
" Mau pulang?" tanya Miko setelah mereka mengunjungi beberapa tempat lain. Sampai mobil itu menuju perjalanan kembali ke rumah milik kakaknya itu
" Boleh! Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta berangkat jam 20.00. Terimakasih Semua atas kebaikan Anda, tuan Miko. Mungkin waktunya Anda yang terbuang hanya demi membawa saya jalan-jalan dan makan enak!"
" Sama-sama!" Jawab lelaki itu kalem . " Hmm, Kapan kamu akan pindah ke Bali?" tanya Miko tiba-tiba.
" Apa Tante Ismaya yang menceritakan ini ?" tanya Jenna lagi...
Rencana ini masih belum bisa diwujudkan oleh Jenna dalam tahun ini. Bang Tedi pun masih berkutat di kantor pusat milik ayahnya, Pak Feri Darmawan di Jakarta. Dia datang dari Bali, dan menyerahkan sebagian usahanya itu kepada orang kepercayaannya guna membantu ayahnya itu.
Lagipula kenapa Miko mengetahui rencana Jenna yang seharusnya cukup rahasia ini? Bahkan Jenna menyampaikan hal ini dan hanya dibicarakan oleh para anggota keluarganya saja. Bukan untuk konsumsi publik!
" Jangan mencurigai Saya seperti ini! Secara tidak langsung saya mendengar informasi ini dari kakakmu, saat kami bertemu beberapa bulan yang lalu di Jakarta. Memang dulu kami para pengusaha muda di Bali sering bertemu di acara dan even tertentu... Walaupun bidang usaha kami tidak saling terkait. Tetapi setelah saya tahu, dia kakakmu... Jadi kami menjalin pertemanan menjadi lebih dekat."
" Kamu kali yang dekat dengan Bang Tedi...Tetapi bukan aku dan kamu!" Ujar Jenna kesal dan merasa tersaingi.
Miko tersenyum mendengar ujaran dari Jenna itu. " Saya mendapatkan data dirimu , saat sekretaris Mbak Rosalin meminta fotocopy KTP milik mu... Bahkan saya baru mengetahui saat itu kalau inilah Jenna yang datang pada pernikahan Om Satya... Keberangkatan saya ke Jakarta awal tahun 2021, masih banyak menemui kendala ... Sehingga harus menangguhkan rencana semula untuk membuka cabang perusahaan di Jakarta... Perkembangan ekonomi kita masih belum membaik untuk berapa tahun ke depannya!"
Wajah Jenna memerah, ada rasa jengah ketika hidupnya diamati seseorang yang tidak dikenalnya.
"Kenapa kamu memantau kehidupan saya?"
"Hanya orang suruhan saya,... Tadinya saya mau menemui Opa Damash yang jatuh sakit. Tetapi keadaan beliau malah kurang memungkinkan untuk bertemu dengan orang lain ".
"Tolong jangan memantau diri saya lagi! Saya bukan siapa-siapa... Lagipula saya hanyalah gadis pekerja biasa."
__ADS_1
" Kamu cucu kesayangan Pak Adrian Saputra Damash. Sedangkan saya cucu laki-laki kebanggaan almarhum Ramon Sugandi...Pasti ada tangan Tuhan, yang telah terukur untuk membuat keinginan kedua kakek itu akan terwujud..."
Jenna kok jadi bingung, ya? Apa lelaki ini tadi terkena penunggu angin Pantai laut Utara Jawa, ya? Sehingga omongan semakin ngawur dan nggak karuan begini ?
Miko tersenyum lembut... Hah kulkas sepuluh pintu ini mencair! "'Jangan terlalu membenci seorang pria karena masa lalunya... Tetapi saya yakin, kamulah perempuan di masa depan saya!"
Jenna kembali ke mode semula. Diam dan tak mempedulikannya ucapan cucu pak Sugandhi itu. Tante Ismaya sudah berdandan rapi ketika dia melihat kedatangan Jenna yang diantar Miko. Pria tampan dan sopan itu mengajak wanita cantik itu berbicara agak sedikit lama, sebelum pamit kembali ke rumahnya.. Juga mengucapkan selamat tinggal dengan sopannya!
Di kamarnya Jenna langsung masuk kamar mandi. Seharian ini, dia bepergian ke seluruh sudut kota Surabaya. Badanya terasa lelah.. Tubuhnya dari basah oleh keringat, menjadi kering kembali. Mungkin tadi dia sudah cukup banyak mengoleskan sun screen di menurutnya Jakarta yang dibangun di dataran rendah sudah panas udaranya sepanjang tahun. Ternyata Surabaya lebih panas lagi. Apalagi setelah Jenna mendengar secara tidak langsung niatan Miko, menyambung tali silaturahmi! Silakan! Asal jangan ada udang di balik batu saja....
Setelah mandi dan merapikan penampilannya dengan banyak mengoleskan banyak pelembab di wajahnya...Jenna mulai merapikan sisa-sisa barangnya yang ada di kamar itu untuk dimasukkan ke dalam koper bepergiannya.
Mbok Mis menyambut kehadiran mereka di meja makan. Mereka menikmati makan sore itu dengan sedikit lebih santai. Barang - barang sudah diangkut Pak Dodo ke bagasi mobil yang akan membawa mereka pergi ke Bandara Juanda.
Lalu lintas sore menjelang malam terasa dalam perjalanan menuju bandara. Mobil bergerak ke arah timur kota Surabaya. Mereka masuk ke jalan bandara yang cukup sibuk.Tante Ismaya bertanya kepada salah seorang petugas di sana. Jadi mereka menunggu sebentar. Sampai segala pemeriksaan dilakukan.. Waktu penerbangan tinggal 30 menit lagi.
" Sudah sampai, Jenna!" bisiknya.
Jenna terbangun... Suara mesin pesawat membahana saat roda- roda burung besi itu mulai menyentuh landasan bandara. Sampai Jenna benar-benar tersadar, saat ada roti bertumpuk di pangkuannya. Cepat dia membuka sabuk pengaman. Setelah melihat para penumpang lain bersiap -siap turun.
Tante Ismaya dan Jenna hanya membawa koper kecil yang diletakkan di dalam kabin. Jadi nanti mereka akan langsung keluar bandara karena tidak perlu menunggu bawaan mereka dari bagasi pesawat.
" Pesan grab atau Tante sudah minta jemput orang rumah?" tanya Jenna.
Udara di luar bandara mulai tak bersahabat...Ada angin besar yang bertiup sangat kencang. Tampaknya musim di bumi Pertiwi ini tak bisa lagi diprediksi. Sehingga terkadang menimbulkan spekulasi tentang ramalan cuaca yang ekstrim di beberapa daerah .
__ADS_1
" Om kamu mana boleh kita naik kendaraan umum di tengah malam begini..." Keluh Si Tante yang dari tadi matanya terus memandangi hape mahalnya yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sang suami.
Jarak Kelapa Gading menuju Bandara Soekarno Hatta ini sebenarnya tidak terlalu memakan waktu terlalu lama... Mungkin 50 menit sudah sampai. Om Jhon tentu akan menggunakan jalan tol dalam kota dari arah Pulo Gadung- Tanjung Priok bergabung ke jalan tol Dr.Ir. Sedyatmo. Apalagi hari sudah malam, tentu agak berkurang arus kendaraan di di jalan tol tersebut. Kecuali hujan deras mengguyur Ibu Kota Jakarta.
"Om kamu sudah menunggu di depan!" Beritahu Tante Ismaya sambil merapatkan blazernya. Satu- satunya pelengkap pakaian yang membuat penampilan wanita itu tetap rapi, dibalik gaun santainya.
Mereka berjalan cepat menuju ke tempat Om Jhon memarkir mobilnya. Beberapa orang masih berlalu lalang di depan bandara ini. Yang dalam beberapa bulan sebelumnya memberlakukan agak ketat untuk para penumpang pesawat jurusan dalam negeri.
" Jenna, Ismaya!" Panggil Om Jhon dari kejauhan.. Pria itu melambaikan tangannya untuk menunjukkan bahwa dia sudah berada di sana agak lama.
Hujan rintik-rintik menerpa mereka, yang berusaha menyeberangi beberapa jalan dengan berbagai kendaraan yang mengantar dan menjemput penumpang.
" Alhamdulillah!" Seru Om Jhon setelah disalami Jenna dan memeluk tubuh istrinya.
" Kita tunggu sebentar di sini, ya!" ujar Pria itu meminta persetujuan pada kedua wanita itu.
Maklum tampang mereka malam itu sudah seperti merindukan kamar tidur dan kasur kesayangan mereka.
" Ada apa, Om Jhon?" tanya Jenna malas.
" Kamu menginap dulu di Kelapa Gading! Sejak sore tadi, Jakarta turun hujan sangat deras... Ada laporan beberapa ruas jalan utama di Jakarta tergenang banjir yang cukup tinggi!"
" Iya, Om... Nggak apa-apa... Nanti Jenna telepon Mama!"
" Justru berita ini dari Mamamu! Tedi yang tadinya mau pulang ke Pasar Minggu malah balik kembali ke apartemennya... Daripada memaksakan diri. Malah menimbulkan bahaya! Katanya banyak jalan di sana yang tergenang air cukup tinggi Akibat hujan sejak sore tadi!"
__ADS_1
Pria itu nyengir saat melihat Jenna yang berusaha menahan kantuknya dengan menguap beberapa kali.. Dia berpandangan dengan istrinya. Sementara hujan turun semakin deras....