Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 42. Rencana Jenna Jangka Panjang


__ADS_3

Jenna dan Oma bertahan di loby Utara gedung rumah sakit. Ada sepasukan perawat dan dokter yang membawa Opa menuju sebuah ruang untuk kontrol hasil jahitan operasinya.


Jenna sengaja membawa Oma menunggu di dekat jendela taman rumah sakit, karena keadaan di rumah sakit saat itu mulai agak ramai. Semua paramedis berseragam APD lengkap. Kecuali, beberapa petugas yang berjaga di pintu loby. Mereka hanya menggunakan masker dan sarung tangan.


Selain itu, ada petugas khusus yang membawa thermo gun. Nanti para pengunjung diwajibkan untuk mencuci tangan di beberapa kran air portabel yang disediakan. Mereka juga diwajibkan memakai masker Sebelum masuk ke ruang loby utama, diperiksa dahinya dengan alat pengukur suhu tubuh itu.


Mamanya Jenna memaksa agar ibu mertuanya memakai dua jenis masker yang harus dipakainya. Sungguh hal itu membuat wanita tua itu kurang merasa nyaman. Namun demi menjaga kesehatan dirinya sendiri dan orang lain yang ada di area tersebut. Si Oma pun rela melakukan hal itu.


Jenna menolong Oma membuka air mineral yang tadi dibelinya dari kantin belakang. Jenna merasa agak lapar siang ini. Roti bakar yang jadi menu sarapannya, tentu telah habis terbakar menjadi kalori. Sebab Jenna masih harus mengurus kelengkapan data si Opa dari satu ruangan ke ruangan lain. Sedangkan saat ini, dia juga masih sibuk membuat laporan di sudut meja ruang tunggu.


" Pekerjaanmu sangar banyak, Jenna ?" tanya Oma yang sejak tadi mengamati cucu perempuannya itu yang terus sibuk dengan laptop-nya.


" Sebentar lagi, Oma. Jenna harus mengecek email yang masuk!"


" Kapankah Jenna akan bekerja di Bali?"


" Mungkin awal tahun depan, Oma! Kasian Bang Tedy, modalnya habis untuk mengembangkan anak perusahaannya yang dari Surabaya itu. Sepertinya jenis usaha seperti itu lebih cocok dengan minat Jenna selama ini."


Ada helaan nafas yang terdengar. Wanita tua itu memandangi rumput - rumput hijau yang terhampar rapi di taman. Sesekali mereka melihat beberapa orang datang dan makan di kantin ini. Walaupun segala hal di tempat ini sudah tidak seperti dulu lagi.


" Mungkin kalau kamu tinggal di Bali, Kami juga akan tinggal di sana. Hidup Opa akan lebih tenang, di sana, ya..."


" Mengapa Oma waktu itu harus ke rumah, Karo. Apa ada masalah dengan si Baby?"


" Karolina sangat tidak nyaman dengan semua campur tangan ibu mertuanya... Takutnya sepupumu itu mengalami Baby Blues, karena selalu disalahkan oleh Mamanya Farhan dalam pola asuh bayinya yang belum berumur 3 bulan itu..."


Keluarga besar Damash memang tidak terlalu fanatik dalam menjalankan ajaran agamanya yang dianutnya. Namun mereka juga berusaha menjalankan semua kewajiban sebagai umat muslim. Bahkan sangat rajin dengan kegiatan memberikan bantuan dan amal rutin ke berbagai panti asuhan, pembangunan masjid dan yang lainnya tanpa gembar-gembor ke media.

__ADS_1


Apalagi sebagai pimpinan, Opa Damash sangat menghargai berbagai perbedaan yang sudah ada di dalam kehidupan masyarakat kita sejak zaman dahulu. Mereka terbiasa menerima kawan dan teman tanpa membedakan agama, suku maupun derajat mereka.


Mungkin bagi keluarga Farhan Hasbullah, Karolina itu seperti wanita pendosa karena pernah berkarier di dunia model nasional. Selain tampil berlenggak-lenggok di panggung dan ditonton banyak pasang mata. Karolina pun harus membawakan berbagai rancangan desainer dari Indonesia maupun luar negeri, yang kadang gaunnya itu agak terbuka potongannya.


Salahkan pada Farhan Hasbullah! yang matanya tak bisa lepas ketika memandangi seorang gadis cantik, saat dia dikenalkan oleh Opa Damash kepadanya. Tentu dialah cucu kesayangan Pak Andrian Saputra Damash. Karolina!


Cinta pada pandangan pertama! Itu yang dirasakan oleh Farhan.Tentu bagi pria alim seperti Farhan, yang latar belakang keluarganya mempunyai pendidikan agama Islam yang sangat ketat. Tentu memandang wajah cantik Karolina seperti mendapatkan setitik embun di tengah padang pasir.


Sosok Karolina bagai magnet kuat bagi para pria saat itu. Sebab Karolina berkepribadian terbuka, ramah dan sangat profesional dengan pekerjaannya sebagai model yang membuat namanya mulai menanjak naik di dunia permodelan.


Saat itu pun Karolina sedang memamerkan daya tarik dirinya pada sesi foto yang membayarnya dengan sejumlah nilai rupiah yang besar. Sebab campur tangan Opa Damash juga yang melibatkan Karolina menjadi model dalam iklan proyek pembangunan apartemen milik Perusahaan Farhan di Barat kota Jakarta.


Pengambilan foto itu dilakukan di suatu tempat wisata di daerah Bogor. Tampaknya Karolina pun tak memungkiri rasa ketertarikan pada sosok Farhan itu saat mereka bertemu kembali atas inisiatifnya sang Kakek.


Farhan pengusaha muda yang banyak bergerak di bidang property. Pria itu sangat santun, dan memperlakukan dirinya nya dengan baik dan hormat.


Ternyata cinta juga bukan landasan utama dalam sebuah ikatan pernikahan. Karolina sangat kaget setelah mengetahui, semua kesuksesan dan kehebatan ayah dan kakak- kakak Farhan di bidang usaha dan politik karena peranan utama sang ibu mertua.


 -------


 Jenna ikut merasakan kegalauan si Oma, akan ketidaknyamanan kehidupan rumah tangga Karolina yang sekarang. Apalagi setelah ibu mertuanya kembali campur tangan dalam mengurus bayi itu, yang menjadi cucu laki-laki bagi keluarga mereka


" Oma, tenang saja! Mereka pasti bisa mengatasi hal tersebut. Memang kita berasal dari dua keluarga yang berbeda dalam banyak hal. Apalagi Kak Farhan dan Karo sudah punya baby, mereka pasti punya cara didik yang berbeda pula!"


" Ya, sudah. Jenna! Kalau kamu mau bergabung dengan abangmu nanti... Tolong cari tempat tinggal atau rumah di pemukiman penduduk biasa saja. Jangan hotel atau apartemen! Nanti Oma dan Opa akan ikut tinggal bersamamu di sana!"


" ini benar , Oma?"

__ADS_1


" Yah, mungkin dengan tinggal di sana, Opa dapat hidup lebih santai. Tidak terlalu terlibat dengan segala urusan rumah tangga anak dan cucunya kelak.."


Betapa senangnya Jenna mendengar hal itu. Dia juga membutuhkan pergantian suasana. Jakarta sudah semakin agak membuatnya sesak belakangan ini.


Selama ini Jenna berusaha menjaga nama baik keluarganya. Tentu dengan menghindari pergaulan yang kurang baik sebagai remaja putri di lingkungan rumahnya. Sebuah lingkungan rumah yang dihuni oleh keluarga menengah sampai atas.


Dia juga berlaku biasa saja sebagai anak dari kalangan berada. Sebab dia punya beban berat yang disandang di bahunya sejak lahir. Sebagai cucu perempuan Opa Damash yang mantan Jenderal itu. Juga keturunan dari Kakek Handy Darmawan, almarhum ayahnya Pak Feri... Nama pria itu identik gelar kebangsawanan, dari sebagian keluarganya yang masih menetap di Yogyakarta dan Riau.


Mama Arunika sudah menelpon mereka, setelah Opa selesai kontrol. Mereka akan bertemu di loby rumah sakit sebelum kembali ke Sentul. Tadi Jenna sempat membeli beberapa botol air mineral tambahan.


Mungkin hanya inilah yang dapat mereka beli. Sebab banyak wejangan dan larangan yang diucapkan oleh dokter Arunika, saat mereka akan berangkat ke rumah sakit tadi pagi.


" Kamu tadi jajan apa saja di kantin rumah sakit?"


Deg! Pertanyaan ibunya ini seperti memperlakukan Jenna bagai anak SD saja! Walaupun dia tahu, pertanyaan ibunya itu dalam kapasitas wanita itu sebagai seorang dokter!


" Puding sama air mineral aja , Ma!" jawab Jenna lemas.


Hilang sudah dalam angannya untuk menikmati semangkok bakso panas berkuah pedas yang warungnya ada di sekitaran wilayah di Jalan Pasar Minggu.


" Kita pulang! Kamu nggak kasihan sama, Opa? Jahitannya masih belum kering, jadi baru akan dibuka Minggu depan?"


Yuh, Jenna langsung meringis, merasakan nyeri yang berdesir di dadanya. Ini baru mendengar tentang operasi dan membuka jahitan di dada opa. Belum lagi bau obat- obatan sudah membuatnya memejamkan mata. Ngeri!


Itulah yang membuat langkah Jenna urung menjadi seorang dokter. Dia tahan melihat darah! Orang terluka. Bahkan perkelahian satu lawan satu atau pun tawuran yang dulu kerap dilakukan anak- anak SMK, kalau dulu disebut STM!


Sayangnya dia tidak tega melihat wajah orang kesakitan, karena terluka atau teraniaya. Tangisan orang yang kehilangan keluarganya, atau penderitaan dari orang-orang yang mengalami berbagai bencana. Dia bisa menangis sendiri karena hal itu!

__ADS_1


__ADS_2