Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 24. Kerja Keras Jenna


__ADS_3

Bu Rully kini sudah kembali bertugas lagi di meja depan ruangan sang Bos. Bapak Jhon Sagara. Setelah seminggu Bu Rully menjalani pemulihan setelah dirawat di rumah sakit.


Beliau tetap meminta Ibu beranak dua anak perempuan yang sudah remaja itu tetap tinggal di kantor. Mengurus berbagai berkas kerja, surat - menyurat sampai menyusun jadwal sang bos.


Sementara, dia meminta Jenna mendampinginya untuk mengikuti berbagai rapat dan pertemuan dengan pengusaha lain yang lebih tertutup.


"Memang harus perusahaan dia, Om?"


Sang Om masih sibuk membaca ulang berkas yang sudah dirapikan Bu Rully. Jenna terdiam. Dia menatap pria itu yang tampak fokus dengan kertas- kertas di tangannya. Hampir sebagian besar adik- adik dari Mamanya memang sangat tekun belajar. Termasuk Om Jhon, adik bungsu Mamanya itu, mau mempelajari segala hal di luar bidang akademiknya sebagai dokter.


"Kamu maksud, Pak Pandu ?"


" Wii, Om dengar juga. Kirain..."


" Jangan kurang ajar, Jenna. Ngatain orang tuli, begitu?"


Wajah Jenna berubah jadi sedih dan sok imut. " Siapa yang ngatain Om gantengnya aku seperti itu?"


"Ugh, serius, Jenna!" Kesal, jari - jemari pria itu mengacaukan tatanan rambut Jenna.


Cepat - cepat Jenna merapikan kembali tatanan rambutnya yang sudah dicatok lebih dari sepuluh menit, saat dia bangun pagi tadi. Sebelum berangkat ke kantor tadi.


"Tadi Jenna tanya, apa harus bekerja sama dengan Pak Pandu. Orangnya kaku, bicaranya sedikit. Sepertinya menganggap urusan ini jadi sangat mudah di tangannya..."


" Kamu memperhatikan itu?"


" Jelas ... Cari rekanan kerja yang lain, Om. Sayang kan kerja keras Tante Ismaya, tak di apresiasi oleh orang yang hanya tahunya duit dan duit..."


Mata pria yang masih awet muda menjelang usianya ke empat puluh tahun, tampak suram. Dia sudah terlanjur berjanji pada istrinya untuk mencari perusahaan iklan yang cukup bonafide untuk menghargai kerja keras Istrinya itu, setelah cukup lama meneliti berbagai bahan dan obat untuk produk yang satu ini.


Ternyata dalam satu tahun ini sang keponakan telah belajar sangat banyak, tentang mempelajari karakter dan watak manusia. Pria itu juga cukup nyaman kalau bepergian dengan si cantiknya yang satu ini. Walaupun kurang menyukai pekerjaannya surat- menyurat, dan administrasi yang cukup rumit. Namun Jenna sangat mahir dengan mengolah angka - angka dan menyusun data. Sehingga, laporan di departemen yang dipimpinnya selalu tepat. Apalagi kata-katanya yang polos, to the points. Cukup membuatnya terhibur saat pria itu sedang suntuk dengan segala tuntutan pekerjaan.


" Bawa Bu Rully aja, Om. Untuk pertemuan besok. Biar aku tunggu di loby sekalian tunggu big bos."

__ADS_1


" Papamu ada di sini, manis?"


" Mana mau si papa turung gunung kalau sudah ada anak buah yang datang!"


" Tedi, Dia sudah di Jakarta? Suruh temui Om, setelah kita selesai rapat jam dua nanti. Segera email saja berkas yang sedang kamu kerjakan, edit yang rapi!"


" Oke, Om." Sahut Jenna.


Sekarang Bu Rully dan Om Jhon menuju lift, setelah mereka tiba di sebuah gedung perkantoran terkenal. Untuk membawa mereka menuju ke lantai dua belas, tempat berlangsungnya rapat di siang ini.


Tampaknya Ibu Rully pun tak bisa berpangku tangan terlalu lama dengan keadaan itu. Sekarang dia sudah dapat mendampingi sang bos lagi untuk menghadapi Pak Pandu.


Jenna duduk di ujung ruang tunggu loby. Dia membuka laptop, dan mengetik berbagai berkas itu yang tadi dikirimkan pamannya itu melalui email. Dia cepat melakukan pekerjaan itu, tangan nya terus mengetik dan mengetik.


Kesibukan nya itu membuatnya kurang memperhatikannya keadaan di sekitarnya. Suasana lobi di gedung ini sangat nyaman dengan jendela besar yang memperlihatkan kesibukan lalu lintas di jalan raya di depannya. Namun di dalam ini tetap sunyi dan hening. Sebab kaca- kaca besar yang menjadi dinding di sekeliling ruangan besar ini seperti meredam semua keramaian itu.


Sampai Jenna tidak menyadari kalau dia sudah bekerja lebih dari dua jam lamanya. Dia juga tidak mengetahui kalau sedang diperhatikan oleh seorang pria yang cukup tertarik dengan kehadirannya.


" Waduh , Mbak Jenna. Sudah lama pindah kantor dan bekerja di sini?"


" Pak Radi? Sama Tante Ismaya?"


" Iya, Mbak. Tadi Bu Ismaya duluan naik. Saya yang mengantar makanan buat yang sedang rapat."


Sekilas Jenna melihat logo pada kantong kertas yang dipegang supir sang Tante. Rupanya, Tante berharap banyak dari hasil rapat tersebut. Sebab makanan itu berasal dari sebuah restoran terkenal. Apalagi yang dibawa sang supir lebih dari satu kantong.


Seketika, lorong menuju lift itu ramai, oleh dua orang lain yang ikut membantu Pak Radi membawa kantong minuman dan kue. Mereka semua menuju ke lantai dua belas tempat pertemuan itu diadakan.


Jenna masih menyelesaikan satu laporan lagi. Saat dia didekati oleh sang kakak tercinta. Dia mengenal dari wangi parfum yang tercium walaupun pria masih berjalan dan berjarak agak jauh.


Benar saja, Bang Tedi sudah tersenyum - senyum tak jelas melihat si Adek yang duduk menyendiri dan mengerjakan sebagian tugasnya.


" Ngapain duduk di sini?"

__ADS_1


" Ya, kerja lah!"


" Maksud Abang, kenapa nggak di ruang rapat sana?"


" Tadinya, mau balik ke Kelapa Gading. Tanggung ada data yang perlu dikoreksi lagi. Ya, udah kerjain di sini.."


" Ikut ke Denpasar saja, yuk!"


" Ngapain?"


" Katanya, mau kerja?"


" Ogah, kerja sama Abang nggak keren. Katanya asisten, paling disuruh mengurus rumah sama nyiapin makanan untuk bos. Itu sama aja kayak kerjaan nya Mak Isah!"


Si Kakak tersenyum tidak jelas. Sebagain besar tebakan adiknya itu benar. Sebagai seorang yang perfeksionis, dia tak suka rumahnya tidak rapi, apalagi keperluan pribadinya. Hitung- hitung, Jenna dapat mengetahui semua urusan rumah tangga. Sehingga adiknya itu dapat menyuruh beberapa ART untuk mengurus segala keperluan nya di sana.


" Salah, Dek! di kantor Abang. Sana bilang sama Om Jhon!"


" Tahun depan aja!" Kata Jenna ngeyel.


Sama juga bohong tinggal di Pulau Bali Saat ini. Dia mendapat laporan dari beberapa sumber berita dengan semakin berkurangnya jumlah wisatawan tahun ini, karena beberapa Negera menerapkan sistim lockdown. Sehingga mereka tidak dapat berpergian ke mana pun. Apalagi bepergian ke luar negeri.


Si Abang segera membantu membawakan segala barang milik si adek yang dapat masukan ke dalam tas besar. Termasuk laptopnya.


Suara dentingan lift dan desir itu membawa mereka ke lantai yang dituju. Tangan si kakak terus mengandeng Jenna menuju ruangan yang agak besar di sudut sana. Dengan tulisan besar, Ruang Rapat Utama.


Wajah- wajah orang- orang di sana menatap, Jenna dan Tedi yang mengetuk pintu ruangan besar itu dan mendorongnya agar terbuka.


" Tedi? keponakan Tante yang ganteng! Sini Bang. Tante kangen tahu?"


Tubuh besar si Abang dipeluk Tante Ismaya penuh rasa sayang. Mana mau peduli wanita itu dengan pandangan orang lain. Termasuk dua kolega dari Pak Pandu yang hadir dalam rapat itu.


" Aduh si cantikku juga ikut. Jangan ngambek.Dong! " Tegur si Tante lagi. Dengan iseng dicubitnya pipi tirus Jenna

__ADS_1


Si Om memanggil Jenna untuk mendekat. " Terima kasih untuk laporan dan datanya, Jenna!"


Di sudut ruangan, Bu Rully dan yang lain- lain masih menikmatinya makanan yang di kirim khusus oleh Ibu Ismaya siang ini, atas keberhasilan kerja sama proyek baru ini.


__ADS_2