
Mereka mampir sebentar ke rumah Jenna di Pasar Minggu untuk mengantarkan dokter Arunika pulang. Sebab wanita itu masih harus bertugas praktek di sebuah klinik, sore harinya. Belum lagi tugas yang lainnya yang membuat wanita cantik di usia awal lima puluhan itu tetap aktif sehari- hari. Sebagai ibu rumah tangga, sekaligus wanita Karier.
" Opa mau istirahat dulu, atau langsung balik ke Sentul?"
Wajah Opa Damash masih terlihat pucat. Dipapah oleh Pak Min, si Opa akan beristirahat dulu di rumah anak sambungnya itu, Feri Darmawan.
Segeralah Ibunya Jenna itu menyiapkan sebuah ruang tidur tamu untuk bapak mertuanya itu yang ada di lantai bawah. Takut pria itu sudah terlalu letih dengan berbagai prosedur dan test tadi yang dijalaninya di ruang pemeriksaan rumah sakit.
Seperti biasa Jenna segera masuk dapur dan meminta ART yang bertugas masak hari ini menyiapkan pesanannya. Satu mangkok mie instan kuah dan komplit. Isinya bisa bermacam- macam sayur, potongan bakso , telur sampai cabe rawit merah yang diiris tipis.
Si Oma hanya senyum-senyum saja melihat Jenna menyantap makanan yang biasanya disiapkan dokter Arunika untuk para pekerja di rumah ini... Namun sejak anak-anaknya tumbuh dewasa, Mamanya Jenna itu sudah agak sedikit mengendorkan peraturan tersebut. Melarang mereka makan mie instan dan junk food! Itu pun hanya sekali sebulan saja. Sebab wanita itu ingin anaknya makan dengan makanan yang bergizi dan sehat. Saat mereka masih dalam masa pertumbuhan.
" Ini, Ndoro , teh manis hangatnya!"
Si Nenek menolak dimasakkan mie instan serupa. Mbak Tum sedang menyiapkan semangkok besar gado- gado yang menjadi menu makan siang di rumah ini hari ini.
" Bolehlah kalau gado- gado itu, Mbak! Nggak pedas kan?" tanya Oma.
" Ndak pedas, Ndoro!" ujar Wanita itu yang tahu latar belakang Nenek Jenna yang masih mewarisi darah biru dari keluarganya.
" Sudahlah, Mbak Tum! Kayak Zaman penjajahan aja! Pake panggil Ndoro, Tuan atau Nyonya! Panggil Oma Frida juga boleh, kok !"
" Nggak enak, Non! Nanti dimarah Pak Feri..."
Oma jadi tertawa geli. Mau bagaimana lagi? Semua orang yang bekerja di rumah ini akan selalu menyebutnya nyonya besar, karena dia adalah ibunya Feri Darmawan sang majikan.
Lain halnya kalau ada ART yang berasal dari Jawa akan memanggilnya Ndoro sebagai rasa penghormatan. Apalagi bila melihat latar belakang Oma Frida yang pernah menikah dengan pria berketurunan bangsawan dari Yogyakarta. Namun sayangnya pernikahan itu tidak direstui oleh keluarga suaminya. Hanya karena orang tuanya berasal dari kalangan rakyat biasa dan mencari nafkah dengan berjualan sembako di sebuah pasar tradisional.
" Jangan banyak- banyak, Mbak Tum! Ndak usah pakai lontong. Sayurannya saja!"
Jenna melihat Mbak Tum menyerahkan sepiring gado- godo hasil olahannya kepada ibu majikannya. Neneknya cukup menikmati gado- gado itu sesuap demi sesuap.
__ADS_1
Mungkin sejak Opa sakit, selera makan si Nenek juga ikut menurun. Kalau dulu dia dulu dapat menggurus langsung suaminya yang menjalani operasi jantung di Singapura, didampingi anak perempuannya.
Kini keadaan berubah, Mamanya Jenna berperan besar dalam tindakan operasi itu. Dia melarang ibu mertuanya mengurus suaminya itu. Sebab tubuhnya juga sudah tak segesit dulu. Apalagi dia mempunyai riwayat penyakit ginjal. Ditambah wabah covid ini, sehingga banyak sekali hambatannya.
Dari lantai atas, dokter Arunika turun tangga. Dia sudah mandi dan berganti pakaian rapi dan anggun. Sebentar lagi dia akan pergi ke tempat prakteknya di kawasan Lebak Bulus.
" Ma, Kalau Papa sudah bangun. Mau balik Ke Sentul silakan! Jenna masih mau menunggu di sana? Kemarin mobilmu sudah diantar oleh Asisten Tantemu!"
" Oke, Ma!" jawab Jenna.
Oma dan suster Yenni mengurus semua keperluan Opa, sebelum mereka bersiap-siap kembali ke Sentul. Mereka sudah menyelesaikan makan siang di rumah Jenna. Bahkan Mpok Iis membawa sekantong somay pesanan Jenna yang dibelikan oleh suaminya di warung langganan mereka di depan kompleks.
Rumah kembali sepi setelah rombongan itu meninggalkan rumahnya menjelang pukul 15.00. Jenna merasakan kesunyian itu lagi. Sesuatu yang tidak terlalu disukainya sejak dulu. Apalagi kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Di rumah besar berlantai dua ini hanya ada tiga penghuninya saja. Jenna, Mama dan Papanya. Selebihnya yang berkeliaran di sini adalah para ART. Dari yang membersihkan rumah sampai kamar- kamar. Yang mengurus cucian dan setrikaan , sampai menyiapkan masakan dipegang masing - masing oleh satu ART.
Dua orang supir selalu bersiap sedia untuk membawa mobil kedua majikannya.. . Sementara di garasi masih ada tiga mobil lain milik anak majikannya yang jarang digunakan. Kecuali si anak datang dan menginap di Jakarta.
" Pak Rum anak- anak ada di rumah?"
" Ada, Mbak. Mereka baru saja selesai belajar daring."
" Si Netta, boleh saya ajak keluar kan, Pak?"
" Boleh aja, Mbak... Dia mah malah kesenangan diajak jalan keluar terus sama Mbak Jenna. Mau berangkat sekarang, Mbak? Biar saya panggilkan anaknya untuk siap - siap!"
" Boleh itu, Pak."
Jenna kembali masuk ke dalam rumah... Sempat diambilnya sebuah kunci mobilnya yang diletakkan di laci di bawah rak televisi. Di kamar, dia berganti pakaian yang lebih nyaman. Sambil mengisi tas selempangnya dengan dompet, hape dan beberapa barang pribadinya.
Entah kalau dia harus berhenti kerja! Tentu akan banyak waktunya yang akan terbuang sia-sia. Jenna sudah lama ingin mempunyai usaha sendiri. Jadi sebenarnya dia belajar banyak di perusahaan Om Jhon. Cuma dia tidak tahan dengan berbagai gosip miring di kantor yang berseliweran tanpa ada yang mengetahui dari mana sumbernya, sampai gosip itu tersebar merata ke seluruh penjuru.
__ADS_1
" Mbak Jenna?" panggil Netta di depan pintu kamarnya. Gadis kecil berusia 10 tahun ini adalah best friend nya. Anak kelas 4 SD ini cepat tanggap dan mudah beradaptasi. Dia juga yang sering menunggui dokter Arunika bila tidak di rumah tidak ada orang.
Terkadang dia ikut nenek dan Bu dokter Arunika berbelanja di pasar tradisional. Sebab Mamanya Jenna ini sangat suka berbelanja di pasar untuk mendapatkan sayuran dan buah-buahan yang segar.
Jenna membawa Netta ke sebuah supermarket. Kemarin, Bang Tedy sudah mentransfer sejumlah uang untuk Jenna berbelanja untuk mengisi kulkas di apartemennya. Sekarang Kakaknya itu selalu mendampingi ayahnya berpergian ke mana pun, untuk mengurus usahanya.
" Jenna!" Panggilan itu cukup mengejutkan Jenna.
Troli yang didorong oleh Netta dan Jenna sudah terisi penuh dengan daftar barang yang harus dibelinya.
Mata Pras mendelik. Baru kali ini dia tidak dianggap oleh seorang gadis cantik yang jutek hanya karena rayuan dan gombalan recehnya.
" Awas! " Jerit Jenna.
Tiba- tiba pria itu dengan konyolnya menghadang laju troli yang didorong dengan kuat. Tubuh lelaki itu pasti bakalan terhantam oleh keranjang besi dengan isinya adalah minuman kaleng, sirup dan buah- buahan. Namun kali ini Pras lebih waspada. Dia berhasil menyingkirkan sambil memegangi pegangan troli itu.
" Nggak gini juga, Jenna! Kalau nggak suka ketemu sama gua!"
" Sana, menyingkir! Jangan jadi lelaki yang konyol Pras. Jangan play Victim , ya?"
Ada tawa yang terdengar di belakang mereka. Ternyata ada pria tampan yang merasa geli melihat adegan antara Pras dan Jenna. Mirip film Tom and Jerry di dunia nyata.
" Mas Tedi!" Panggil Netta riang. Dia dan kakaknya memang sangat dekat dengan anak- anak dokter Arunika. Majikan kedua orang tuanya.
" Jangan bilang, ya? Kalau pertemuan ini adalah rekayasa Abang untuk aku bertemu dengan orang ini!"
" Kalau, iya. Bagaimana?"
" Huh, nggak lucu tahu!" ucap Jenna kesal. Segera dia membawa belanjaan itu ke kasir. Sementara si Abang menggandeng Neta keluar dari area gedung supermarket ini.
Apa kedua pria muda ini bersekongkol? Memang payah cara bergaul para anak muda dahulu. Terkadang mereka tidak punya hobi dan kegiatan yang sama tetapi menjadi sangat akrab sampai bertahun- tahun kemudian. Mereka terlalu menjunjung rasa setia kawan! Nggak berbobot banget kalau Abangnya bergaul dengan lelaki yang seharusnya hidup di zaman Renaisans! Kuno dan picisan.
__ADS_1