Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 87. Harus Bertindak Tegas


__ADS_3

Segala ucapan Karolina itu membuat Jenna dan Kakaknya tersenyum... Dulu mereka berbaik hati pada Opa Damash karena berbisnis dengan hasil yang cukup menguntungkan bagi perekonomian keluarga Hisbillah.


Tampaknya Ibu Nyai lupa, kalau Opa hanya membantu sebagian dari bisnis Fery Darmawan si anak sambungnya... Kekuasaan ayah Jenna itu sudah semakin besar. Sehingga berbagai cabang usaha dipegang oleh kedua anak laki-lakinya, Mas Ajie Bayu dan Bang Tedi. Sedangkan perusahaan di sektor pertanian dan hasil bumi dipegang oleh pakde dan om dari pihak kedua keluarga orang tuanya.


Para adik ipar dan keponakan memegang berbagai usaha yang lebih kekinian yang merambah di bidang kecantikan, fashion dan jual beli barang- barang import seperti perhiasan dan jam tangan.


Kalau mereka berani menyakiti Karolina, sama saja mereka menyakiti keluarga besar Damash dan Darmawan. Jadilah ayahnya Jenna dan ayah Karolina bersatu dan memukul mundur usaha dan perlawanan anak- anak dari Si Ibu Nyai itu. Yang hanya bisa mengambil keuntungan dari penyatuan pernikahan adik bungsunya itu. Tanpa memperdulikan timbal baliknya.


" Sebentar!" pinta Bang Tedi... Dia segera masuk ke dalam restoran dan keluar lagi untuk mendampingi kedua wanita itu. Si Pengacara dan asistennya itu menuju mobil sedan milik Karolina.


" Kita cari makan siang, di tempat yang lainnya saja ... Mereka bukan orang yang mudah diajak bicara secara baik-baik!" ujar Bang Tedi gundah.


Pria itu meminta Marvin mengemudikan mobil sedan Mercedes Benz milik Karolina untuk membawa kedua wanita itu ke sebuah rumah makan yang telah mereka sepakati... Sedangkan lelaki rupawan itu mengambil alih kemudi yang dipegang Jenna.


" Karo tolong duduk di belakang jaga Efron... Biar mobil ini aku yang bawa!" Perintah Bang Tedi halus


Dua mobil itu beriringan menuju ke sebuah restoran yang lain di bilangan Selatan Jakarta. Tetap saja yang dipilih adalah restoran dengan masakan ala Nusantara. Tetapi kali ini dipilih tempatnya yang lebih bernuansa modern.


Dari jauh ada sepasang mata yang mulai mengenali sosok Jenna dan anggota keluarga Damash lainnya itu. Pria itu sejak tadi duduk tepat di balik kaca jendela besar restoran itu yang masih memperlihatkan pemandangan di area luar restoran. Walaupun tertutup oleh pot- pot besar berisi tanaman hias.


Tampak pria itu seperti menelpon seseorang.. .. Sementara Honda Jazz merah itu bergerak keluar dari area restoran mengikuti mobil sedan mewah yang berjalan lebih dahulu di depannya.

__ADS_1


Sementara di bangunan belakang restoran, Ibu Nyai tergesa-gesa membayar semua tagihan di meja kasir. Walaupun Jenna dan Karolina tak menyentuh seujung kuku pun minuman es teh dingin yang sudah mereka pesan sebelumnya. Namun pesanan itu juga harus dibayar beserta dua menu makan siang yang telah mereka habiskan sambil menunggu kedatangan keduanya itu.


Mata Ibu Nyai itu menyala penuh dendam kepada sosok tubuh pria tampan dan sedikit angkuh itu. Lelaki yang merupakan kakak Jenna, juga kakak sepupunya Karolina! Dia lebih berpandangan tajam dalam permasalahan ini.


Susah payah si Ibu Nyai itu mencari pertolongan pada seseorang kyai untuk melunakkan hati Jenna. Segala usaha dan upaya telah mereka tempuh dalam 4 bulan ini, untuk menutupi perekonomian keluarga yang mulai morat-marit. Beserta datangnya tagihan bank yang terus beruntun.


Pak Hisbillah pun sudah ketar-ketir karena dana yang diperlukan untuk mempersiapkan dirinya dalam kampanye musim pemilihan tahun ini, sama sekali belum ada serupiah pun ada di tangannya.


Tagihan besar mulai berdatangan ke rumah mereka dari beberapa bank. Karena dana besar yang mereka pinjam untuk pembangunan boarding school itu. Sebuah proyek ideal untuk mendirikan sekolah dengan latar belakang agama yang mengusung nama besar kakek mereka. Seorang tokoh agama Islam dan tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh di kota itu. Belum lagi pembiayaan renovasi masjid di area pemukiman keluarga Hisbillah yang belum rampung semuanya karena terkendala biaya.


Farhan terduduk lemas. Penjualan rumah tinggalnya ternyata sudah sampai di telinga Jenna. Tetapi separuh uang itu tidak langsung dimasukkan ke dalam rekening mantan istrinya itu. Malah habis terpakai untuk kebutuhan makan keluarga besarnya sehari-hari.


Si Ibu Nyai memasukan sisa ramuan itu yang tersimpan dalam plastik itu ke kantong tas tangannya yang berharga puluhan juta. Tas mahal kebanggaannya itu sering dibawanya ke berbagai kegiatan sosial dan pertemuan pengajian.


Sebagian besar isi ramuan itu tadi sudah dimasukkan ke dalam minuman untuk Jenna dan Karolina. Tetapi mata Jenna begitu awas. Sampai dia pun tak mau duduk bersama mereka lagi. Juga melarang Karolina untuk menyentuh minuman dan makanan yang sudah mereka sediakan. Biasanya dalam hal ini Karolina patuh atas kewaspadaan Jenna.


" Dia lebih berbahaya dari kakek dan ayahnya!" bisik Ibu itu setelah mereka duduk kembali ke dalam mobil anak bungsunya itu.


" Maksud Mami, Jenna sangat peka dengan keadaan sekitarnya...Lihat saja wajahnya yang tampak keheranan ketika Mami menyapanya dengan sopan!" ujar Ibu itu memberi alasan tentang kegagalan rencana mereka yang terbilang agak maut itu.


" Terserah Mami mau apa! Bulan depan kita sudah tidak punya uang lagi untuk membayar tagihan dari bank B*A. Mami harusnya tahan dulu untuk tidak mengajukan pinjaman lainnya, sebelum yayasan pendidikan yang dipimpin Bang Achdiat itu dapat balik modal!"

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta kembali ke Bogor, Farhan terus menggerutu. Mereka salah perhitungan dengan menemui Karolina dengan ancaman untuk menurut pengambil alihan hak asuh Efron. Justru Tedy Darmawan membawa. wanita pengacara itu, dengan berbagai berkas tuntutan dari pihak Karolina. Tak satu pun dari tuntutan yang sudah disetujui oleh hakim pengadilan agama itu dapat dipenuhi oleh pihak Farhan Hisbillah. Oleh karena itu, asisten Ibu Endang tadi memvideokan tuntutan itu dan akan melaporkan ke pihak yang berwajib. Karena Bang Tedi telah mendapat kartu As dengan video pernikahan Farhan dengan anak seorang pemimpin pesantren di daerah Banten itu.


" Sudahlah Farhan, kamu jual mobil ini! kirim separuh dari harga rumahmu itu untuk Karolina! Kalau nafkah untuk Efron lupakanlah... Bukankah Erina sudah hamil?"


" Iya, tapi masa Farhan harus melobi para pemilik modal untuk membiayai proyek perumahan di Banten dengan mobil butut, Mami? Yah, orang juga sudah menilai kalau proyekku itu abal-abal ... Pemiliknya saja tidak bonafid!"


Kesal, dipukulnya bahu anaknya itu dengan kuat. Padahal mereka masih berada di jalur lalu lintas kota Bogor yang cukup ramai di siang itu.


" Mami, hati-hati ! kita masih di jalan ini. Mau mendapatkan kecelakaan main pukul tangan orang yang sedang memegang kemudi! " Ancam Farhan kesal.


" Susah ngomong sama kamu, Farhan! Proyek kamu terlalu itu terlalu idealis sampai membutuhkan banyak modal dengan menjual sebagian dari harta kita! Mengapa dulu kamu nggak mau memegang saja salah satu jabatan di perusahaan miliknya Pak Feri, sih!"


" Pak Feri itu hanya pakdenya Karolina, Mi! Pabrik itu bukan milik Pak Adrian Damash, apalagi ayahnya Karolina kan masih aktif jadi tentara.. Sedangkan pabrik yang di Bogor dulu juga jadi rekanan Bang Imron dan Bang Helmi. Karena paksaan Mami agar aku menikahi Erina , jadi keluarga Karolina sangat tersinggung sampai menjual pabrik itu ke pihak lain!"


" Sudahlah, Farhan! Jangan merengek terus, kayak anak kecil ... Ujung - ujungnya Mami juga yang disalahin! Sekarang kamu pakai otakmu itu untuk berpikir. Kamu kira biaya kuliahmu yang mahal itu Mami bayar pake daun apa! Payah..." Balas wanita paruh baya itu.


Kepalan Farhan terasa sangat mumet. Segala upaya untuk membayar hutang mereka belum juga mendapatkan jalan keluarnya. Hal ini sudah ditambah dengan masalah baru, yaitu tuntutan Karolina pasca perceraian mereka.


Pertengkaran itu tetap berlangsung sampai mereka masuk ke dalam rumah. Berbagai usaha yang telah mereka jalankan selama ini telah menemui jalan buntu. Terpaksa Farhan harus menjual kendaraan kesayangannya itu.. Itulah jalan satu-satunya. Apabila dia tidak dapat memenuhi tuntutan Ibu Endang, S.H, si pengacara Karolina itu. Farhan sangat takut dengan ancaman itu, sebab mereka akan melaporkanya ke pihak yang berwajib. Tentu dengan tuntutan hukuman penjara.


Bukan saja Farhan takut akan kehilangan kebebasannya. Tetapi reputasi dan nama baiknya akan hancur sebagai pelopor pengusaha muda di Kota Bogor ini. Sesuatu yang memberinya rasa bangga dan percaya diri yang besar. Sehingga dia banyak menjual akses keluarganya untuk membuka proyek perumahan di sebuah daerah di Provinsi Banten. Sebuah proyek yang impian terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2