
"Make a Wish !" ucap seseorang.
Seruan dari beberapa orang kerabat terdengar membahana bersahutan- sahutan di sudut ruangan sana. Pria itu tetap berdiri tenang di depan sebuah kue tart cantik dengan hiasan dan lilin menyala pada angka 27 .
Wajah tampan pria itu berubah menjadi dingin. Dengan tatapan mata enggan, untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya konyol. Namun si pria yang dirayakan hari jadinya itu dengan pesta kejutan dari kakak perempuan, keponakannya dan kerabatnya itu tidak bisa menolak permintaan mereka. Lihat wajah wajah- wajah para keponakannya, dari usia anak-anak sampai balita berharap banyak untuk lilin itu segera ditiup dan mereka mendapatkan potongan kue ulang tahun itu, lalu segera menikmati makan malam bersama.
Apalagi di sana ada mamanya... Wanita yang sangat tegar setelah kehidupan keluarga mereka dihantamkan berbagai prahara kehidupan. Hampir lima tahun lalu perusahaan mereka bangkrut. Sang ayah berusaha bangkit lagi dengan bantuan modal dari beberapa menantunya. Baru berjalan dua tahun, si ayah jatuh sakit sampai beliau meninggal dunia.
Di saat seperti itulah Miko diharapkan dapat meneruskan perusahaan sang ayah. Setelah dia malang melintang di Bali, membangun resort-resort, restoran dan tempat wisata yang sangat diminati oleh turis mancanegara. Sebab mereka menawarkan suatu destinasi wisata yang berbeda untuk para turis asing.
Saat membuka mata setelah meniup kue ulang tahun yang terpampang di depannya. Terlihat si pria itu melihat kedatangan dua tamu istimewa dari undangan sang kakak. Kedua wanita itu datang langsung dari Jakarta...
" Kejutan!" Jerit Mbak Rosalin keras.
" Selamat ulang tahun!" Ucap Jenna lirih bersamaan dengan suara merdu Tante Ismaya
" Jenna?" tanya Pria berpakaian bagus itu. Dia terlihat memakai kemeja kotak-kotak rapi dengan celana parka berwarna krem muda. Tampaknya inilah pesta kejutan untuk ulang tahunnya yang diusahakan keluarga dan kerabatnya.
Tante Ismaya kaget, kalau adik laki-laki Rosalin itu kenal dengan keponakannya, Jenna. Wanita cantik berbaju merah itu menarik kedua tangan tamunya itu untuk mendekat. Mereka menikmati potongan dari kue ulang tahun itu yang sedang dikerjakan oleh seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan gesit, dan berdandan apik. Sang Tante, adik dari Ibu Cindi.
__ADS_1
Suasana berubah jadi hangat, ketika para pelayan mulai menghidangkan berbagai makanan di atas meja besar di sudut kafe. Sengaja mereka meletakkan berbagai makan yang sudah dipesan itu di sana. Agar para tamu dapat mengambil makanan secara prasmanan. Tentu mereka dapat memilih sendiri hidangan yang diinginkan.
Para tamu mulai mengambil piring atas instruksi Mbak Rosalin si pencetus acara. Setelah mengambil makanan mereka berkelompok di beberapa meja dengan beberapa kerabat yang lainnya.
Berbagai hadiah untuk orang yang berulang tahun sudah ditumpuk dalam sebuah keranjang rotan. Pada umumnya bentuk - bentuk kado itu tidaklah terlalu besar. Hanya Jenna yakin di dalam bungkus kado yang berbentuk kecil itu pasti ada jam tangan mahal, dasi , dompet dan berbagai aksesoris yang biasa dipakai seorang pria pada umumnya. Tentu harga kado itu juga nggak kaleng - kaleng. Maklum pemberian dari kerabat dan keluarga Mbak Rosalin yang dikenal sebagai keluarga kaya raya.
" Ini Jenna cucunya Pak Andrian Damash, ya?" tanya seorang wanita wanita paruh baya berusaha mengenali sosok Jenna malam itu.
" Iya, Ma. Ternyata Jenna ini keponakannya Ismaya! Jadi Ismaya ini menikah dengan adik Mamanya Jenna. Keluarga mereka ternyata dokter semua lho, Ma!"
" Lalu siapa yang meneruskan karier Pak Damash di militer?" tanya Wanita paruh baya itu adalah ibu dari Miko dan Rosalin
Wanita itu memeluk Jenna dengan penuh rasa sayang... " Apa kamu ingat Jenna? Saat itu keluarga kami mengadakan suatu resepsi pernikahan di suatu gedung ...Kamu yang mendorong Miko sehingga jatuh ke dalam kolam di dekat altar...Jas yang dipakai Miko basah kuyup!"
"Maaf, Bu... Miko mungkin waktu itu menggangu saya... Tetapi seingat saya, yang mendorong Miko itu bukan saya. Tetapi Karolina!"
" Ya, ampun! Pantas Mama marah-marah terus sepanjang pesta...Dan Miko terlihat seperti tikus kecebur got! Jadi pelakunya Karolina?" tanya Rosalin terkejut.
Si Ibu menatap Jenna..." Yah, kamu waktu itu masih sangat kecil. Mungkin usiamu belum empat tahun ...Nggak mungkin gadis kecil yang cantik dan lucu itu dapat mendorong anak laki-laki berumur 9 tahun dan cukup gendut badannya ke kolam air mancur buatan itu. Kalau tidak dibantu orang lain!"
__ADS_1
Akhirnya semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak, ketika Mama Cindy, ibu Miko menceritakan nostalgia itu. Tentang jatuhnya Miko ke dalam sebuah kolam ikan yang menjadi salah satu bagian dari dekor dari hiasan pesta yang bertema outdoor di sebuah taman di pinggir pantai.
Acara itu dilaksanakan menjelang senja karena mengambil momen saat sunset. Pernikahan adik bungsu Bu Cindi itu menjadi berita yang cukup menarik perhatian orang banyak. Karena anak bungsu Pak Ramon Sugandi itulah yang mengembangkan perusahaan peninggalan sang kakek di bidang ekspor impor sehingga menjadi sangat besar dan membuka cabang hampir di semua cabang di kota-kota besar di Indonesia.
Hampir semua orang kesal kepada Miko, karena bocah laki-laki yang agak nakal itu sebenarnya harus maju ke depan altar untuk mengantar sepasang cincin kepada pasangan pengantin itu, setelah mengikat janji.
Sepanjang jalannya upacara pernikahan, bocah gemuk berusia 9 tahun itu hampir menangis. Dia terus mendapat omelan dari kedua orang tuanya. Sebab mereka tidak bisa mengganti jas basah yang dipakai anak bungsunya itu.. Sedangkan gedung di dekat pantai ini yang dipakai buat acara resepsi itu sangat jauh dari hotel tempat keluarga mereka menginap.
Yang membuat Miko semakin sebal! Sepanjang acara berjalan, Jenna duduk anteng di pangkuan Oma Frida. Tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sesekali gadis cilik yang imut itu memandangi bocah gendut itu yang terus melotot padanya, menahan marah. Anak laki-laki itu merasa dendam karena dipermalukan seperti ini.
Padahal Bapak Ramon Sugandi telah mengundang keluarga Damash, ke Surabaya ini sebagai tamu kehormatan. Kedua pria itu pernah menjadi sahabat dan rekan kerja di sebuah daerah di luar pulau Jawa. Mereka adalah para tentara yang sangat tulus, bekerja dan berjuang untuk mengabdi kepada tanah airnya.
Miko tidak tahu, ada gadis lain yang seusia dengan dirinya juga duduk diapit dengan kedua orangtuanya, tidak jauh dari Kakek- nenek mereka. Di sana ada Tante Amanda, suami dan ketiga anaknya yang turut hadir dalam pesta pernikahan mantan atasan suaminya itu.
" Kami sudah lama mencari nama Jenna dalam media sosial keluarga Adrian Saputra Damash... Tetapi tidak terlalu jelas data itu..." Kata Ibu Cindy galau. " Apalagi sejak Opa Sugandhi tiada hampir sepuluh tahun... Anak laki- laki dan para cucunya tidak ada yang berminat mengikuti jejak sang kakek!"
Tante Ismaya menyela.." Nama belakang Jenna bukan Damash, Bu! Pak Damash menikahi Istrinya, yang saat itu sudah menjadi janda dan mempunyai seorang putra.. Anak itu membawa nama Darmawan... Nama Feri Darmawan adalah nama ayah Jenna!"
Jenna masih tersenyum manis. Biar Tante Ismaya yang menjelaskan semuanya. Hampir semua kerabat dan anggota keluarga diajarkan oleh ayahnya itu untuk berbisnis. Mereka dapat belajar apapun di perusahaan utama milik Feri Darmawan itu. Sampai mereka cukup mampu untuk membuka usaha sendiri. Seperti juga Tante Ismaya dan suaminya yang berhasil mengembangkan berbagai produk kosmetik hasil racikan sendiri. Usaha itu semakin berkembang sampai mereka mendirikan pabrik kosmetik itu di Tangerang dan Bekasi.
__ADS_1