
Kejadian tentang Dokter Niken yang mengebrak pintu ruang kerjanya, ternyata sudah didengar oleh banyak orang. Apalagi di ruang tunggu itu sudah terpasang CCTV.
Tentu rekaman itu bisa diakses oleh Pak Sanusi, yang di ruangannya itu juga ada layar monitor yang dapat memantau seluruh CCTV yang dipasang di gedung ini, sekaligus menjadi ruang kerja para operator. Sebab di klinik ini banyak digunakan berbagai peralatan mesin modern dan paling mutakhir. Semua itu digunakan dalam metode untuk perawatan kecantikan dan kesehatan kulit terbaru. Semua peralatan mesin canggih itu harus dirawat dan dioperasikan oleh operator terpercaya di bagian maintenance.
Jadi kemungkinan ada orang yang memberi komentar miring akan sikap Dokter Niken yang kurang profesional dalam pekerjaannya tersebut. Padahal dia dituntut mempunyai kepribadian yang baik untuk menghadapi para pelanggan yang memerlukan advis dan penanganan berbagai masalah yang mereka hadapi. Dari kesehatan kulit, perawatan kecantikan wajah sampai kasus obesitas.
Sepertinya Jenna tidak mau mengomentari sikap dan tindakan dari Dokter Niken itu, yang menurutnya, banyak minusnya. Namun seperti ada pepatah yang mengatakan " Dokter juga manusia!"
Semoga saja, lewat penilaian dari orang-orang yang ada di lingkungan kerjanya ini, dokter Niken lebih berhati-hati saja dalam bertindak dan bersikap. Agar dia segera mengintropeksi dirinya.
***
Rencana team kreatif dari program pembuatan iklan produk kosmetik milik Tante Ismaya itu juga mengalami kendala di lapangan. Pada saat ini, beberapa lokasi wisata alam di sekitar wilayah Bogor, Sukabumi dan Cianjur masih ditutup untuk umum. Mau meminta izin secara khusus pun tidak mudah. Harus melalui berbagai prosedur. Apalagi beberapa pejabat daerah di sana masih berupaya untuk mengantisipasi pencegahan penularan virus pandemi Covid 19 itu
Sampai terbersit ide dari Om Jhon untuk menggunakan fasilitas yang ada di villa keluarga milik Opa Damash. Jadilah Jenna menerima telepon dari sang Tante , saat dia baru memulai pekerjaannya.
" Jenna bisa dipakai itu, vila Opa Damash di Cilember?" tanya Tante Ismaya saat menelponnya pagi ini.
" Bisa, Tante. Tapi kan vila itu hanya tempat istirahat untuk keluarga yang biasa-biasa aja. Di sana nggak ada kolam renangnya atau taman yang indah. Di belakang villa hanya ada kebun buah-buahan, koleksi Opa yang dicangkok... Juga di depan villa adalah lahan pertanian penduduk setempat, yang ditanami berbagai jenis sayuran sebagai mata pencaharian mereka.
" Bolehlah! Tetapi kata Om kamu, ada beberapa vila mewah juga yang lokasinya nggak jauh dari dari vila Pak Damash. Nanti kita survei untuk lokasi pengambilan gambar sekalian disewa untuk para crew yang menginap dan mengerjakan iklan tersebut."
" Iya, Tante, Jenna kenal juga dengan mereka. Ada yang teman satu kerjaan dengan Opa dulu di ketentaraan. Lainya, ada punya Om Jay, Om Tantra bagus juga... Nanti Tante lihat sendiri, deh!"
" Boleh, tetapi kamu ikut, ya! Biar bantu Tante lagi dalam pembuatan iklan yang ini. Dulu juga kamu yang banyak bantu Tante!"
" Oke, nanti aku minta izin sama Opa. Kalau villa dipakai Tante Ismaya!"
" Terimakasih, banyak Jenna. Kamu memang bisa diandalkan!"
" Ih, Tante bisanya muji kalau ada maunya itu!" balas Jenna.
Ada tawa geli Tante Ismaya dari seberang sana. "Bukannya vila itu merupakan milik Pak Feri, juga?"
__ADS_1
" Ah, mana Jenna tahu soal kepemilikan vila itu, Tan. Semua itu urusan para orang tua. Pokoknya, keluarga boleh pake, kok!"
" Ya, sudah. Persiapan kita mulai hari Jumat saja!"Jelas Tante Ismaya memberi ancang-ancang.
Urusan untuk menggunakan villa mereka yang ada di daerah Puncak, tepatnya di desa Cilember jadi berita heboh bagi anggota keluarga Damash. Terutama Opa Damash dan Oma Frida yang mau juga pergi menginap di sana. Beliau tentu ingin melihat proses pembuatan video atau film untuk iklan dari perusahaan kosmetik milik Tante Ismaya.
Apalagi kali ini Bang Tedi yang menjadi tim promotor produksi yang sangat solid. Sebagian besar anggota team kreatif itu adalah para anak muda yang punya bertalenta di bidang broadcasting. Selain itu juga ada beberapa orang lama yang sering membuat video konten bersama Karolina.
Dulu Bang Tedi juga mempunyai keinginan untuk masuk jurusan kuliah seperti penyutradaraan atau pembuatan fim. Namun sang ayah, memberikan tuntutan agar anaknya masuk jurusan ekonomi, bisnis atau dunia usaha.
Beliau selalu menekankan kalau anaknya harus mempunyai usaha atau perusahaan sendiri. Sebab Pak Feri cukup merasakan asam- garamnya bekerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta.
Pekerjaan itu tuntutannya sangat tinggi, padahal ada batas usia untuk karyawan di sana untuk berkarier. Jadi beliau segera menerima tawaran seorang rekan kerja ayah sambungnya itu untuk mendirikan sebuah usaha. Berkat kemampuan dan keuletannya, perusahaan itu semakin besar. Sampai perusahaan itu merambah di segala bidang.
Semua anggota keluarga Damash mulai merencanakan liburan mendadak ke vila saat weekend nanti. Karolina juga sudah bersiap menata barang bawaan mereka dibantu suster Fani. Selain membawa Efron anak kesayangannya, dia juga membawa Mbok Yah, ART di rumah orangtuanya di Sentul.
" Aku ikut, Jenna! Nanti teman-teman Bang Marko bisa disewakan villanya Om Dasuki aja!" usulnya.
" Terserah...!" Jawab Jenna atas usul Karolina.
Mereka berangkat dalam beberapa kelompok. Tanpa berbarengan alias konvoi. Hal itu sesuai dengan anjuran Bang Tedi. Sebab cara seperti itu lebih simpel dan tidak menimbulkan tanggapan yang negatif. Terkait masih adanya pembatasan bepergian ke daerah lain, atau PPKM di daerah Bogor dan sekitarnya.
Pria itu juga berencana untuk menjemput Jenna di tempat kerjanya saja, di Salon Kelapa Gading. Jenna menitipkan mobilnya pada sekuriti di parkiran gedung salon. Beberapa anggota team sudah berangkat pagi tadi. Mereka membawa dua atau tiga mobil jenis SUV untuk mengangkut segala peralatan. Diantarnya adalah kamera pengambilan gambar yang tercanggih, yang dibeli oleh Bang Tedi sebulan yang lalu.
Jenna masih mengatur jadwal kerja bersama Mbak Lidya untuk kedua salon tersebut. Mbak Arini juga sudah menerima email yang dikirim Jenna.
Benar saja, Bang Tedi yang paling tidak sabaran saat harus menunggu di pelataran parkir depan gedung klinik. Dia segera masuk ke dalam klinik itu untuk mencari keberadaan Jenna. Beberapa pekerja di sana tertegun melihat sosok kakak Jenna yang satu itu. Karena memang kakaknya tidak pernah datang ke salon milik Tantenya ini.
Sosok Tedi Darmawan yang penampilannya lebih menyerupai seorang pesohor, bila dibandingkan dirinya sebagai pekerja kantoran. Meskipun kedudukannya saat ini, di kantor pusat, cukup mentereng juga.
Tedi Darmawan memang lebih cocok menjadi model atau aktor. Sebab tinggi tubuhnya mencapai 182 cm. Bertubuh tegap dan atletis, karena hobinya berolah raga. Wajahnya juga sangat rupawan yang merupakan perpaduan dari Jawa, Sunda dan Minang. Sampai ada satu darah Eropa yang menitis pada hidungnya yang bangir dan bola matanya yang agak coklat muda. Itulah salah satu gen yang muncul dari warisan kakek buyutnya yang keturunan Minang- Belanda. Beliau adalah almarhum Kakek Pak Feri Darmawan.
Siapa yang ditemui oleh kakak Jenna itu di lantai dua? Tentu saja dokter Niken yang cukup tertarik melihat pemandangan yang terlihat di depan jendela kaca ruang kerjanya yang menghadap ke parkiran utama di depan gedung klinik ini.
__ADS_1
Di sana ada kesibukan yang tidak habis- habisnya sejak seminggu ini. Termasuk kepergian dua ahli make up atau MUA dari salon ini, pagi tadi.
Mata Dokter Niken membulat, tertuju pada sosok pria tampan yang keluar dari mobil BMW berwarna biru navy metalik itu. Malah pria itu terlihat memasuki gedung ini.
" Maaf, bisa bertemu Jenna, ya? " Sapa Bang Tedi sopan kepada dokter muda itu.
Senyum cerah Dokter Niken menjadi suram. Setelah pria tampan itu menyebut nama perempuan itu, yang menurut penilaian dirinya, terlalu sok mengatur. Hanya karena salon ini milik Tantenya.
" Di sebelah!"
" Thanks!" Jawab Tedi. Agak sedikit bingung dengan perubahan sikap salah satu dokter yang diperkerjakan Tante Ismaya.
Benar saja, Jenna masih mengatur draf pembuatan iklan itu bersama Tante Ismaya. " Hey, Ted! Sudah lama menunggu, ya? Berapa anak buah dalam tim kerjamu kali ini?"
" Ada 12 orang, Tan. Apa ada masalah?"
" Kita nggak mungkin menggunakan villa keluargamu saja. Ada Opa Damash juga kan. Di sana?"
" Itu sih, gampang ... Suruh Jenna aja mencari vila lain untuk menginap. Hampir semua pemilik vila di sana, kenal Jenna, sebagai cucu Pak Damash!"
" Kan aku sudah bilang dari kemarin, Tante... Kita semua pakai villa Opa termasuk Keanu dan Rara. Kalau untuk tim kerja dan yang ada di lapangan, sewa villa Pak Radit di dekat lapangan... Aku kenal baik dengan penjaga di sana!"
" Oke!" ujarnya yang sedikit panik tadi.
Tante Ismaya segera memasukkan berbagai catatan dan laporan ke dalam map besar. Dia akan berangkat dengan anak tunggal dan suaminya kali ini.
Si kakaknya itu mengambil tas besar dari tangan Jenna yang berisi pakaian gantinya. Kalau untuk jaket, kaos dan selimut tebal sebagian masih tersimpan di lemari di villa di salah satu kamar tidur di lantai atas.
Biasanya pengaturannya adalah untuk kamar tidur Opa dan para orang tua ada di lantai bawah. Untuk para kaum muda dan anak-anak di lantai atas.
Bahkan di balkon lantai dua yang cukup lebar itu dipasang tempat tidur gantung, alias Hammock. Biasanya para anak muda yang tidur di sana, bila udara di Puncak tidak terlalu dingin. Justru di musim kemarau sekarang, udara di sana bisa sampai mencapai suhu dibawah 16 derajat celcius di tengah malam.
Dokter Niken keluar dari ruangan, ketika melihat rombongan Ibu Ismaya turun dari lantai dua. Wajah manis wanita itu menatap pada sebuah tas besar yang tadi pagi digotong Jenna dari bagasi mobil Honda Jazz merahnya itu. Sekarang tas bepergian yang tidak terlalu bagus itu dibawa oleh si pria tampan itu. Wajah dokter Niken sedikit galau....
__ADS_1
Mbak Lydia juga terkejut ketika dia juga mengawasi gerak - gerik wanita itu. Tadi dia sempat membuka pintu ruang kerjanya.
Menurut pengamatannya. Apakah Dokter Niken itu mempunyai kepribadian ganda? Masa Ibu Ismaya tidak memperhatikan gejala yang ada dirinya, yang selalu berubah -ubah setiap waktu. Bahkan wanita itu bisa lolos seleksi dari sepuluh dokter yang dipanggil dan diwawancarai oleh si pemilik salon dan klinik itu sendiri. Padahal saingannya adalah dokter yang lebih senior dan cukup berpengalaman di bidang kecantikan juga.