Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 52. Sisi Kehidupan Jenna


__ADS_3

Sejak tiba di salon pagi tadi, Jenna sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan setumpuk pekerjaan yang ada di atas mejanya. Jengah dia dengan statement perjodohan yang diucapkan si Mama kemarin.


Betapa enaknya orang tua, hanya mencari pasangan untuk anak mereka dalam perjodohan itu hanya berdasarkan kesepakatan bersama, antara kedua pasang orang tua yang akan menjadi besan itu... Apalagi kalau di antara mereka sudah mempunyai persamaan dan kesesuaian dengan bibit, bobot dan bebet nya.


Apa mereka tidak mengetahui? Bagaimana merasakan sulitnya bagi pasangan yang menikah karena perjodohan itu harus beradaptasi dengan cepat untuk menjalani kehidupan mereka dalam suatu ikatan rumah tangga.


Jenna justru mendapatkan contoh itu dari kehidupan pernikahan Karolina! Padahal sepupunya itu dapat go internasional dengan karier bagusnya di dunia mode tanah air. Hanya karena tersandung masalah kedekatannya dengan seorang aktor yang lewat masa kadaluarsanya. Pria itu berusaha merangkak naik lagi di dunia film dengan memanfaatkan keluguan Karolina. Agar hubungan tak wajar itu menjadi konsumsi publik, dan nama si Casanova itu ramai dibicarakan orang. Jadi Karolina terpaksa mundur, demi menjaga nama baik keluarga. Setelah gosip tak sedap itu terus berhembus selama pembuatan sebuah film dengan Karolina, sebagai bintang pendatang baru.


Sampai Opa melihat, salah satu dari relasi bisnisnya yang dari Bogor, mempunyai anak yang tertarik dengan Karolina. Jadilah upaya si kakek mendekatkan mereka. Walaupun kedua keluarga mereka mempunyai latar belakang kehidupan yang sangat berbeda dan bertentangan.


Karolina terbiasanya hidup di lingkungan keluarga militer. Selalu dijaga, dihargai dan dihormati. Sebab kakek dan ayahnya adalah seorang tentara. Sedangkan Farhan, berasal dari seorang kakek, keturunan ulama besar dengan latar belakang pendidikan Agama Islam yang sangat fanatik.


Sekarang saja, si Opa saja sampai jatuh sakit karena kepikiran dengan ikut campur tangan ibu mertuanya Karolina. Didalam rumah tangga cucu kesayangannya itu. Si Mama mertua merasa yang paling berpengalaman dalam segala hal persoalan rumah tangga. Kadang sikap Farhan yang netral pun menjadi dilema. Antara mengormati si Ibu, sebagai wanita yang telah melahirkannya dengan kenyamanan, juga kewarasan jiwa sang istri yang baru saja melahirkan anaknya.


***


" Pamali, Neng Jenna. Pagi- pagi sudah ngedumel. Ntar cantiknya pindah ke aku, lho?" Tegur Teh Risa mengejutkan Jenna.


" Siapa yang marah- marah, Teh? Ini lagi latihan baca naskah drama, kok," Jawab Jenna iseng.


Tiba - tiba wajah wanita itu menjadi cerah ceria. " Jadi berita itu benar, ya? Memang Neng Jenna mau jadi artis gitu!"


Ya, Jenna kaget dong. Dia itu paling tidak suka dengan pekerjaan yang harus menunggu lama tanpa suatu kegiatan yang mengeluarkan energi. Belum lagi ditonton banyak mata hanya untuk menampilkan suatu watak tokoh cerita , yang jauh dari kepribadian diri kita sendiri .


" Itu, di meja Mbak Arini. Ada foto - foto Neng Jenna jadi artis. Pokoknya, eh. Mantap!"


Mau tak mau, Jenna mengikuti Teh Risa yang membawanya ke lantai satu. Di meja resepsionis ada bermacam- macam gulungan poster yang dikirim kemarin dari Salon Pusat di Kelapa Gading. Tertulis nama pengirimnya adalah Mbak Tya.


Tak Sabar, Teh Risa membuka gulungan poster itu yang terkecil berukuran A4. Yang terbesar ukurannya 1m x 75 cm.

__ADS_1


Benar saja, di meja itu terhampar foto - foto wajah Jenna dalam beberapa sesi... Dari bergaya ala fashion street anak nongkrong dengan gaun Korean Looks, wanita muda mandiri yang ada di tempat kerja , hangout di sebuah kafe. Yang terakhir, sampai yang terakhir bergaya ala Puteri Indonesia.. Dengan gaun malam dari brokat perak, rambut terurai lengkap dengan crown di atas kepala itu.


Di sana ditampilkan wajah- wajah cantik Jenna dengan makeup yang berbeda, juga menampilkan karakter yang berbeda-beda.


" Ini Mbak Jenna? Kok lebih mirip artis pendatang baru. Perfek!" Seru suara yang lain.


Tiba-tiba saja, hampir semua para pekerja salon sudah berdatangan dan berkumpul di ruang penerima tamu ini secara bersamaan. Mereka masing - masing mengutarakan pendapat, komentar juga kritikan.


Maklum Jenna jarang tampil dengan makeup full seperti di foto itu.


Ternyata hasil foto itu diluar ekspetasi Jena. Tangan terampil Mbak Rosalin, mampu mengubah wajah lugu Jenna dengan sapuan kuas dan seperangkat alat makeup ... Gaun - gaun yang dikenakannya pun rancangan desainer muda yang mulai kondang namanya. Juga keahlian fotografer Mas Topan, pria asli arek Surabaya itu yang dipilih Mbak Rosalin itu. Telah mampu menampilkan kecantikan seorang Jenna yang sangat cemerlang. Dibawah jepretan kamera mahalnya.


Padahal team mereka bekerja sangat cepat. Hanya 3 jam. Mas Topan hanya mengarahkan saja, Jenna sudah bergerak menghayati peran yang sesuai dengan gaun dan makeup yang harus ditampilkannya.


" Bagaimana ini, Mbak Jenna ... Mbak Tya berpesan agar sudah dipasang semua hari ini?"


" Terserah...!" Jawab Jenna pasrah.


" Tante, Ini Jenna!"


" Iya, ada apa sayangku?"


" Soal poster fotoku, kok.. Sudah sampai di salon?"


" Sorry, sayang.. Tante itu gemes lihat foto-foto kamu yang ada di Rumah kecantikan dan salon Rosalin. Jadi Tante Minta dibikinin juga, untuk salon dan di kantor...."


" Ih, Tante nggak bisa! Apa janjinya?"


" Oke, deh. Tante Janji! Gaji dua kali lipat ya bulan ini. Tetapi foto- foto itu dipasang. Boleh, ya. Sayang?" bujuk manis wanita itu.

__ADS_1


" Ya, sudah. janji? langsung transfer kan?"


Ada suara tawa renyah dari wanita itu di seberang sana. Ugh, ini belum berita bagus ya.


" Jenna, apa kamu tidak mau coba terjun di bidang model saja. Tidak terlalu komersial seperti Karolina. Pasti kamu akan berhasil, Tante akan menjadi manajer... Bagaimana?"


"'Tante, jangan serakah sama rejeki orang lain, dong! Sudah punya salon, pabrik kosmetik, pengusaha. Ini mau jadi managerku lagi? Ntar Om Jhon melirik cewek lain, lho! Sebab istrinya sibuk bekerja 24 jam, nggak mau ngurus suami, anak ...."


" Jenna! " jerit si Tante Ismaya kesal.


" Makanya, Tan. Aku nggak tertarik jadi model. Mau dibayar satu mobil baru juga nggak. Capek!"


" Ya, sudah. Nanti suruh OB atau security untuk pasang poster dan foto itu"


" Ya, Tante..."


Tak lama terdengar notifikasi di hape yang menunjukkan si Tante telah mengirim sejumlah uang yang diminta. Hanya saja Jenna tidak tahu, kalau foto- foto dirinya itu juga diminati oleh seorang wanita yang telah melahirkannya 22 tahun yang silam.


Wanita itu selain kagum juga terharu. Bayi perempuan yang dulu ditimang, kini sudah menjadi gadis dewasa. Sampai wanita itu memilih foto yang terbagus untuk dipindahkan ke kanvas dalam ukuran besar.


Sementara poster besar Jenna yang bergaya ala Puteri Indonesia itu sudah terpasang di dinding ruang salon lantai dua, sebagai pusat dari pelayanan salon tersebut. Foto - foto yang lain disetting ala cover majalah mode, dipasang vertikal dan horizontal di ruang resepsionis.


Bagi orang yang tak mengenal Jenna, mereka hanya berpikir kalau wajah cantik di foto itu adalah model pendatang baru. Lain halnya bagi yang mengenal. Jenna itu bagai mempunyai bersaudara kembar yang berbeda bagai langit dan bumi.


Foto yang dipesan oleh Dokter Arunika Jelita Fitri juga telah dipasang di ruang keluarga kediaman Feri Darmawan. Foto Jenna berada di tengah di apit oleh foto dua kakak laki- lakinya yang telah terpasang lebih dulu di sana.


Mereka difoto dalam rentang usia yang sama 21 menjelang 22 tahun.


Foto si kakak sulung, AJi Bayu Darmawan, mengenakan jas abu- abu muda yang dipakainya setelah dia selesai diwisuda di sebuah kampus bergengsi di Kota Bandung. Sedangkan foto Tedi Dwi Yan Darmawan, di foto dengan kemeja rapi saat dia berhasil mempresentasikan rancangan proyek pertamanya di sebuah perusahaan asing di Jakarta.

__ADS_1


Tentu saja yang rasa kagum itu tidak hanya dimiliki oleh kedua orangtuanya. Para ART pun kagum melihat kecantikan Jenna dalan pulasan makeup sempurna dan gaun indah yang menampilkan sisi feminim sebagai gadis dewasa di usia menjelang 22 tahun.


__ADS_2