
Sebenarnya jalan ke rumah Nenek Santi itu tidak terlalu jauh dari rumah sakit ini. Kurang lebih 1 Km saja. Tetapi bila Pak Sanad atau orang suruhan Bang Tedi yang akan mengantar dan menjemput Ibunya Marvin dari sana, itu lebih baik. Selain tempatnya dekat, juga di tempat kost Nenek Santi itu Bu Marfuah bisa beristirahat dengan nyaman.
Dulu di daerah itulah adik kakeknya itu, yaitu Kakek Pak Rudiansyah Harun tinggal bersama istri dan anak - anaknya. Rumah mereka cukup besar dengan halaman yang sangat luas. Apalagi saat itu Pak Rudiansyah masih memegang jabatan yang tinggi di sebuah lembaga milik pemerintahan.
Kedua orang tua Dokter Arunika berasal dari Bandung dan Cirebon. Sehingga mereka biasa disebut dengan orang Sunda. Wanita yang merupakan anak sulung di keluarganya itu menikah dengan Pak Feri Darmawan yang ibunya asli orang Yogyakarta dan almarhum ayahnya orang kelahiran Jakarta, namun berdarah Sumatera Barat, atau orang Padang.
Suami Nenek Santi sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Padahal usia Pak Rudiansyah saat itu belum terlalu tua. Sedang berada di puncak karier, kata Kakek Firmansyah.
Demi menutupi biaya sekolah dan rumah tangga yang cukup besar, Nenek Santi mengusahakan sewa tempat kost sebagai pemasukan rumah tangganya. Halaman luas yang ada depan rumahnya itu dibangun rumah sewa atau kos-kosan dua lantai. Walaupun ada uang pensiun dari kantor, tetapi Nenek Santi agak kesulitan untuk membiayai ketiga yang masih sekolah dan berkuliah. Sebab anak-anaknya yang belum terlalu dewasa dan mandiri. Dibantu Pak Firmansyah, jadilah mereka membangun tempat kost yang cukup memadai dengan fasilitas layaknya hotel bintang 3.
Setidaknya dengan usaha menyewakan kamar kos-kosan, ada uang pemasukan tambahan, agar anak - anak Nenek Santi tetap dapat melanjutkan pendidikannya. Kasihan Kakek Rudiansyah yang bekerja sangat keras karena tuntutan pekerjaannya yang cukup tinggi. Sering lembur di kantor, bepergian ke berbagai daerah lain. Sehingga kurang menjaga kesehatannya. Beliau meninggal di kantornya karena mendapat serangan jantung dalam usianya yang baru menginjak 49 tahun.
***
Jenna segera menghabiskan sarapannya. Dia ada janji dengan Tante Ismaya di salon Kelapa Gading. Sengaja dia berangkat lebih pagi, agar tidak terjebak kemacetan di jalan raya yang akan dilalui dari Jakarta bagian Selatan, Timur sampai ke Jakarta Utara.
Karolina hanya sekilas menanyakan keadaan Marvin setelah pria itu menjalani operasi yang cukup lama di rumah sakit. Tetapi mereka semua sepakat untuk menyembunyikan sebab awal dari peristiwa yang dialami Marvin itu dari pendengaran Karolina.
"'Pagi, Non!" Sapa Pak Imam.
" Pagi, Pak!"Jawab Jenna. Sambil mengangkat jempolnya ketika pria itu membukakan pintu gerbang depan rumah.
Di garasi khusus di dalam rumah, Mobil Honda Jazz merah Jenna sudah nongkrong sejak tadi malam, Mobil itu dibawa Bang Fendi dari halaman rumah sakit Fatmawati. Dua mobil lain, milik keluarga Darmawan digunakan sebagai sarana akomodasi selama Marvin mendapat perawatan di sana. Yang satu digunakan Pak Sanad untuk mengantar- jemput Ibu Marfuah. Satu lagi digunakan Bang Gunawan yang mengusut dan mencari oknum yang mengeroyok Marvin.
__ADS_1
Ternyata Farhan tidak mau permasalahan yang dibuatnya itu dipublikasikan secara luas ke tengah masyarakat. Tentu dia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya itu. Walaupun sebenarnya Bang Tedi tak peduli. Sebab Marvin dalam masa setahun ini, telah tercatat sebagai karyawan tetap di kantor pusat. Jadi biaya operasi dan perawatannya selama di rumah sakit dicover perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi terkenal dan bonafid di Jakarta ini.
Justru yang kalang - kabut adalah Farhan dan satu orang kakaknya lagi, yang ternyata menjadi otak dari rencana mereka... Sekarang nama besar keluarganya, sedang dipertaruhkan !
Sayangnya Jenna tidak lagi berhadapan dengan si pengecut yang satu itu. Mungkin akibatnya akan lain, bila Bang Tedi yang terjebak dalam peristiwa serupa. Bisa habis Farhan dihajar Jenna duluan , dibandingkan Om Bramantyo yang mulai membenci tingkah konyol anak bungsu dari anak Pak Zaenudin Hisbillah itu.
" Masalah Farhan sudah beres?" bisik Tante Ismaya saat mereka istirahat jam makan siang. Wanita itu memesan makan siang untuk dirinya dan Jenna untuk dibawa ke sebuah ruang kantor di gedung salon ini.
" Biar itu jadi urusan Om Brahmantyo, saja. Tante! Si Farhan itu sudah membuat anak orang sampai sekarat..."
" Kok, Farhan seperti itu, ya ? Tante aja nggak menyangka !" Tanya istri Om Jhon sambil mengunyah salad sayuran pesanannya.
"Jangankan Tante! Karolina juga nggak percaya kalau Farhan bisa sangat patuh dengan segala perintah ibunya. Termasuk menikahi gadis muda itu!"
" Masa, sih Tante? Aku baru dengar itu!"
" Pak Zaenudin itu juga pernah menikahi sekertaris di perusahaan propertinya itu. Walaupun secara siri. Karena ketahuan oleh Ibu Dian, jadi ditendang lah pria itu dari perusahaan milik orang tuanya itu!" Jelas Tante Ismaya.
" Sebenarnya banyak orang-orang yang latar belakang serupa dengan keluarga Hisbillah itu. Tetapi mereka tetap menjadi pengusaha yang baik, santun dan bersahaja! Kenapa keluarga Farhan itu makin ke sana jadi makin ke sini, ya?" Tanya Jenna tak habis pikir.
" Iya, sih! Yang Tante tahu... Semua kerabat dan anggota keluarga kita terbiasa hidup apa adanya... Jarang memamerkan sesuatu di medsos. Kecuali ada kegiatan penting seperti pernikahan atau acara besar kumpul keluarga. Sekarang banyak orang lebay yang pamer di medsos dari segala kegiatan mereka. Seperti makan di resto mahal, jalan-jalan ke luar negeri atau pakaian barang-barang import."
" Coba Tante yang pamer, pasti heboh! Kan Tante hampir dua bulan atau tiga bulan pasti ke luar negeri!! Pecinta barang- barang luar yang bagus, sepeti tas, sepatu sampai aksesoris!" Ledek Jenna geli.
__ADS_1
" Ih, kamu ini... Tas dan sepatu mahal itu kita beli karena mutu dan kualitasnya. Sebab kita bisa menang make, Jenna. Barang itu lebih awet dipakai bertahun - tahun...malah bisa dikoleksi, lho!"
" Tante mengapa nggak ambil anak buah di Salon ini saja untuk mengelola tempat ini, sih?"
" Saya lebih percaya kamu, Jenna..Nanti Tante tambah gaji kamu... Setara dengan satu pegawai yang baru, oke?
" Terus, Tante percayakan alat - alat modern dan mahal itu dipegang Dokter Niken Sabrina?"
" Mau bagaimana, lagi? Tante harus ada di kantor untuk membantu Om kamu... Peluang usaha sudah mulai membaik, Jenna ... Sayang kalau tidak dimanfaatkan ketika kesempatan itu datang!"
" Bukannya Tante, takut Om Jhon melirik gadis - gadis muda ?"
" Salah, satunya! Om kamu lagi puber kedua sekarang..." ucap Wanita itu yang telah menyelesaikan makan siangnya yang merupakan menu dietnya. Ada nasi merah, sayur cap - cay, ikan fillet gurami bakar bumbu sambel matah. Penutupnya salad sayuran selada, sawi dan berbagai sayuran yang di dressing dengan mayonaise, madu dan bumbu berupa garam, lada bubuk dan perasan lemon.
Jenna berpikir sedikit kurang yakin, tak lama dia jadi tertawa geli. Pantas si Tante selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi ke luar di jam kantor. Memang perusahaan itu mereka dirikan bersama-sama , dibantu Pak Fery. Tetapi Om Jhon Sagara yang mengambil alih pimpinan perusahaan kosmetik itu. Alias direktur utama. Sedangkan Tante Ismaya lebih suka mengamati proses produksi kosmetik itu yang merupakan hasil dari kerja keras dan penelitiannya selama berada di laboratorium miliknya di kelapa Gading.
" Jangan ngeledek, Jenna! Sekarang itu banyak wanita muda dan para ABG yang mengincar pria mapan. Tentunya, dengan harapan mereka bisa hidup nyaman , tanpa perlu bekerja keras!"
" Ih, repot. Tante kalau begitu ! Kenapa Mama santai saja kalau Papa sering berpergian keluar kota, kan ?"
" Pak Feri itu sangat mencintai Mbak Arunika! Mungkin cinta mati, kali.. Mana berani dia berpaling, apalagi menduakan Mamamu!"
Mereka menyelesaikan makan siang mereka dengan cepat. Setelah itu Mbak Lydia yang akan menyusun jadwal kerja rekan-rekan Tante Ismaya yang diperbantukan di salon ini. Sebagai konsultan ahli kecantikan dan perawatan kulit.
__ADS_1