
" Neng Jenna, ya ?" tanya seorang pria tua itu ketika membukakan pintu pagar dari lapisan kayu jati tebal yang tebal dan berat.
Dari tadi Jenna sudah memencet bel di belakang pagar tinggi itu berkali-kali. Vila inilah yang punya halaman luas dan taman terbaik, yang lokasinya paling dekat dengan vila Damash. Selain itu juga terdapat kolam renang pribadi. Yang Jenna tahu, sudah lama Om Sidharta tidak pernah terlihat lagi berada di villa mewahnya itu. Sejak sebelum wabah covid datang melanda tanah air.
" Iya, Mang Koya. Masa lupa sama saya?"
" Nggak lupa! Cuma sudah lama juga Neng Jena nggak kelihatan dan jarang mampir ke sini. Tanaman strawberry di rumah kaca sudah lama diganti sama tanaman paprika, Non." ujarnya sopan. " Biar bisa jadi duit!"
" Boleh masuk dan ngobrol sebentar di dalam, Mang?" pintanya sopan.
" Ayuk, atuh. Ini pacar Neng Jenna, ya?" tanya pria tua itu ketika mempersilakan kedua tamunya siang itu masuk dan duduk di teras depan vila utama. Saat itulah dia baru menyadari sosok pria muda yang ada di samping Jenna.
Mereka masuk, sambil mendorong motor masing-masing. Maklum yang dibuka pagar yang lebih kecil. Hanya muat untuk dua orang saling bersisian jalan.
Keanu dan satu staf bagian produksi minta izin pada Mang Koya untuk melihat-lihat keadaan di sekeliling vila yang nampak bagus dan mewah itu. Tetapi pagarnya cukup tinggi. Sebagian dasarnya dari beton hampir mencapai 2 meter. Ujungnya diberi besi teralis dengan kawat berduri.
Jenna tersenyum masam." Mang Koya lupa, ya ? Sama anak bandel ini, nih ! Yang dulu suka bantuin Mamang kalau sedang menguras kolam ikan di belakang villa ini."
Pria itu menatap tak percaya. "Ini Den Tedi? Ah, masa? Sekarang cakep banget! Dulu mah, agak kurus badannya.Terus kulitnya agak gelap. Sedikit . Ini benar Tedi kakaknya Neng Jenna?" tanya lagi kurang yakin.
"Iya, Mang! Saya Tedi, "ujar Tedi kalem
Wajah Mang Koya tambah berkerut - kerut karena berpikir agak keras. Sesekali mulutnya komat-kamit nggak jelas, mau berbicara tetapi tidak jadi.. " Hmm, berapa tahun nggak ke sini ya, Den? Ada mungkin sampai enam tahun?"
Jenna tertawa geli. " Baru 2 tahun terakhir ini, Mang! Kami sering kok datang dan nginap di villa... Tetapi pintu pagar Villa Om Sidharta ini yang nggak pernah terbuka, deh."
" Iya, Neng. Sebelum covid, Nyonya Besar sudah sakit keras. Dibawa berobat ke beberapa rumah sakit besar di Jakarta juga nggak sembuh-sembuh. Sampai ada yang ngasih tahu untuk dibawa berobat ke luar negeri... Pak Sidharta membawa ibu dan keluarganya tinggal di sana, agar Nyonya Besar dapat menjalani pengobatan sampai tuntas. Tetapi sayangnya, Nyonya Besar juga nggak berumur panjang, Neng . Baru beberapa bulan dirawat, sudah meninggal... Terus mereka tertahan di negara itu. Belum bisa kembali sampai sejauh, ini."
__ADS_1
" Memang keluarga Om Sidharta tinggal di mana sekarang, Mang?"
" Kalau nggak salah, di Singapura, begitu, " ujar Si Mamang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Tetapi, Villa ini masih bisa disewakan, Mang?"
" Bisa, Neng! Cuma villa belakang yang nggak boleh disewa. Karena khusus buat anggota keluarga, saja!
Neng Jenna yang mau pake villa ini?"
" Bukan, Mang... Ini tim Bang Tedi mau ngambil fim di taman villa ini untuk iklan.Tempat ini cocok karena agak tertutup. Bisa kan, Mang?" tanya Jenna lagi.
" Bisa, bisa!"
" Ya, udah kami ambil sampai Minggu sore, bisa Mang?" sahut Tedi.
" Gampang itu, Den Tedi! Sebentar, biar si Nia menyiapkan minuman dulu!"
Ada seorang wanita yang membawakan mereka minuman hangat ke meja di depannya. Di sediakan juga sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan asapnya, tanda baru diangkat dari atas kompor.
" Ini anaknya, Mang Koya, kan?" tanya Jenna mau tahu. Sebab wajah wanita itu agak familiar.
" Iya, Non. Saya Nia, anak sulung Mang Koya dan Ibu Titin... Dulu saya tinggal di Cianjur, di kampung suami... Sekarang saya sama anak - anak kembali ke sini!"
" Berapa anaknya, sekarang, Teh?"
"Dua, Non. Bukannya ini Non Jenna, cucunya Pak Jenderal?" tanya wanita itu lagi setelah mengamati wajah dan penampilan Jenna dengan seksama.
__ADS_1
" Iya!"
" Dulu aja, Tuan Sidharta menanam strawberry di green house untuk di berikan kepada Non Jenna dan Non Karolina... Sebab itu bibitnya diimpor dari Eropa. Sayangnya, sekarang green house hanya ditanami bibit paprika unggul untuk dijual di supermarket ... Sesekali Tuan Sidharta masih mentransfer uang kepada Abah untuk membayar listrik. Sebab biaya untuk perawatan villa ini juga sangat mahal, Non!"
" Apa Teteh juga ikut menanam sayuran yang lahannya ada di depan Vila Damash?"
" Iya, Saya sama Ambu ikut bantu-bantu tanam sayuran di sana. Lumayan upahnya buat beli tambahan lauk dan bumbu. Itu lahan pertaniannya punya Pak Damash, kan?"
" Iya. Tetapi Opa sudah lama mempercayakan kepada Pak Suheri untuk tetap ditanami sayuran, dan beberapa tanaman hidroponik. Sebab semua sayuran itu sudah dipasok ke beberapa swalayan di Jakarta."
Tedi hanya tersenyum miris... Apa ekonomi keluarga Sidharta Amrin sudah jatuh? Sebab yang dia tahu Om Sidharta berbisnis dengan membuka showroom mobil dan motor yang asal pabrikannya dari negara Jerman... Beliau mempunyai beberapa cabang yang dibuka di Jakarta dan Tangerang. Sedangkan keluarga istrinya mempunyai beberapa gerai toko barang- barang mewah seperti tas, sepatu atau aksesoris yang diimpor dari Italia atau Perancis. Toko itu ada di mall - mal paling eksklusif di Jakarta.
Di teras depan itu, terjadilah tawar menawar harga sewa untuk penggunaan vila selama 2 hari 2 malam. Bahkan sampai Bang Tedi menawarkan bantuan khusus untuk mengiklankan penyewaan villa itu, lewat media sosialnya miliknya. Biasanya tempat seperti ini akan ramai menjelang weekend, libur panjang sekolah, tahun baru juga pada libur hari raya.
Jika disewa, tentu ada uang lebih, yang akan digunakan Mang Koya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dari keperluan makan dan selebihnya digunakan merawat villa agar tetap terjaga keindahan taman-tamannya. Bunga-bunga di sana, bibitnya pun dibawa dari kampung halaman mertua Om Sidharta yang istrinya merupakan wanita campuran Indonesia-Jerman.
Ternyata setelah dilihat, villa utama di bangunan depan itu selalu terjaga kebersihannya. Untuk makan, keluarga Mang Koya tidak dapat menyediakan. Tetapi untuk keperluan air panas dan air minum, istrinya selalu menyiapkan di pantry. Bangunan itulah yang menjadi bangunan penghubung antara vila utama dan rumah tempat tinggal Mang Koya, yang dibuat seperti rumah panggung. Di belakang vila itulah ada dua petak besar kolam ikan. Biasanya mereka memelihara ikan mas dan ikan lele.
Justru kesibukan persiapan team kerja Bang Tedi untuk membuat set pengambilan fim, itu menjadi tontonan tersendiri untuk anak dan para cucu Mang Koya. Mereka boleh menonton pengambilan gambar itu nanti pada tempat yang ajak jauh dan terlindungi juga dilarang membuat keributan suara.
Di villa utama itu terdapat lima kamar yang cukup nyaman dan lapang, dengan dua kamar mandi tersendiri. Anak buah Bang Tedi segera mengatur barisan. Masing-masing kamar akan diisi oleh dua atau tiga orang. Di sana ada 4 anggota team perempuan yang ditempatkan di dua kamar berbeda, yang lebih kecil. Sedangkan para pria, saling berbagi di tiga kamar lainnya. Peralatan mahal seperti beberapa kamera, dan alat pendukung lainnya disimpan di ruang tengah, pada sebuah lemari besar berkunci.
Di Villa Damash suasana lebih meriah lag, karena ada banyak orang yang menginap di sana... Selain ada Opa Damash dan istrinya. Tante Ismaya juga membawa suami dan anak perempuannya untuk ikut menginap juga. Mereka para pasangan itu menempati kamar tidur yang ada di lantai bawah. Juga dua kamar lagi ditempati oleh Karolina dengan Efron , satu kamar lagi dipakai suster Fani dan Mbok Nah, ART yang dibawa Karolina dari rumah orang tuanya di Sentul, untuk membantu mereka memasak besar.Karena yang akan diberi makan lebih dari sepuluh orang.
Di kamar atas, Jenna menempati kamar kebangsaannya, dengan balkon mini tersendiri. Menghadap taman samping. Tetapi Noura, anak Om Jhon tidak menolak tidur bersama Jenna di kamar yang cukup luas, nyaman dan bersih itu.
Mereka masing-masing tinggal satu kamar, yaitu Bang Tedi, Keanu dan Rara. Sebab di sana ada lima kamar dengan ruangan yang tidak terlalu besar tetapi hangat dan nyaman.
__ADS_1
Dulu biasanya kalau banyak anak - anak yang datang dan menginap di villa ini, akan digelar beberapa kasur lipat di ruangan tengah yang besar itu. Jadi mereka akan tidur bersama - sama, dengan kasur lipat yang berjejer sampai memenuhi semua ruang tengah itu.
Anak-anak itu akan membawa sendiri selimut dan bantal masing- masing . Sambil ngobrol dan bercanda, menjelang waktu tidur. Mereka sesekali memandangi ke jendela kaca yang memperlihatkan gelapnya malam. Tetapi ada banyak kunang-kunang yang terbang di atas lahan pertanian, juga lapangan luas di bawah vila sana.