Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 127. Rahasia yang Harus Dipegang


__ADS_3

Keadaan di klinik tetap tenang dan aman ketika Jenna datang keesokan paginya. Hari ini, waktu itu sudah pukul 07. 30. Sengaja Jenna berangkat lebih pagi lagi tadi dari rumah. Sekedar untuk dapat mengucapkan, " Say goodbye" Pada seseorang yang sudah lama, membuatnya selalu berpikiran negatif tentang keberadaannya di sini.


Mbak Lydia yang kebingungan ketika Jenna meletakkan sebuah map yang berisi surat-surat yang sudah ditandatangani oleh Niken, kemarin. Map itu harus disimpan secara khusus, pada tempat penyimpanan arsip karyawan.


" Jenna! ini beneran, Dokter Niken mengundurkan diri?"


" Iya, kali, Mbak! Kemarin dia yang ngomong soal itu sendiri langsung dengan Tante Ismaya!" ujar Jenna santai sambil membuka laptopnya.


" Apa benar dengan rencana dia yang akan segera menikah dengan pacarnya itu, ya?" tanya Mbak Lydia sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja sebelah.


" Terserah dia mau apa! Kita juga nggak bisa menahan atau melarangnya untuk keluar dari klinik ini, kan?"


" Iya, juga sih! Hanya Dokter Niken pernah ngomong, kalau dia mau menikah, jadi akan pindah ke Batam... Mengikuti calon suaminya yang mempunyai usaha pembangunan properti di sana!"


" O, ya?" jawab Jenna tidak terlalu antusias dengan adanya berita itu.


" Yah, begitulah... Kita kaum perempuan juga harus berpikir panjang dulu sebelum memutuskan untuk menikah. Sebab banyak dari kaum perempuan yang harus mengalah dengan calon suaminya... Apalagi kalau mereka harus berhenti bekerja demi ikut tugas suami ke daerah lain.. "


" Ya, siapa tahu! Di Batam sana ada lowongan pekerjaan yang lebih baik buatnya. Apalagi dokter Niken itu kan punya pendidikan tinggi dan keterampilan sebagai tenaga ahli kecantikan juga," jawab Jenna untuk meyakinkan Mbak Lydia.


Tiba -tiba, hape Mbak Lydia berbunyi. Seperti memberi sebuah kode. Mbak Lydia memperlihatkan nama penelpon di hape boba miliknya itu. Ternyata dia ditelpon langsung oleh Tante Ismaya. Ada beberapa instruksi yang harus dilakukan oleh Mbak Lydia itu, sehubungan dengan pengunduran diri dari dokter Niken di hari ini.


Terutama dia harus membantu dokter muda itu itu untuk mengambil barang- barang milik pribadinya yang ada di ruang kerjanya itu. Sebab Dokter Niken mendapatkan berbagai fasilitas, sebagai dokter ahli kecantikan yang sudah bekerja hampir enam bulan dia sini.


Pukul 08.00 terdengar suara salam wanita itu dari luar ruang kerja Jenna. Mbak Lydia sudah sejak tadi duduk di loby, menunggu kedatangan wanita muda itu. Sebenarnya mereka itu berusia hampir sebaya. Namun Mbak Lydia bersikap lebih hormat kepada wanita itu. Tak peduli kalau tingkatan dirinya lebih senior, karena lebih lama masa kerjanya di tempat ini .


Padahal selama ini, sikap dan perlakuan Niken Sabrina terhadap orang kepercayaan Ibu Ismaya itu terlihat agak sedikit meremehkan. Karena di gedung ini hanya Mbak Lydia dan Jenna saja yang notabene tidak memiliki keterampilan secuil pun di bidang kecantikan atau perawatan kulit. Mereka hanya tahunya mengurus administrasi kepegawaian dan masalah keuangan saja


Mbak Lydia yang menggurus adminstrasi salon dan klinik juga mengurus data kepegawaian, dengan ijazah Diploma 2 akuntansi miliknya. Sedangkan Jenna belajar membantu sang tante mengelola usaha kedua salon juga klinik perawatan kecantikan itu dengan latar pendidikannya, sebagai sarjana ekonomi dan bisnis yang dimilikinya itu.


Terdengar suara - suara percakapan antara Mbak Lydia dan Niken itu di depan ruangan itu. Secara sekilas Jenna melihat sosoknya dokter Niken itu di pagi ini. Dia datang ke klinik ini tetap dengan mengutamakan penampilan terbaiknya... Lihat saja dia mengenakan blus batik bermotif guci antik cina dengan model kimono, satu kancing. Sedangkan roknya yang dipakainya berwarna merah maron dari bahan suede membentuk setengah lingkaran. Make up di wajahnya tetap berpenampilan cetar mempesona!


Ada mobil putih Avanza yang terparkir di area parkir khusus di bawah gedung. Bersebelahan dengan Honda Jazz merah milik Jenna itu. Sepertinya mobil itulah milik Niken. Yang dulu di awal dia bekerja di sini sering digunakannya sebagai alat transportasi!


" Mbak Jenna? " Panggil Mumun. Gadis itu menemuinya di tangga lantai dua.


Jenna tersenyum. Sejak kemarin dia sudah mengirim WA padanya. Sebagai rasa terima dari Tante Ismaya kepadanya. Mumun diberi perawatan wajah dan rambut di salon ini secara gratis. Jenna juga sudah lama meminta Mumun untuk memotong dan merapikan rambutnya itu.


" Kamu nanti dipegang sama Mbak Ida, ya?"


" Terima banyak, Mbak Jenna. Tadi saya juga lihat di parkiran. Dokter Niken sedang memasukkan banyak barang ke dalam. bagasi mobilnya!"


Jenna memberi isyarat kepada Mumun dengan meletakkan jari telunjuk kanan di bibirnya. " Nanti kita cerita banyak , ya! Masih ada orangnya nggak enak!"


" Sip, Mbak!" ujar Gadis manis yang berpenampilan sederhana itu. Mudah-mudahan kesederhanaan dan keuletan Mumun bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya di kampung itu tidak berubah . Sebab pergaulan kehidupan di kota Jakarta dan segala information yang bersifat manipulatif dapat menggerus sifat dan sikap seseorang. Dari yang semula sederhana dan apa adalah menjadi konsumtif karena tidak mau disebut kuper atau ketinggalan zaman.

__ADS_1


Suasana ruangan di lantai dua semakin ramai menjelang siang hari. Banyak aktivitas yang dilakukan orang-orang di sana. Mulai dari obrolan antara pelanggan sambil rambut mereka mendapatkan perawatan. Suara dengung hair dryer yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan para hairstylist.


Jenna merasakan suara dengung mesin itu cukup melipur kegundahan hatinya juga. Sementara Mbak Lydia masih sibuk berurusan dengan dokter Niken itu, sebab dia tak langsung kembali ke ruang kerjanya.


" Mbak Jenna!" panggil Mbak Ida. Dia sedang memotong rambut Mumun... Rambut yang tadinya berbentuk lurus sebahu dan kaku. Telah berubah menjadi indah dan bergaya. Tentu Mbak Ida telah memotong ujung-ujung rambut Mumun yang mulai bercabang. Mbak Ida tentu sudah sangat berpengalaman dengan berbagai model rambut trend sekarang yang cocok dengan wajah bulat dan bersih dari Mumun . Gadis yang berasal dari sebuah kampung di daerah Tasikmalaya tersenyum senang.


 "Tuh, kan . Mumun kelihatannya lebih fresh!" bisik Jenna.


Gadis itu jadi sedikit malu - malu ketika mendengar pujian itu. Karena dia hanya punya waktu istirahat selama dua jam saja yang diberikan bosnya pemilik toko bakery itu. Rencana untuk facial dan perawatan wajahnya ditunda dulu untuk dilanjutkan minggu depan. Gadis itu pamit setelah mengucapkan banyak terimakasih kepada Mbak Ida dan Jenna.


" Mau makan siang di mana, Mbak?" tanya Mbak Lydia yang tampaknya baru muncul dari halaman parkir gedung. Di tangannya ada sejumlah anak kunci yang berasal dari laci di ruang konsultasi. Tentu dari mejanya dokter Niken.


" Makan di tempat Uda Rizal aja, yuk!" ajak Jenna.


" Boleh !" ucap Mbak Lydia.


Mereka segera mengambil dompet dan hape di meja kerja masing masing, sebelum menutup pintu ruang kerja yang cukup luas itu. Setiap jam makan siang, beberapa ruangan di bagian gedung ini akan ditinggalkan para pekerjanya keluar gedung untuk mencari makan siang. Makanya tempat ini akan sepi. Kecuali jika ada hairstylist yang masih mengerjakan tatanan rambut untuk pelanggannya. Atau seringnya Mbak Hera atau Mas Fajar yang mendapatkan pelanggan dadakan yang diminta untuk dirias jam itu juga karena ada satu acara.


" Mbak Jenna, Indomie yang di rak boleh saya masak?" tanya Mas Naim, OB yang biasanya berjaga di gedung itu di saat jam istirahat. Ditambah satu orang petugas keamanan yang bertugas jaga bergantian.


" Masak aja, Mas. Sama yang jaga ya, dikasih!"


" Terima kasih, ya. Mbak!" ujar pria muda itu. Dengan cepat mengambil tiga bungkus mie instan yang disiapkan Jenna, di meja dispenser.


Mbak Lydia segera menarik tangan Jenna dengan cepat. Sepertinya dia mau membicarakan masalah penting dengan dia. Tanpa orang lain boleh tahu! Jangan sampai hal itu didengar oleh pekerja salon dan dua dokter praktek yang akan menggantikan jadwal Dokter Niken di sini.


" Ramai banget, Mbak!" bisik Jenna mulai tidak nyaman. Biasanya dia hanya memesan untuk dibawa pulang saja yang dititipkan pada seorang OB atau pekerja salon yang makan di sini.


" Di sini. Bisa, Mbak! " seru seorang ibu yang memakai kerudung. Dengan cekatan wanita itu membersihkan meja yang tidak terlalu besar dengan dua kursi yang saling berhadapan. Meja itu terletak agak di sudut ruangan itu. Berdekatan dengan pintu belakang rumah makan ini.


Mbak Lydia agak lega, setelah Uni Yati mengangkat piring -piring dan gelas kotor bekas makan pembeli sebelumnya. Meja kayu itu sedikit basah. Tetapi lumayan juga mereka mendapatkan tempat duduk juga.


" Biasa, Uda! Nasi dua pakai rendang, sama perkedel kentang juga, ya!" ucap Mbak Lydia cepat. Dia sudah sangat hapal kesukaan Jenna.


" Oke, Mbak !" Lelaki paruh baya itu dengan cepat menyiapkan permintaan Lidya tadi. Sementara para pelayan lain mondar- mandir membawakan berbagai permintaan para pembeli lainnya. Ada yang makan di tempat ada juga yang dibawa pulang.


" Es teh manis dua!" ujar Mbak Lidya lagi gercep ketika seorang pelayan wanita mengantar pesanan mereka dengan menggunakan baki.


" Siap!" ujar wanita muda itu setelah meletakkan dua piring nasi pesanan mereka.


" Nggak enak kalo makan nggak ada minumnya!"


Jenna mulai merasa lapar juga melihat timbunan sayur gulai nangka dengan potongan kubis dan kacang panjang dalam kuah kuning kental itu yang menggoda. Belum lagi potongan daging rendang yang cukup besar, berbumbu banyak dan sambel ijo nya.


" Ini soal mundurnya Dokter Niken!" Ujar Mbak Lydia membuka percakapan setelah dia selesai mengunyah pada suapan pertamanya.

__ADS_1


" Ya, ampun. Mbak ! Kirain apa !" ujar Jenna malas.


" Iya, tadi Ibu Ismaya memberitahu, agar saya bertanya kepadamu soal dokter Niken Sabrina... Nggak biasanya juga kalau dokter itu berhenti sebelum menyelesaikan kontrak kerjanya!"


" Kan Dokter Niken sendiri sudah menceritakan alasannya sampai dia mau berhenti kerja!"


" Ah, dia itu sering banyak bohongnya! Aku, sih. Iya saja kalau dia ngomong! Malah ada teman dokter Nena yang kenal baik dengan Niken... Ternyata pacar Dokter Niken itu banyak , Mbak! Justru yang dia pilih yang menurutnya paling mapan. Tua sedikit nggak apa mungkin! Yang penting gede duitnya." Ledeknya.


" Asal bukan suami orang aja! Mbak Lydia. Nggak takut bahaya , tah!" Ledek Jenna konyol mengikuti jargon yang sering dia dengar itu dari sebuah aplikasi pada sebuah media sosial.


" Ih, Mbak Jenna bisa aja! Hmm, padahal kita sudah kenal lama, ya. Tetapi enjoy aja ngomong sama Mbak Jenna. Sekalinya kalau ngobrol dengan Niken, yang diomongin cuma dirinya sendiri, huh! Bagaimana dia berusaha keras untuk dapat beasiswa kuliah S2 di luar negeri. Juga banyak keinginan yang akan dicapainya! Seperti mau ganti mobil baru , mau tinggal di apartemen di dekat MOI yang katanya lokasinya lebih strategis. Malah dia punya cita-cita untuk mempunyai klinik kecantikan yang sebagus dan seterkenal Ismaya Beauty kalau sudah menikah nanti ... Hanya modalnya sangat besar. Jadi dia berharap calon suaminya mampu menyiapkan dananya agar impiannya itu segera terwujud!"


" Pernah diajak ke rumahnya belum, Mbak?" tanya Jenna iseng.


" O, yang di Rawamangun itu? Kebetulan dulu pernah ikut nebeng sekali ikut dengan mobilnya itu. Sebab Bude Sunarti, rumahnya nggak jauh dari sana! Cuma rumah Bude bukan di kompleksnya, Mbak !"


" Dia nggak cerita. Di mana orangtuanya tinggal?"


Mbak Lydia terdiam sebentar. Sebab dia antara para pekerja salon dan dua dokter yang ada di klinik, hanya dengan Mbak Lydia, dokter Niken agak akrab.


" Dia pernah cerita, keluarganya tinggal di Ciputat atau Bintaro, begitu. Maaf agak lupa juga , sih! Kan sudah lama juga ceritanya itu... Lagipula alasan yang yang ditulis dokter Niken di surat pengunduran diri itu agak klise!" Ujarnya membela diri.


" Ya, iyalah, Mbak Lydia! Surat itu kan surat dinas, harus bersifat formal dan pelengkap data saja. Kalau suratnya isinya macam - macam nanti jadi curhat atau surat cinta kali!"


Wanita itu berusaha menahan tawanya, sampai dia tersedak. Tanpa sadar dia segera meraih dan menghabiskan satu gelas besar berisi teh manis pesanannya.


" Jenna, kamu itu mau jadi pelawak, apa! Tuh, aku sampai keselek! Jangan konyol gitu ah..."


Ucapan Mbak Lydia yang agak keras itu juga memancing perhatian para pelanggan lain yang sedang menikmati makan siang mereka. Semua orang menoleh ke meja kedua wanita muda itu yang sama -sama cantik dengan pakaian kerja yang simpel dan modis.


Wajah Mbak Lydia memerah ketika dia menatap sekeliling ruangan. Kebanyakan yang makan di tempat ini adalah kaum pria muda. Ada dua meja lain, yang merupakan satu keluarga. Sebab di sana seorang ibu, suami dan anak- anaknya.


" Maaf, Jenna ... Aku nggak bermaksud ngatain kamu. Lihat! Dipikirkannya kita berantem... Ugh, gara- gara ngomongin Jeng Niken Sabrina Mahmud, Gusti Ratu Yang Ayunya Sejagad ..."


" What ?" bisik Jenna tak percaya dengan ucapan terakhir dari Mbak Lydia itu.


" Begitulah sebutan dari pekerja salon sampai teknisi kepada Dokter Niken itu. Bila orangnya tidak ada di ruangan kerjanya! Merasa benar terus sih dia! Mas Rendy aja sampai kesal ketika wanita itu membuat rusak beberapa tombol mesin yang digunakannya....Mana harga spare part bagian mesin itu mahal ... Bukannya minta maaf, malah dia seharian diomelin habis-habisan oleh dokter itu."


Jenna segera menghabiskan makanannya. Mbak Lydia meminum segelas air putih untuk memperlancar pencernaannya.


" Nanti dibuat laporannya aja, Mbak ! Barang - barang milik klinik yang dikembalikan oleh Dokter Niken. Kalau perlu difoto biar ada bukti."


Begitulah, cara kerja Jenna yang cukup teliti. Bahkan dia tidak menolak ketika diajak ke ruang kerja itu... Sebuah ruangan yang sudah diatur menurut selera wanita itu sendiri.


Beruntung barang-barang yang dibelinya secara online itu sudah diangkut oleh si pemilik. Kalau masih ditinggal di sini, jangan- jangan orang mengira kalau mereka berhadapan dengan seorang peramal dengan berbagai atributnya. Bukan berada di sebuah ruangan untuk konsultasi kecantikan.

__ADS_1


Dulu ruangan ini ditata minimalis supaya nyaman dan lega. Bukan dengan barang- barang hiasan estetik seperti gorden kayu dengan lukisan negara tirai bambu, cermin bulat berhias kerang, juga berbagai botol dengan beraneka bentuk dan warna di atas rak itu. Ditambah hiasan lampu meja yang girly, dengan hiasan renda dan pita.


__ADS_2