
Sebenarnya Jenna tidak terlalu memperdulikan sosok Pandu Samidi. Di Ibu kota Jakarta ini, banyak stok pria muda seperti Pandu! Mulai dari para pebisnis muda yang sukses dan kaya. Para pria muda dengan beragam profesi dengan pendidikan tinggi. Juga para anak konglomerat yang hidup seperti sultan dengan segala kemewahan.
Pria muda yang sukses mengembangkan perusahaan milik keluarga juga bukan Pandu saja! Menurut penilaian Jenna, Pandu Samidi mempunyai kepribadian narsisme, karena menilai dirinya sangat tinggi.
Dia terlalu membanggakan poin - poin nilai penting yang ada pada dirinya! Sampai dia melupakan dirinya yang juga harus menampilkan sikap sopan santun, ramah tamah dan menghargai orang lain terhadapku orang lain. Walaupun orang itu lawan bisnisnya sekalipun!
Wah, Si Beruang kutub Pandu itu ternyata sudah terlalu lama tinggal di planet Venus kali! Lupa kalau sekarang dia tinggal dan menetap di Indonesia. Negara yang dikenal penduduk dunia sebagai bangsa yang terkenal dengan warganya yang ramah tamah!
Jadilah sekarang Jenna selalu mempunyai seribu alasan untuk menghindari Keanu. Setiap teman masa kecilnya itu meminta dirinya untuk bertemu. Jenna menolak! Ada Keanu, tentu ada Tania. Kalau ada Tania? Nah si Pandu itu ikut hadir!
Jenna juga tahu, jadwal Tania pun mulai minggu lalu semakin padat. Setelah penayangan iklan itu mulai dikenal masyarakat. Gadis muda itu sekarang semakin banyak menerima tawaran menjadi model iklan produk yang lainnya.
" Jenna! Lo, nggak bilang kalau Tania itu sepupu Pandu! " tegur Mbak Sonya kesal.
Mereka bertemu kembali di kafe seberang kantor saat jam istirahat makan siang. Mbak Sonya semakin sibuk dan sering keluar kantor dengan semakin tingginya permintaan produk -produk kosmetik terbaru di beberapa gerai kosmetik di Jakarta dan sekitarnya.
" Saya juga baru dapat informasinya belakangan, Mbak! Maaf..."
Wajah cantik Mbak Sonya masih cemberut saja, selama dia menikmati sepiring nasi putih dengan ayam goreng saus mentega, capcay dan segelas lemon tea.
" Ntar cantiknya hilang, deh! Kalau cemberut begitu! " Ledek Bu Rully.
Beberapa teman dekatnya masih duduk semeja pun ikut tertawa. Apakah kita harus selalu menjadi yang orang yang pertama untuk mendapatkan gosip terbaru tentang orang- orang berkecimpung di dunia entertainment tanah air? Apa hal itu penting yang menjadikan seorang diterima dalam pertemanan para karyawati di perusahaan kosmetik Ismaya Beauty ini?
Nah, inilah yang tidak terlalu disukai Jenna , sejak tergabung menjadi karyawan di perusahaan Om Jhon dan Tante Ismaya. Mereka yang tadinya hanya mengikuti berita dan gosip artis terbaru hanya sekedar hiburan semata, malah menjadi terobsesi. Kini malah jadi terlalu mau tahu urusan kehidupan orang lain.
__ADS_1
Sedangkan Jenna punya penilaian tersendiri untuk menjadikan seorang itu sahabat atau temannya. Bukan Jenna angkuh dan sombong! Dia menyapa dan berbaik hati dengan mereka selalu teman kerja saja. Apalagi dia hanya pegawai junior.
" Si manajer rupawan itu kata Pak John, teman masa kecilmu juga, Jenna? " tanya Mbak Sonya lagi. Setelah dia hanya menghabiskan hanya separuh dan sepiring nasi di piring pesanannya.
" Masa sih? Apa kamu kenal Tania?" tanya pegawai yang lain.
Mata Jenna mengerjab agak malas. " Keanu itu tetangga saya depan rumah ketika dia tinggal di Pasar Minggu, Mbak! Kalau Tania, dia kenal dengan Keanu sewaktu mereka sekolah di Singapura..."
Senyum Mbak Sonya terlihat ganjil di penglihatan Jenna. Walaupun wanita itu dapat dikatakan pegawai senior dengan cara kerjanya yang profesional. Namun sisi lain dari wanita cantik ini mulai dikenali oleh Jenna. Mbak Sonya itu adalah wanita yang sangat ambisius, terkadang kurang peduli dengan kepentingan orang lain.
" Nanti aku kirim data email Tania. Baru kemarin dapat dari Mas Keanu!" Cegah Bu Rully cepat. " Kan kamu tahu sendiri cara kerja Pandu, Jenna sangat tidak suka dengan sikap arogan laki - laki itu. Walaupun dia punya team terbaik untuk iklan Tania itu, dan nyatanya cukup sukses sekarang."
Cepat Mbak Sonya membuka email di hape terbaru dan termahal saat ini. Benda itu juga yang menjadikan salah satu alat ukur untuk k menunjukkan betapa Mbak Sonya cukup sukses dengan karier dan pekerjannya saat ini.
Dulu sang papa yang meminta Jenna mengambil posisi kosong Manager HRD di kantor adik iparnya itu! Dengan alasan agar Jenna banyak belajar untuk mengembangkan bisnis di bidang kosmetik. Ternyata pergaulan wanita di sana sangat melelahkan bagi Jenna. Sebab pada dasarnya dia tidak suka mengusik kehidupan orang lain.
Mungkin karena Jenna terbiasa terlibat dengan kegiatan sang kakek yang berlatar belakang pendidikan militer. Bahkan kehadiran sang kakek di beberapa event masih dinantikan banyak orang.
" Sudah makannya? Yok kita balik! " Seru Mbak Sintia ceria. Dia memang sangat menikmati pekerjaan itu. Selalu semangat dan ceria setiap hari.
Rombongan cewek - cewek yang memegang posisi penting di kantor itu berjalan antri masuk pintu loby utama gedung itu. Sampai mereka dikejutkan dengan sesosok makhluk setengah dewa, Pandu Samidi!
Pria itu berdiri persis di dekat meja Kartika, sebagai Front office di kantor ini. Wajah gadis muda itu sudah sangat bercahaya terang laksana pelangi di langit mendung.
Langkah Jenna bergerak sangat cepat dan waspada. Maklum dengan tubuh setinggi 165 cm dia terlihat lebih mungil. Bila dibandingkan Mbak Sintia dan Mbak Sonya. Sepatu high heels yang mereka gunakan saja paling rendah haknya adalah tujuh cm.
__ADS_1
" Jenna!" panggil sebuah suara pria yang agak berat.
Langkah Jenna sudah masuk ke dalam lift yang langsung akan membawanya ke lantai atas. Tak sempat dia melihat siapa orang yang memanggilnya itu.
Di toilet itulah, Jenna sempat merapikan tatanan rambutnya. Akhir- akhir ini, dia mulai lebih tepat waktu untuk melaksanakan shalat Fardhu.
Itulah nasehat Oma Frida yang semakin sering didengar Jenna belakangan ini. Si Oma semakin mendekatkan diri di usianya yang tidak muda lagi. Beruntung saja wanita itu hidup dan tinggal dengan seorang yang berlatar belakang militer. Jadi anak- anaknya sangat terbiasa dengan disiplin, mandiri dan bertanggung jawab.
Sepasang mata tajam itu terus mengamati semua kegiatan yang dilakukan Jenna. Dia pikir kepergian gadis itu hanya untuk menghindarinya saat kembali ke ruang kerjanya ini.
Tubuh Jenna tersentak kaget. Bagai dialiri listrik berkekuatan ribuan volt. Di ruang mushola di lantai lima inilah dia bertemu dengan Pandu. Walaupun ada sekat pemisah di ruang musholla kantor yang tidak terlalu besar ini.
Tanpa polesan makeup dan rambut basah karena tersisa air wudhu itu, wajah Jenna terlihat sangat muda dan imut. Mungkin lebih terlihat sebagai gadis remaja yang baru berusia 17 tahun.
" Maaf, Pak. Permisi..."
Ucapan sopan Jenna hanyalah basa - basi saja. Sekedar untuk menghilangkan segala ketidaknyamanan dalam dirinya. Dia sengaja diam- diam melaksanakan sholat Dhuhur sendirian di sini. Sebab Kebanyakan para pria lebih sering sholat di Masjid yang tidak jauh letaknya, karena ada di seberang jalan gedung kantornya.
Sebagian laporan hari ini telah diselesaikan oleh Jenna dengan dua asistennya itu. Mereka terlihat lebih santai karena masih mengobrol sambil melihat komputer.
" Sudah selesai? " tanya Jenna.
" Mbak, ini berita nggak salah apa?" tanya Rosita masih terus terpaku pada hape dengan layar yang memperlihatkan WA group para karyawati di kantor ini. " Ini kiriman dari Mbak Sonya, tentang si model kita, Tania Esmeralda..."
Haduh, apalagi ini! Pasti Mbak Sonya mendapat tambahan amunisi dari email yang diterimanya dari Ibu Rully tadi. Mengapa dia harus mengorek- ngorek keterangan dan data diri Tania, Sih!
__ADS_1