai dua masih ada dua pekerja yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Mereka sedang memberikan sentuhan terakhir pada hasil pengecatan rambut itu. Sedangkan pekerja lainnya, sudah bubar haluan dengan dompet dan hape di tangan masing -masing. Mereka keluar dari gedung berlantai tiga itu untuk mencari warung nasi, untuk segera makan siang.


" Mbak Lydia mau makan di warung Ceu Romlah? Ayo! Kemarin kita nggak kebagian pepes ayamnya, nih!" Seru Nanik.


" Bolehlah! Saya juga sudah bosan makan di warung Padang Uda Rizal setiap hari, " ujar Mbak Lydia.


" Bosen?" tanya Nanik bingung. Gadis belia yang menangani bagian manikur dan pedikur di salon itu, menatap wajah seniornya sejenak . " Bukannya dendeng balado dan tunjang Uda Rizal paling top- Marko top, di seantero wilayah ini, ya?"


" Iya, bosen... Lama - lama bisa kanker aku, alias kantongku kering ... Bokek, lah! Makan di sana nggak cukup 20.000, Nanik! Belum tambahan kerupuk, dan segelas es teh manis ...."


Nanik menepuk dahinya. "Ya, elah... Mbak Lydia! Bilang aja kalau bangkrut makan di sana setiap hari, begitu ... Terserah, deh!"


" Ha, ha!" Tawa wanita itu berpotongan rambut pirang sebahu, yang cocok dengan kulitnya yang kuning langsat. Terbahak geli.


" Ya, udah! Ayok, Mbak ... Keburu habis waktu istirahatnya. Mana saya belum sarapan tadi pagi. Jadi tambah lapar ini!"


Kedua wanita muda yang berbeda usia, namun mempunyai polesan make-up yang sama dan gaya rambut berwarna blondie itu berjalan cepat. Mereka melalui trotoar yang ada di sepanjang ruko itu untuk berjalan ke bagian belakang bagian bangunan.


Mungkin karena berjalan terburu-buru, sampai mereka kurang memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sebuah daerah yang cukup strategis dan menjadi pusat kegiatan ekonomi dan bisnis di sana. Karena di daerah itu banyak berdiri gedung perkantoran, tempat usaha sampai Kafe dan resto


Di seberang jalan sana, tampak seorang wanita muda bergaun brokat merah muda masuk ke dalam sebuah mobil sedan Mercedes Benz terbaru berwarna hitam mengkilat. Wanita itu segera duduk di samping kursi pengemudi mobil mewah itu. Dari samping tampak, pria yang mengemudi mobilnya itu berpakaian rapi ala bisnisman. Namun Pria itu juga sudah cukup matang usianya. Kalau kata orang berpenampilan layaknya 'Sugar Daddy.'


Mobil itu bergerak dengan mesin yang getarannya sangat halus. . Meninggalkan kawasan itu terus bergerak ke arah barat, menuju jalan tol Wiyoto Wiyono, yang jauhnya tak sampai 200 meter lagi.


Hanya satu- dua orang, sekilas memerhatikan kejadian tersebut. Salah satunya adalah Pak Bokir, kepala keamanan setempat yang sedang membeli makan siang di warung nasi Padang yang tak jauh dari tempat itu. Satunya lagi, adalah Mumun. Salah satu pegawai kebersihan di toko Bakery and Cake, Cici Amey.

__ADS_1


Toko tempat Mumun bekerja itu, tepatnya ada di seberang gedung Klinik Kecantikan " Ismaya Beauty". Bangunan ruko itu terdiri dari dua lantai, memanjang dari timur ke barat, memenuhi dari blok tersebut.


Di sana terdapat sepuluh ruko, yang berupa toko, dan bagian atasnya untuk tinggal atau layaknya rumah. Bangunan permanen yang cukup mentereng itu mempunyai fasilitas parkir yang cukup luas menampung mobil pengunjung ruko, juga pemilik ruko. Beragam jenis dagangan yang ada di jual pada ruko masing -masing. Termasuk dua minimarket yang cukup terkenal, juga ada di ruko tersebut.


***


Di dalam mobil buatan Eropa milik kakaknya itu, Jenna akhirnya mengenakan headset nya . Sejak mobil itu meninggalnya pelataran parkir di depan salon, Bang Tedi sudah menyetel musik kesukaannya. Yaitu musik Jedug- Jedug yang sejenis dengan irama Alternatif Rock , Punk rock, heavy metal sampai progresif rock....


Nggak kebayang kan, telinga kita harus mendengar semua bunyi-bunyian yang cukup keras itu? Padahal perjalanan dari wilayah Jakarta Utara, masuk tol dalam kota arah Cawang, nanti bersambung di pintu masuk Tol Jagorawi akan memerlukan waktu satu atau dua jam lagi, kira-kira. Selama waktu itu juga, irama musik itu yang harus didengar Jenna dengan telinganya yang super sensitif!


Belum lagi beberapa audio di mobil, itu adalah yang terbaik di kelasnya. Tentu bukan hal yang sulit, kalau Bang Tedi dapat membayar semua hobi dan kesenangan yang mahal itu dengan gajinya. Sebab dia bekerja di perusahaan multinasional, milik ayahnya sendiri.


Huh, untung si calon bad boy ini sangat takut dengan pawangnya! Sang ayahanda tercinta! Kalau nggak, dia bakal menjadi orang yang paling semaunya sendiri sedunia.


Pak Feri Darmawan yang terus memantau dan menuntun anak tengahnya itu dengan mendidiknya ala sparta, sampai menjadi yang seperti sekarang ini! Dari Tedi remaja sampai dia memilih jurusan dia sukai dengan penuh rasa tanggung jawab.


Sekarang si pengemudi tampan rupawan itu, dari tadi nyengir saja kerjaannya. Dia itu paling senang menggoda Jenna, sang adik tercinta. Tetapi orang banyak salah menilai akhirnya terhadap sosok Jenna. Sebab walaupun bertubuh mungil, Jenna menjadi sangat kuat, fisik dan mentalnya. Dia ditempa latihan berat ilmu dasar silat yang diajarkan oleh Opa Damash sendiri. Walaupun dia yakin, Jenna menguasai ilmu silat itu dengan sangat baiknya, mungkin menggunakan senjata rahasianya.


Justru Jenna sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya di keluarga Darmawan, tidak tumbuh menjadi gadis cengeng, manja atau kurang mandiri. Malah lebih dekat dengan Oma Frida dan Tante Amanda yang mengurusnya sejak kecil. Karena kesibukan ibunya sebagai dokter yang harus mengejar berbagai program spesialisasi dengan kuliah agak lama di luar negeri hampir 3 tahun lebih.


" Bangun! bangun!" teriak pemuda itu iseng. Jenna yang memejamkan matanya sejak berangkat tadi terusik. Padahal dia asyik mendengarkan lagu-lagu barat tahun 80 dan 90-An, melirik malas pada abangnya yang suka mengganggunya itu.


" Beli, gemblong sana!" pinta Si Abang itu. Setelah melihat adiknya membuka matanya. Mobil yang dikemudikannya mulai keluar dari jalan tol Jagorawi, menuju pintu luar Ciawi. Jalur di depannya nanti akan terbagi dua jalur, antara Puncak dan Sukabumi.


Di depan mereka, puluhan kendaraan mulai berjalan tersendat menuju arah Puncak. Sedangkan ke arah Sukabumi di lajur kanan jalan itu ramai lancar.


Lelaki itu dengan mahir mengambil jalur paling kiri. Dia akhirnya memperlambat laju mobilnya ketika ada banyak pedagang asongan menawarkan dagangannya,

__ADS_1


"Mang dua bungkus, ya!" Teriak Jenna, sambil menjulur kepalanya dari jendela kaca yang dibukanya separuh. Lebih baik mereka bermacet-macetan sekarang, daripada kena one way. Yang mengharuskan mobil mereka tertahan di tempat ini sampai berjam-jam kemungkinan . Sampai menunggu dibuka sore nanti jalur menuju Puncak.


__ADS_2