
Pak Sanad sudah lama ikut bekerja dengan Pak Adrian Damash. Lewat kakeknya Asti itu, pria gagah yang berusia 40 tahun itu mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan layaknya seorang prajurit tempur yang sangat handal di segala medan. Sayangnya beberapa kali Sanad muda tidak lulus tes masuk ABRI karena mengalami suatu kelainan pada matanya yang disebut buta warna.
Dulu Pak Sanad tergabung dalam agensi penyediaan jasa pengamanan dan pengawalan untuk orang - orang tertentu. Seperti mengawal pengusaha besar, artis dan tokoh ternama. Mereka dilatih khusus oleh para ahli di berbagai bidang, dari kemampuan bela diri, menggunakan senjata api dan senjata tajam lainnya, sampai kemampuan menguasai teknologi informasi modern lainnya.
" Mbak Jenna, biar saya menunggu di luar saja!" ucap pria itu sopan.
" Ya, sudah. Nanti kalau Bapak mau ngopi atau mau makan camilan, masuk ke ruangan di belakang resepsionis, ya. Pak! Di sana ada dapur kecil dan ruang makan untuk karyawan!"
" Siap, Mbak!"
Pria itu membiarkan Jenna masuk ke gedung salon berlantai tiga itu. Secara diam-diam, pria itu berjalan berkeliling di sekitar kawasan salon yang memang sangat strategis letaknya. Karena jalan raya di kawasan itu dilewati berbagai angkutan umum seperti bus dan mikrolet. Jalan itu hanya satu arah, namun dekat dengan perputaran di ujung sebuah lapangan sepak bola sana. Sehingga mudah dicapai dari mana pun.
Pria itu mendapatkan laporan dari Fendi tentang kehadiran seorang pria mapan yang berusaha mencari perhatian dari Jenna. Sejak perceraian Karolina, si Opa Damash mulai tersadar. Bahwa Jenna pada saatnya nanti juga akan bertemu dengan jodohnya sendiri. Jadi dia tak mau lagi memaksakan kehendaknya.
Kegagalan Karolina dalam perkawinannya itu karena kurangnya dia mengenali watak, kebiasaan dan cara pandang dari kedua orang tua Farhan dan keluarga kakak-kakaknya. Walaupun Karolina cantik, berasal dari status sosial keluarga yang mapan dan lulusan sarjana Ekonomi. Tetap saja dia bukan menantu idaman di keluarga Hisbillah, terutama di mata Ibu Nyai sang mertua. Sebab kriteria mereka untuk menantu yang disebut idaman , sangat bertolak belakang. Bahkan kehadiran Karolina bagi Farhan Hisbillah dengan mudahnya digantikan dengan hadirnya seorang gadis muda yang lugu, pemalu dan baru lulus setelah mondok cukup lama di sebuah pesantren di daerah Banten.
Pak Sanad tetap bersikap santai walaupun dalam keadaaan yang sangat waspada. Menurut perkembangan laporan terakhir, soal penyerangan itu sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib.
Jenna sendiri sedang mengatur berbagai program untuk para pelanggan salon sebagai promosi. Setelah wabah covid mulai menurun, kegiatan masyarakat sedikit demi sedikit mulai pulih. Walaupun belum seratus persen keadaan membaik seperti semula, sebelum wabah covid melanda. Tetap saja mereka harus menerapkan berbagai peraturan seperti menggunakan masker di tempat umum, adanya sosial distancing, wajib cuci tangan, sampai pengukuran suhu jika datang ke berbagai tempat umum. Seperti ke mall, restoran, toko, bank, sekolah apalagi rumah sakit.
"'Mbak Jen! Ini soal Pak Pandu, " ujar Mbak Arini ragu-ragu.
"Memang dia kenapa, Mbak ?" tanya Jenna kurang memahami.
" Dia kemarin telepon kalau di salon ini kurang nyaman... Katanya dia diancam preman saat ada di parkiran depan!"
" Preman? Ah, yang benar, Mbak Arini! Kita kan bayar uang keamanan ke pengurus lingkungan di sini!" Tolak Jenna cepat.
" Ya, dia juga melarang ibu dan kerabatnya untuk datang ke salon ini lagi!"
__ADS_1
" Ya, nggak apa-apa, Mbak! Keluarga mereka kan biasanya juga melakukan perawatan di luar negeri, bukan di salon ecek-ecek kayak begini. Minimal mereka pergi Singapura yang paling dekat!"
" Terus kalau keluarga macam sultan seperti mereka, yang jauh itu kemana, ya. Mbak?" tanya resepsionis itu iseng.
" Ke kutub Utara atau Selatan, kali!" Tergantung adanya musim salju di sana ... Biar mereka semua melakukan hibernasi aja... Mereka itu orang Indonesia, kan? Lahir dan besar di Indonesia. Terus ribut masalah cuaca di sini. Yang katanya panas dan berdebu! Mereka semua datang ke sini juga naik mobil pribadi! Ya, tinggal dibesarkan volume AC- nya. Gitu aja kok, repot ! Seperti naik angkot saja... Kita yang yang setiap hari kena debu, kepanasan dan keringatan juga nggak meleleh, kan, Mbak ?" ujar Jenna kesal. Mengeluarkan sekedar unek-uneknya.
Bayangkan saja ketika Ibu Angelina datang ke salon untuk melakukan perawatan rutinnya. Beliau juga membawa beberapa wanita yang disebutnya masih famili. Para wanita itu menuntut untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik. Ada yang minta facial wajah premium, manikur dan pedikur, cream bath.. Tetap saja mulut para wanita itu yang berlagak ala sosialita itu masih terus nyinyir.
Mereka itu terus ngoceh-ngoceh nggak jelas! Membandingkan segala hal yang ada di salon ini, dengan berbagai pelayanan salon di negara maju. Yang katanya bagusan di Singapura , Korea Selatan sampai Amerika Serikat. Padahal semua wanita itu hanya menunggu gratisan! Minta dibayarin oleh Ibunya Pandu itu yang pada saat itu dengan sangat terpaksa menggunakan kartu kredit saktinya untuk membayar semua biaya pelayanan untuk mereka yang menghabiskan dana hampir sepuluh juta rupiah.
" Masih kesal soal itu, Mbak?" tanya Mbak Arini tersenyum masam. Dia tahu siapa keluarga Jenna dan pemilik salon ini, Ibu Ismaya! Apalagi salon dan perawatan wajah yang di Kelapa Gading itu sudah sangat lengkap. Tetapi dengan menerapkan harga yang sangat wajar.
Sebagian alat- alat perawatan kecantikan yang canggih dan terbaru itu didatangkan dari luar negeri. Mereka sudah berupaya memberikan pelayanan pada pelanggan sebaik mungkin. Termasuk memberikan konsultasi akurat dari beberapa dokter ahli kecantikan terbaik, yang bergantian praktek di Salon Kelapa Gading.
***
Saat itu Jenna juga sudah bersiap - siap untuk pulang... Di dalam salon tadi, masih ada dua pelanggan lagi yang masih diupgrade penampilannya untuk hadir di acara pesta keluarga besarnya.
" Ada apa, Pak?"
" Marvin dikeroyok sekelompok orang di daerah Depok, Mbak!"
" Marvin ke Depok? Bukannya tempat kost dia ada di daerah Pancoran ... "
" Ayo, Mbak! " ujar Laki-laki itu cepat.
Cepat Jenna berlari menuruni tangga dari lantai dua. Pak Sanad dengan tangkas mengendarai Honda Jazz merah itu, melalui putaran di ujung lapangan untuk segera menuju ke arah Selatan Jakarta. Tak lama hape Jenna berdering. Bang Tedi baru saja mendapatkan berita soal pengeroyokan itu.
Perjalanan itu cukup memakan waktu lama ...Dulu Jenna pernah menggunakan kereta api atau KRL Jakarta- Bogor dari stasiun Pasar Minggu untuk ke Depok. Perjalanan yang cukup murah meriah itu terasa menyenangkan asalkan dilakukan bukan pada jam sibuk saat orang pergi dan pulang kerja. Bisa jadi dendeng kita saking padatnya isi gerbong kereta KRL, saking penuhnya.
__ADS_1
Hampir satu jam lebih mereka berkendara melalui jalan dari depan Rumah sakit Fatmawati. Seorang rekan Marvin terus menelpon Pak Sanad. Dia memberi tahu lokasi Klinik tempat Marvin mendapat perawatan yang paling terdekat dari tempat kejadian.
Di sebuah bangunan berlantai dua yang bertuliskan Medika Mitra Mulia, mobil itu memasuki halaman depannya yang cukup luas. Di depan pintu masuk ada seorang pria muda yang langsung menyambut kedatangan mereka itu ...Pria muda itu berkali -kali melirik Jenna. Tak peduli, Jenna mengekori mereka yang bergerak cepat memasuki sebuah ruangan dengan tulisan UGD.
Di sebuah ranjang besi Marvin tergolek lemas. Wajahnya tak berbentuk karena bengkak dan memar. Bibir atasnya sobek. Dia sudah mendapatkan pertolongan medis dari dokter. Tampak dari kaos T-shirt yang dipakai lelaki itu yang berwarna terang ada bekas-bekas seperti telapak sepatu.
Lelaki yang tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Gunawan itu tampak tidak suka ketika Jenna mengambil gambar dari beberapa luka dari wajah Marvin. Akibat penganiayaan itu Marvin belum juga siuman. Dokter akan melakukan Rontgen, takut si pasien mengalami penganiayaan yang cukup brutal. Segera Jenna menggurus segala administrasinya termasuk bersiap dibawa ke rumah sakit yang lebih besar untuk tindakan sebuah operasi.
" Pa, luka Bang Marvin parah!" Ujar Jenna menelpon sang ayah yang sedang ada di rumah. Sebentar lagi beliau harus berangkat ke Semarang, dengan perjalanan darat.
" Biar Abangmu yang ke sana.. Papa perlu menghubungi seseorang!"
Tampak pria muda yang merupakan orang kepercayaannya Marvin itu masih berusaha menanyakan keberadaan dan status Jenna kepada Pak Sanad. Tentu dengan menggunakan bahasa Isyarat. Agak masam pria itu menjelaskannya.
" Dia ini Jenna, adik Pak Tedi Darmawan, anak bungsu Pak Feri Darmawan... "
Wajah pria itu segera memucat karena terkejut. Jenna masih menghubungi salah seorang kenalan ayahnya yang bertugas di daerah ini.
Dengan cepat pria muda itu menjelaskan peristiwa yang menimpa Marvin. Ternyata Marvin dipanggil Farhan ke sebuah kafe yang jaraknya tak jauh dari daerah ini. Tiba-tiba saja, ada serombongan orang masuk ke kafe dan mendatangi mereka. Farhan berlari masuk ke dalam dapur kafe. Setelah mereka terlibat percekcokan . Marvin yang masih belum paham tentang permasalahannya tersebut menjadi kurang waspada. Dia langsung dihajar oleh beberapa orang sekaligus... Beberapa barang di kafe itu pun ikut dihancurkan.
" Apa Kak Farhan tidak terluka?"
" Sepertinya dia dilindungi oleh para pegawai kafe di sana!" Jawab Gunawan lebih hormat.
" Pak Sanad tolong jaga Marvin, ya! Ikuti saja tindakan yang dilakukan dokter nanti! Bang, bisa antar saya ke lokasi kafe itu....Ada Om Bramantyo Sanusi yang akan mengusut kasus ini!"
Pria yang bernama Gunawan itu seakan mau menelan ludah. Nama pria yang disebutkan Jenna barusan adalah orang berpangkat tinggi dan cukup berpengaruh di daerah ini.
Dengan sopan Gunawan meminta kunci mobil Jenna, agar dia yang mengemudikan Honda Jazz itu. Sebab jalan di daerah itu sangat ramai , tetapi jalannya sangat sempit. Hanya cukup dilalui untuk dua mobil berpapasan saja. Sementara puluhan angkot berwarna biru yang paling banyak menguasai jalan itu dan berseliweran semaunya. Seakan dialah raja jalanan di daerah itu.
__ADS_1