
Wajah Jenna terlihat semakin suram dan cemberut ketika memandang sahabatnya Kak Farhan itu. Belum lagi dengan ikut campur tangannya Marvin pada peristiwa terakhir. Saat Karolina berniat mengambil sisa barang di rumahnya di sebuah perumahan di kawasan Bogor.
Kalau Marvin tak menelpon Farhan! Tentu Jenna tak perlu main tangan melihat cara pria itu memperlakukan Karolina sebagai istrinya. Puas juga Jenna menghajar laki - laki yang dulu hampir dijadikan role model bagi Jenna untuk pria yang kelak akan mendampingi hidupnya.
Eh, ternyata bungkus mentereng Kak Farhan tidak semenarik isinya... Pria itu lebih sering diejek Jenna anak mami. Sebab peran Ibu Nyai sangat besar di di kehidupan lelaki itu yang menjadi anak bungsu dalam keluarga Hisbillah itu. Bahkan setelah dia berumah tangga dan mempunyai seorang anak, si Ibu tetap campur tangan. Sampai lelaki itu tak berani menolak permintaan Sang ibunda untuk menduakan Karolina. Dengan menikahi gadis muda yang dipilihkan si Ibu menjadi istri keduanya.
Sejak sepuluh menit yang lalu, Marvin sudah menunggu kedatangan Jenna di halaman parkir salon ini. Jenna terlihat melamun dan berpikir sangat keras di dalam mobil itu agak lama. Tentu dengan segala konsekuensinya, jadilah dia mengetuk kaca jendela mobil Honda Jazz itu. Sekarang Marvin sudah terkena imbas dari hasil perbuatannya tadi. Karena dianggap mengganggu kesenangan Jenna yang akhir-akhir ini semakin senang melamun.
Sebab sudah dua kali dia mengetuk kaca mobil tepat di sisi Jenna duduk. Di kursi pengemudi itu . Gadis itu memang bereaksi dan malah berakhir marah!
" Tadi Mbak Karolina sudah melihat mobilmu datang. Dia menunggumu di dalam kantor sudah sejak 1 jam yang lalu di lantai dua!"
" Ya, sudah, sana!" Tolak Jenna ketika lelaki itu bermaksud membukakan pintu mobil untuknya.
Marvin maklum , Jenna semakin susah didekati. Setelah menurut penilaian sepupu Karolina itu, kalau dia masih berhubungan dekat dengan Farhan. Juga masih membela kepentingan mantan suami Karolina itu.
Di dalam kantor sudah ada Karolina dan Baby Efron. Ada rasa rindu Jenna melihat bayi itu tumbuh bertambah besar dan tampan. Setelah melewati ulang tahun pertamanya beberapa bulan yang lalu. Dikecup pipi tembem dan bulat bayi itu tanda sang suster telah menggurus bayi ini dengan sangat baik.
" Kenapa nggak telepon mau datang?" tanya Jenna menuduh. Sebab dia kasihan melihat ibu satu orang anak itu menunggunya cukup lama di sini.
" Huh, percuma! Sudah dua kali aku telepon nggak dijawab. Kamu sih, Jenna kalau di dalam mobil masih menyetel musik keras-keras, kan?"
Tuduhan Karolina ini memang benar. Lebih aman mendengar musik kesukaannya daripada menggunakan hape, tidak hanya akan menggangu konsentrasi Jenna saat membawa mobil. Juga akan membahayakan bagi pengguna jalan yang lainnya.
Kecerobohan dalam mengemudikan kendaraan selalu dialamatkan kepada kaum wanita saja! Bahkan Jenna sudah gatal rasanya ingin mengajukan protes kepada orang-orang yang suka menyalahkan para wanita yang membawa motor dengan salah menyalakan lampu sein ke kanan tetapi belok ke kiri. Di jalan raya pun banyak kaum pria yang melakukan hal serupa! Justru mengapa para emak- emak yang dijadikan bukti kongkritnya!
Apalagi sekarang Jenna membawa kendaraan roda empat. Padahal dia sudah mahir mengunakan kendaraan itu setelah dulunya belajar mengemudi dengan kendaraan dinas Opa yang buatan zaman jadul, alias Jeep tentara. Dia sudah bisa membawa kendaraan itu berkat dilatih oleh sang Opa di usia 15 tahun.
__ADS_1
Justru musuh para wanita yang membawa mobil adalah para pengemudi motor yang selalu berlaku seenak udelnya sendiri di jalan raya. Apalagi dengan pemotor arogan yang membawa motor dengan mesin yang lebih besar daripada motor matic pada umumnya. Dialah kini yang menjadi raja jalanan di jalan- jalan kota Jakarta dan kota- kota di sekitarnya.
" Kamu itu enggak modern banget Jenna! Baru juga berumur 20 tahunan... Selera musikmu sama dengan Papa Feri? Itu lagu- lagu barat jadul. Jenna!"
Mata Jenna melotot! Dilarang menghina selera musik seseorang! Itu hak azasi manusia tahu.
" Dari pada kamu, emak anak satu suka dengar K-Pop, suka jingkrak-jingkrak nggak jelas! Apalagi kalau mendengar lagu- lagu Pop Indonesia yang melow yang menyayat hati. Move on Karolina! Buanglah mantan pada tempat seharusnya!"
" Sial, Lo!" ucap Karolina sambil melempar sepupunya itu dengan benda- benda yang ada di meja kerja itu. Sampai dia menemukan sebuah pensil.
" Hey, dilarang ada kekerasan di sini!" Ledek Jenna.
"'Ayo Jenna, ikut aku untuk menemui kakak Farhan. Dia minta bertemu dengan Efron!"
" Ngapain, coba. Nemuin si kutu kurpret itu lagi?
" Biar saja, Karolina! Mana janjinya untuk memberi kamu hasil separuh dari penjualan rumahnya di Bogor... Apa dia juga memberi uang nafkah untuk anaknya setiap bulan? Nggak bisa begini! Setiap kemauannya tidak dituruti bisanya main ancam, Dasar anak mami!"
" Makanya, aku minta tolong kamu ikut!"
" Sekarang? Terus ke Bogor! Males, ah... Pekerjaanku lagi banyak - banyaknya Karo ! Apa kamu mau bantu urusan salon yang di Kelapa Gading?"
" Boleh?"
" Ya, Boleh! Kamu hanya perlu datang seminggu dua atau tiga kali! Apa konten yang kamu buat kurang menghasilkan?"
" Bukan kurang Jenna! Aku cuma sedikit bosan ...Apa aku perlu buka usaha, ya? Biar ada tantangannya?"
__ADS_1
"'Terserah! Mungkin ada usaha yang menarik perhatianmu! Mama pasti bisa banyak memberi masukan soal hal itu!"
Setelah menyerahkan berbagai jadwal dan pembelian barang- barang untuk produk salon kepada Mbak Arini. Mereka langsung pamit. Pertemuan diadakan di sebuah restoran di daerah Jakarta Pusat. Malas berada satu mobil dengan Marvin yang dipercaya Karolina membawa mobil sedan terbarunya itu. Jenna malah memilih menyetir sendiri mobilnya.
Di taman belakang dari resto itulah, Farhan dan ibunya sudah menunggu... Sempat Jenna menelpon Bang Tedi dan menanyakan alasan asisten kakaknya itu boleh keluar di jam kerja kantornya.
Bang Tedi tertegun ketika mengetahui lelaki itu dijadikan perantara untuk Farhan bertemu dengan Karo dan anaknya. Dia segera menelpon pengacara yang dulu menggurus perceraian mereka.
" Ayuk, Jenna ! Kamu masih dapat menghajar Kak Farhan kalau dia masih bersikap menyebalkan seperti yang dulu!" bujuk Karolina lagi.
Sebenarnya Karolina juga malas bertemu dengan dua mantannya itu.
Mantan suami dan mantan Ibu mertuanya. Dulu mereka begitu baik menerima kehadirannya sebagai anggota baru di keluarga mereka. Apalagi dia adalah cucu seorang Andrian Saputra Damash...Mantan jenderal yang memasuki dunia bisnis perdagangannya dalam negeri. Juga aktif menjadi ketua organisasi sosial, olahraga dan keagamaan.
Kehadiran Jenna membuat Kak Farhan tidak nyaman. Terlihat dari cara duduknya yang gelisah. Suster Fani absen sejak dua hari lalu karena menengok ibunya yang sakit di Sukabumi. Untuk saat Ini Marvin masih bisa diandalkan untuk menjaga bayi itu yang sudah bisa berjalan ke mana-mana.
" Sini, Jenna ! " Duduk ajak Ibu Nyai sopan.
Alis mata Jenna terangkat sedikit setelah mendengar suara wanita itu yang dulunya begitu sengit menginginkan anaknya bercerai dengan Karolina yang tak mau dipoligami. Huh! Bisa saja Karolina melaporkan pernikahan kedua Farhan ini ke kantor polisi sebab, Mereka menikah tanpa izin dari istri pertama.
" Kamu sehat-sehat, Jenna?" tanya Wanita berhijab lebar itu.
" Baik- baik, Bu!" Ujar Jenna kalem. Kesambet Genderuwo penunggu pintu tol dari Kota Bogor menuju jalan tol Jagorawi, si Ibu ini, ya? Hilang semua sifat angkuh dan mau menang sendiri di wajah wanita tua itu. Apalagi beliau tahu anak kesayangan itu pernah dihajar Jenna sampai babak belur.
" Ngomong langsung saja Kak Farhan! Kami masih banyak kerjaan lain yang menunggu!" ujar Jenna mulai kesal.
Memangnya mau ditraktir makanan atau minuman mahal di resto ini akan membuat kemarahan Jenna mencair. No Way! Atas sikap pengecut Kak Farhan. Pria itu selalu berlindung di bawah kekuasaan ibunya itu.
__ADS_1
Karena tetap tak ada niat Kak Farhan untuk segera menyampaikan kata-kata mutiaranya, Jenna mulai kesal. Dia hampir saja menarik tangan Karolina untuk berdiri dan segera pergi meninggalkan restoran ini.