
Uni Neti akhirnya mengajak mereka kembali ke salon. Sebab dia sudah ada janji siang nanti dengan seseorang gadis ABG untuk mengecat rambutnya. Janji itu akan dilaksanakan pada pukul 15.00 nanti.
Kali ini, Jenna yang membayar harga bakso, dengan istilah mentraktir mereka. Sebab kedua pegawai itu dengan sangat sabar menunggu tadi, agar bersama - sama dapat makan bakso di tempat ini. Walaupun tujuan Jenna tadi keluar dari salon adalah untuk mengintai si 'Dia'. Juga bermaksud untuk menghindarinya. Jenna takut dikenalinya lelaki itu.
Malas saja dia berurusan dengan salah satu makhluk lelaki di bumi ini yang merasa paling hebat.. . Itu dulu zaman peradaban di Eropa yang masih menganut paham lelaki lebih tinggi derajatnya dari wanita.
Padahal ada paham terbaru yang berlaku di negeri 62 ini, kalau mahkluk terkuat di sana adalah, 'Kaum Emak- emak'! Hayo siapa berani menentang ajaran agama yang mengatakan kalau.' Surga itu di telapak kaki ibu'?
Entah mengapa, sejak memasuki pintu depan utama gedung salon itu, Jenna sudah merasakan ada bau- bau tak tidak enak ini!
Benar saja, di sudut ruangan itu masih ada di 'Dia' di ruang tunggu. Walaupun pria itu masih sibuk sendiri dengan mengutak-atik sebuah handphone di tangannya. Pasti merk hape itu pun harus yang berkelas! Kalau perlu dia memakai hape yang termahal yang ada di pasaran tanah air sekarang.
Di mejanya banyak tersedia sajen! Alias banyak makanan. Di sana ada botol minuman soft drink dingin, dua botol air mineral dan sebuah tas yang berisi makanan yang tentu telah dipesannya melalui jasa kurir pengantar makanan. Tas kertas itu memperlihatkan logo nama sebuah restoran siap saji yang menyediakan makanan Jepang.
Jenna dengan cepat menaiki tangga menuju lantai dua, untuk kembali ke ruang kerjanya. Tak lama hapenya berdering. Di layar hape itu tertera nama si ibunda!
" Jenna kamu masih di salon?"
" Masih, Ma. Ada apa?"
" Mama nyusul, ya! Biar diantar Pak Imam. Nanti dia kembali pulang. Kamu antar Mama ke Bintaro !"
"Nggak kurang Jauh itu, Ma. Perginya?"
Dokter Arunika tertawa geli. Wanita itu menelpon Jenna karena dia sedang iseng di rumah
sendirian. Padahal ada Mak Isah! Disuruh ngobrol bersama ART lainnya pun rumah itu juga nggak akan pernah sepi. Sebab keluarga Jenna tidak pernah membeda -bedakan orang berdasarkan status dan jabatannya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Dokter Arunika berinisiatif untuk menyusul Jenna ke tempat anaknya itu bekerja. Sekaligus menikmati fasilitas dari pelayanan salon ini . Karena dia ingin mencoba perawatan untuk manikur dan pedikur .
" Cepat aja, Mah! Mumpung Teh Risa bisa ngerjain, karena dia kosong sekarang" Jawab Jenna malas.
Begitulah kalau si Mama ada punya mau. Dia yang mengatur, dan Jenna pun harus patuh. Si supir disuruh kembali pulang ke rumah, eh si anak dijadikan supir pribadi!
Beberapa laporan segera dikirimnya ke Mbak Tya di email salon Kelapa Gading.. Dia menerima list daftar belanja kebutuhan salon, lalu segera diisi list untuk daftar nama barang dan jumlahnya. Sedang daftar gaji karyawan, sudah diserahkannya seminggu yang lalu.
" Jenna!" Panggil dokter Arunika dari depan pintu ruang kerjanya.
Waduh, si Mamanya Ini sudah sampai juga di kantornya ini. Pasti si nyonya ini yang langsung diminta langsung naik ke lantai dua oleh Mbak Arini. Sebab pelanggan yang bernama Ibu Angelina Samidi masih menikmati luluran di lantai tiga.
Wanita itu mengambil paket perawatan tubuh lengkap. Jenna tak mau pusing dengan berusaha mencari tahu hubungan kekerabatan antara pelanggan itu dengan si pria Arogan yang dengan sabar menunggu wanita itu menjalani sesi yang cukup lama di salon ini.
Segera diantarnya si Ibu ke sebelah ruangan salon yang sangat luas, karena dibuat lebih terbuka. Hanya tiap ruangan itu diberi sekat berupa rak berisi hiasan. Dari ruang untuk cuci rambut, potong rambut sampai pewarnaan dan lainnya. Untuk facial wajah dan perawatan tubuh dilakukan di lantai tiga yang lebih privasi karena ada beberapa ruangan yang tertutup. terutama untuk lulur dan mandi susu.
" Tante Arunika?" Panggil Seorang gadis muda yang sedang diwarnai rambutnya... Mungkin gadis ini yang tadi mengadakan janji dengan Uni Neti.
Mereka duduk di kursi yang agak bersebelahan. " Ya, Tante! Tapi panggil saya Sela aja, ya?"
" Ini Jenna anak bungsu, Tante!" ujar wanita itu memperkenalkan Jenna.
Tak urung, Jenna menerima uluran tangan gadis ABG ini. Oh, masih punya sopan santun juga dia. Walaupun Jenna yakin, biaya perawatan dan pengecatan rambutnya itu. Mungkin hanya seper berapa dari uang jajannya yang cukup besar itu dalam satu bulannya.
Tadi hampir saja Jenna terkekeh geli. Nama gadis ABG yang cantik itu mirip nama tumbuhan penghasil teh, kalau nggak salah! Rosella!
" Apa, anak Tante Arunika ini magang di sini?"
__ADS_1
Mata Jenna mendelik tidak suka... Dia pikir, dirinya ini masih anak SMK , kali! Harus ujian praktek untuk kelulusan sekolahnya!
" Jenna yang mengelola salon ini, Salon ini punya Tantenya. Ismaya itu adik ipar saya, Sella!"
Gadis remaja itu hanya mengangguk - angguk apakah dia mengerti atau tidak! Melihat tas tangan yang dibawa ABG itu, Jenna dapat menilai kedudukan orang tuanya cukup makmur karena dapat membeli tas backpack kecil, keluaran brand ternama dari Paris.
Jenna mengambilkan air mineral dalam botol yang tidak dingin dari Cooler. Diserahkan botol itu kepada ibunya. Tanpa sadar mereka bertatapan. Seakan tahu, kalau si anaknya itu ingin menanyakan asal- usul Rosella.
"'Dia anak Pak Bahtiar. Bulan lalu, adiknya yang laki- laki merayakan ulang tahunnya, jadi mama dan dokter lain di klinik diundang untuk datang ke rumahnya.."
" Iya, Papa saya yang punya bengkel langganan Dokter Arunika. Karena aku bukan pasiennya, aku panggil Tante, Dong!"
Jenn berbalik , menatap gadis muda itu yang terus menyambar omongan orang, tanpa permisi. Oh bengkel Om Bahtiar. Dia dulu punya satu bengkel kecil dekat klinik. Sejak beberapa tahun lalu usaha Om Bahtiar semakin bagus. Bengkel besarnya ada di semua wilayah Jakarta. Bahkan usaha itu berkembang, karena beliau juga punya showroom di Kebayoran ini.
Jenna meninggalkan ibunya dengan Teh Risa. Keduanya langsung asyik ngobrol walaupun masih menggunakan masker. Sesuatu yang wajib di pakai di manapun saat ini. Termasuk di luar rumah atau di tempat umum.
Tak lama, Jenna beranjak dari duduknya. Namun Mbak Arini sudah mencari Jenna. Wanita itu sedikit mengalami kesulitan ketika komputer itu sedikit eror. Mau nggak mau Jenna mengeceknya. Takut wajah pucat Mbak Arini itu membuatnya menjadi pingsan.
Sejenak Jenna menekan beberapa huruf dan angka di keyboard. Layar agak bergeser sedikit. Lalu muncul tampilan awal. Beberapa menit kemudian, tampak halaman yang tadi sedang dikerjakan Mbak Arini.
" Nggak apa- apa, kan. Mbak Jenna?"
" Nggak apa-apa? Apa ini belum pernah diservis?'
Wanita itu menggeleng lemah. Itulah kelemahan dari Mbak Lina. Kurang teliti dalam menjaga barang- barang operasional salon. Apalagi barang - barang elektronik yang harus dijaga pemakaiannya.
Pria itu mulai tertarik dengan sosok Jenna dan memperhatikan gadis itu yang masih duduk di samping Mbak Arini. Tangannya kembali mengetik beberapa data. Ternyata sudah tepat.
__ADS_1
Tanpa sadar Jenna juga berhadapan dengan si pria yang duduk jauh di sofa sudut sana. Mata mereka saling bertatapan dan mengamati.
Cepat Jenna berdiri. Tinggal menunggu Ibu Angelina yang masih membilas dirinya di lantai 3. Sebab beberapa pekerja salon mulai turun dan duduk di ruang tunggu ini. Barang - barang mereka tersimpan rapi di sebuah ruangan dekat kamar mandi. Ada ruangan khusus karyawan untuk mereka beristirahat dan menyimpan tas di loker masing-masing.