
Karolina terdiam. Dia tidak berani mendekati Jenna yang masih dalam keadaaan " senggol bacok seperti itu ". Sebab Jenna selalu dapat menyelesaikan sendiri, segala persoalan yang menimpa dirinya. Sesulit apa pun permasalahan itu terjadi.
Benar saja, Jenna segera meninggalkan taman belakang. Tanpa berbicara sepatah kata pun kepada mereka. Suster Fani dan Karolina hanya saling berpandangan saja. Tak tahu apa lagi yang harus mereka katakan ataupun yang harus dilakukan.
Padahal rencananya awal, Jenna dan Suster Fani mau rujakan. Para ART sudah menjelajahi kebun di beberapa rumah untuk melihat berbagai buah yang bisa diambil dari tanaman cangkokan milik Pak Feri tersebut. Sebab di kulkas hanya tinggal nanas dan semangka saja.
Sekarang semua potongan buah segar yang menjadi bahan rujakan itu masih penuh dalam satu wadah plastik. Sambel rujak dengan bumbu kacang tanah juga baru dicolek dua kali oleh Jenna, untuk memastikan apa sudah cukup antara rasa pedas, manis dan asin bumbu itu.
" Mbak Jenna marah sama, Ibu, Ya. Sus?" tanya Karolina merasa tidak enak.
Wanita muda itu terdiam. " Apa saya harus ngomong jujur, Bu?"
" Ya, jujurlah! Memang masih ada yang harus disembunyikan?"
" Tuh, kan ibu... Saya baru ngomong pelan begini saja, Ibu sudah ngegas! He he!" Ucap Suster Fani serba salah. Matanya tampak menatap ke arah lain.
"Jadi Jenna marah dan tersinggung dengan ucapan saya pagi tadi, Sus?"
" Bukan pagi tadi saja, Bu Karo! Tetapi beberapa malam sebelumnya... Kata Mbak Jenna, bukan hanya Ibu Karolina saja yang mempunyai permasalahan dalam hidupnya. Semua orang juga punya. Tinggal bagaimanapun cara kita saja untuk menghadapinya!"
Wajah Karolina jadi semakin serius memandangi wanita muda itu, yang dalam setahun ini menjadi pengasuh anaknya. " Ini yang ngomong bukan. Suster Fani kan?"
" Ya, ampun, Bu Karo. Saya apa- apalah! Orang cuma tamatan SMP. Mbak Jenna, yang ngomong kemarin! Setelah ibu pergi ke ruang tamu menemui. Bang Miko!"
__ADS_1
" Saya sudah keterlaluan, ya? Padahal hanya gagal mendapatkan tawaran iklan yang paling saya inginkan... Pekerjaan yang lain pun masih lancar... Sorry, ya. Sus!"
Karolina beranjak meninggalkan taman belakang itu. Terlihat Efron juga sudah tertidur. Di rumah ini Jenna yang paling sering pulang kerja sebelum Magrib, jadi dia yang paling sering berinteraksi dengan bayi yang akan berusia 2 tahun, di bulan depan. Terkadang Jenna yang akan menyuapi Efron makan malam, sementara Suster Fani segera mandi dan terburu-buru mengerjakan sholat Magrib.
Dokter Arunika, Ibunya Mbak Jenna yang selalu mewanti- wanti agar Suster Fani itu selalu siaga menjaga cucu keponakannya itu. Dia meminta wanita muda itu menjaga Efron dengan cermat. Jangan main hape atau disambi mengerjakan pekerjaan lain, sementara Efron bermain sendirian. Tetapi Fani bisa meminta tolong kepada ART lain untuk bergantian menjaga Efron, apabila dia ada kepentingan khusus dan tidak bisa meninggalkan Efron tanpa pengawasan orang lain.
Selebihnya semua adalah tanggung jawab Suster Fani. Sebab Karolina sedang sibuk shooting film iklan suka tidak tentu jam pulangnya. Kadang siang hari sudah di ada di rumah. Terkadang sampai tengah malam baru bisa pulang setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan itu
Beruntungnya, Bang Fendi yang selalu mengantar dan menunggui cucu perempuan Pak Damash yang paling besar itu. Walaupun jabatannya terlihat hanya menjadi supir pribadinya. Tetapi Opa Damash selalu memahami, bahwa dunia di luar sana itu kejam dan berat. Apalagi di balik dunia model yang terlihat gemerlap. Kehidupan para model dan bintang iklan itu selalu bersaing ketat , untuk mendapatkan penawaran iklan terbaik , sebagai pencapaiannya tertinggi di kehidupan mereka.
Karier Karolina sekarang juga didukung oleh Keanu dan Bang Miko sebagai manajernya. Pria itu sudah membuat agensi tersendiri. Selain menjadi manajer Rara, Keanu meminta Bang Miko mengatur sebuah kantor kecil untuk kegiatan agensi mereka itu. Ada beberapa gadis muda lainnya yang mulai tertarik dan masuk jadi anggota agensi mereka.
Tinggal Bang Miko mencoba mencari jalan lain untuk mendukung karier Cherry Andriani. Salah satu kerabatnya yang ingin menjadi penyanyi terkenal.
Ketukan di pintu kamar itu agak mengganggu Jenna. Dia ingin tidur siang sebentar. Badannya kurang nyaman sejak sering diajak Tante Ismaya keluar kantor dan bepergiannya ke berbagai tempat di Jakarta.
Ada seorang ibu, teman arisan Tante Ismaya yang merayakannya ulang tahun yang ke 50 tahun, di sebuah ballroom hotel berbintang lima dengan sangat mewahnya.
Ada arisan para ibu sosialita itu dengan. tema tertentu yang diadakan di sebuah kafe yang Instagram able. Para ibu-ibu kalangan atas itu tidak hanya berfoto - foto biasa dalam acara tersebut. Mereka menyewa seorang fotografer profesional untuk mengabadikan wajah mereka di acara tersebut. Foto - foto itu segera menghias sosial media masing- masing. Kata mereka, kalau nggak rame nggak seru!
Banyak teman - teman Tante Ismaya yang mengadakan pertemuan bisnis atau membahas kerja sama bersamanya. Bahkan kemarin Tante Ismaya mendapatkan tawaran dari seorang temannya untuk menggurus sebuah acara pernikahan, yang salah satu pengantin prianya berasal dari Amerika.
Jadi acara itu harus terencana depan rapi dan memakai dua kebudayaan dari dua negara yang akan dipadukan di pesta pernikahan tersebut. Tetapi Tante Ismaya menolak! Sebab dia sudah sangat repot dengan berbagai urusan di salon, klinik juga promo dari produk kosmetik terbarunya.
__ADS_1
Tidak terpikir lagi di benak wanita itu untuk membuat perusahaan seperti Wedding organizer yang akan menggurus pernak- pernik sebuah pesta pernikahan. Jadilah dia hanya dapat menawarkan paket perawatan kulit dan wajah untuk pengantin wanita di klinik dan salonnya. Sebulan sebelum hari h tiba.
" Jenna?"
Jenna tidak menjawab panggilan Karolina. Malas saja dia berhadapan dengan sepupunya itu yang semakin terlihat mau menang sendiri. Jenna mulai tidak suka kalau Karolina menjadi begitu ambisius dengan mengejar berbagai tawaran iklan yang diberikan kepadanya.Seharusnya dia lebih selektif memilih iklan yang sesuai dengan dirinya.
Keesokan harinya, setelah jam istirahat makan siang, Jenna menghubungi Keanu. Juga membicarakan berbagai permasalahan yang dihadapinya Karolina itu.Termasuk berbagai tawaran untuk audisi untuk dirinya.
" Jangan salahkan Gue mulu, Jen! Tegur juga Bang Miko, juga ! Dia yang selalu mendukung Karolina untuk mendapatkan semua keinginannya itu!" Protes Keanu kesal.
" Kirim nomor Bang Miko, dong! Gua nggak punya nih!" Ujar Jenna sedikit malas.
Segera perdebatan di antara dua sahabat itu terjadi lagi. Sebab Jenna yang terbilang orang yang teliti dan sangat menghargai orang lain. Agak aneh juga sampai tidak menyimpan nomor hape Bang Miko. Padahal pria itu adalah manajer baru Karolina dan juga sering main ke rumah Jenna yang di Pasar Minggu.
" Dia bukan teman, Gua. Dodol!" ucap Jenna kesal dengan komentar Keanu.
Prinsipnya, teman adalah teman. Harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Keanu terdiam, saat Jenna menyebutkan beberapa pasal yang tercantum dari perjanjian persahabatan mereka dulu. Persahabatannya yang dimulai yang sejak bersekolah mereka bersekolah di SMP. Istilahnya baru remaja berbau kencur, jadi Keanu nyengir saja.
Memang sejak mereka berteman, karena bertetangga di kompleks itu, Jenna tidak pernah membully kekurangan yang ada pada diri Keanu. Walaupun dia tahu, pembawaan Keanu yang sedikit melambai selain karena faktor dari genetika alias bawaan dari lahir. Bisa juga karena pengaruh dari lingkungan keluarga dan pergaulan dia dengan temannya.
" Ya, udah. Tutup dulu hapenya. Nanti gua kirimin no hape Bang Miko. Janji ya? Lo bicara baik- baik sama lelaki yang satu itu! Gua juga sebenernya takut kalau Karolina itu mulai suka dengan Bang Fendi.. Apa itu cinlok, kali ...Nggak bahaya itu, Tah!"
" Ih, Lo ngomong apa sih ini, Keanu. Jijay aku!" Thanks!"
__ADS_1
Jenna menunggu dengan sabar nomor yang akan dikirimkan Keanu. Sesabar dia terus mendukung Karolina yang harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan iklan terbaik untuk dirinya. Tetapi Keanu ngomong apa tadi?
Kepala Jenna langsung pusing. Dasar Keanu! Nambah banyak masalah dengan komentar yang tidak jelas lagi!