Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 72. Satu Petunjuk buat Jenna


__ADS_3

Tante Amanda berkali-kali mencium kening si cucu sebelum pamit pulang ke Sentul. Besoknya, Tante dan suaminya,Om Ismo harus kembali ke Pontianak.


Tumpukan kado hadiah ulang tahun untuk Efron berada di meja ruang keluarga Darmawan. Mereka juga sempat berfoto-foto bersama setelah acara makan tumpeng komplit tersebut. Sampai beberapa kerabat juga akhirnya pamit pulang... Karolina sudah menyiapkan suvenir untuk para tamunya itu sebagai oleh-oleh.


Pandu sendiri tidak menolak ketika dia diberikan oleh Karolina dua goody bag, sebagai kenang-kenangan dari ulang tahun Efron. Seminggu yang lalu Karolina memesan sovenir itu dari seorang wiraswasta yang membuka toko cendera mata itu di daerah Depok.


Sovenir itu berupa kotak kardus tebal yang berwarna biru dengan foto wajah tampan Efron lengkap dengan tanggal lahirnya. Di dalam kotak itu ada tumbler untuk minum dan berapa botol spray antiseptik, dan hand sanitizer dengan warna biru yang senada dengan kotak pembungkusnya.


Jenna menikmati kualitas tidurnya kali ini, sampai cukup siang, barulah dia terbangun ... Rencananya dia langsung berangkat ke salon pada pukul 10.00 nanti.


Karolina dan team kreatif- nya sudah berangkat berlibur ke villa keluarga Damash di Puncak Bogor sejak pagi tadi. Mereka berencana berlibur selama dua hari, dua malam di sana. Sekedar refreshing Untuk menghilangkan segala suntuk dan kejenuhan. Sebab mereka sudah bekerja keras selama hampir dua bulan ini. Puluhan konten yang telah mereka buat, satu demi satu mulai ditayangkan videonya ke media umum.


Suasana sepi kembali terasa di kediaman Darmawan ini setelah kepergian Karolina dan bayinya. Apalagi hampir sebagian teman kreatif dan Suster Fani juga ikut pergi ke Puncak pagi tadi.


Apalagi dengan tidak adanya lagi kesibukan di ruang studio dadakan di lantai dua itu. Rumah besar kediaman keluarga Darmawan kembali sepi ... Walaupun Mbak Teta masih setia dengan membawa handycam dan kamera untuk merekam liburan singkat mereka itu.


" Jenna, mau antar Mama Ke Bintaro?" tanya Dokter Arunika yang sedang menikmati minuman sehatnya berupa air hangat dengan potongan lemon yang diinapkan dalam semalam.


" Ma, Sorry! Jenna ada urusan di Salon Kelapa Gading! Sementara Tante Ismaya mulai sibuk dengan proyek barunya!"


Wanita itu mengangguk mengerti. Jenna senang bekerja di suatu tempat yang mengharuskannya selalu aktif bergerak. Jadi tidak diam saja di satu tempat. Dia tidak suka sesuatu yang selalu monoton dan tidak ada tantangannya. Juga anak gadisnya itu akan lebih tidak nyaman lagi bekerja dengan wanita yang suka mengundang keributan, penggosip dan bertindak tanpa mematuhi aturan dan hukum yang berlaku.


Jenna pamit kepada ibunya yang akan praktek di kliniknya siang nanti... Perjalanan dari Pasar Minggu menuju ke Kelapa Gading, sekarang tidak bisa diprediksi lagi..


Jakarta mulai hidup kembali dengan beberapa tempat hiburan dan mall yang dibuka. Tetapi dengan aturan yang sangat ketat.


Sebulan yang lalu, Jenna ikut mengantar ibunya ke kawasan Puncak... Mereka mencari tempat referensi yang baik untuk mengadakan kegiatan seminar dan family gathering, tentang ibu dan anak ... Sayangnya, belum banyak hotel di sana yang bisa menyanggupi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Karena daerah itu masih harus mematuhi peraturan ketat soal sosis distancing dari pemda setempat.


Bahkan Jenna melewatkan niat awalnya untuk makan siang di sebuah resto yang cukup terkenal di jalan raya puncak menuju arah pulang. Apalagi resto itu juga mempunyai toko oleh-oleh yang cukup baik mutunya. Namun keadaan resto itu penuh sesak oleh pengunjung. Apalagi meja di resto itu masih menerapkan meja yang kosong sebagai meja yang tidak boleh ditempati pengunjung. Padahal Jan makan siang sudah lewat.


Jenna berkeliling ke resto dan tak ada meja kosong. Hampir semua pengunjung membawa keluarganya datang ke situ. Sehingga suasananya cukup ramai dan gaduh.

__ADS_1


Akhirnya Jenna dan Mamanya keluar dari resto itu. Sampai mereka mencari restoran yang lebih kecil lagi skalanya, disekitar tempat itu.. Tetapi Jenna dapat makan dengan tenang setelah dilayani dengan baik dan cepat.


Dokter Arunika menghela nafas panjang. Sebab mereka dapat pulang dengan tenang, setelah n menikmati makan siang seadanya. Sang supir sudah mendapatkan sepiring nasi dengan lauk ikan bakar dan sayur asem khas Sunda.


***


" Jenna! Ini laporannya... Dapat salam dari Tante Rosalin!" Panggil Mbak Lea ketika melihat kehadiran Jenna di salon pusat di Kelapa Gading.


Tumpukan laporan ada di atas meja Tante Ismaya. Katanya si Tante mau ikut Om Jhon ke Surabaya kali ini. Istri Om Jhon cukup leluasa mengembangkan karier yang sejalan dengan minat dan spesialisasi sebagai dokter ahli kecantikan dan kulit.


Jenna mencoba menelpon si Om ketika dia ada di luar gedung salon itu. Ternyata si Om masih stand by di kantornya. Padahal baru Minggu lalu mereka bertemu pada acara ulang tahun anaknya Karolina.


" Nanti langsung naik ke kantor aja, Jenna! Om Nggak ada meeting, kok!"


Ternyata si Om sudah mendapatkan laporan dari istrinya tentang kemampuan Jenna mengelola salon yang dulu sudah mau ditutupnya.. Karena pekerjaan di kantor semakin banyak. Tetapi orang- orang yang dipercaya mengelola kedua salonnya itu kurang baik kompeten dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada.


Mobil Honda Jazz merah Jenna mulai memasuki deretan gedung -gedung perkantoran di pusat wilayah teramai di kawasan Kelapa Gading itu. Tampaknya pak Satpam yang menjaga parkir kantor sudah hapal dengan mobil Jenna dan mengarahkan mobil itu ke parkir tepat di depan halaman di kantor Itu.


Jenna sudah naik menuju pintu ruang kantor Om Jhon... Dia mengetuk pintu kayu jati itu dua kali, sebelum mendengar suara berat seorang lelaki yang menyuruhnya untuk masuk.


" Ayolah, Jenna! Masuk aja... Seperti seorang tamu!"


" Sorry, Om. Takut ganggu!"


Jenna meletakkan tas tangan dan beberapa laporan di samping bangkunya yang kosong.


" Kamu tadi tidak makan dulu tadi di kantin Salon Ismaya?"


" Nggak, Om! Jenna sudah lama pengen makan di kafe depan kantor ini... Om Juga belum istirahat?"


" Ya, sudah! Ayo! Sekalian Om langsung menemui klien. Tetapi bukan di kafe depan, ya! Kamu ikut Om saja... Mobilmu tinggal saja dulu. Nanti kita balik kembali ke sini!"

__ADS_1


" Kok, jadi Jenna yang dampingi Om untuk pertemuan bisnis... Tante Ismaya atau Ibu Rully mana?"


Si Om Jhon menghela nafas panjang." Beginilah kalau satu kantor dengan istri... Tantemu itu sudah membajak Bu Rully dalam dua hari ini. Dia ada pekerjaan lain!"


Tentu Om Jhon memahami... Tante Ismaya hampir sama gaya bekerjanya dengan Jenna. Kurang nyaman dengan orang - orang yang lebih banyak bicara daripada mengeluarkan kemampuan dan keterampilannya bekerja..Alias Omdo, omong doang!


Jenna pasrah saja diseret si Om ke dalam mobilnya yang disupiri oleh Pak Agus. Pria itu menegur keponakan si bosnya dengan sopan dan gembira.


" Ke Thamrin, ya. Pak!"


" Siap, Pak Jhon!"


Si Om malah duduk di tengah karena mau bicara banyak dengan Jenna. Pertemuan mereka terakhir justru di rumah Jenna sedang banyak tamu. Saat itu ulang tahun Efron, anaknya Karolina.


" Apa benar Karolina dan Farhan bercerai?" tanya Om Jhon.


" Ih, si Om. Sudah berita lama itu. Basi, Om!"


" Bukan begitu... Kemarin teman Om diajak kerja sama dengan Farhan. Katanya dia punya proyek pembangunan perumahan di Serang..."


" Sudah hampir nggak jalan, Om. Kekurangan modal... Om Ismo juga nyuruh Papa tutup pabrik dan perusahaan yang ada di Bogor!"


Pria itu menatap mata Jenna. " Apa Farhan curang terhadap Karolina? Sehingga membuat keluarga Damash dan Darmawan, begitu sangat marah!"


" Ya, begitulah... Farhan dipaksa menikah lagi dengan perempuan lain, tanpa seizin Karolina... Apa itu bukannya cari perkara, Om?"


" Waduh, habislah itu keluarga Hisbillah... Bukannya pabrik itu dulu dikelola oleh Farhan?"


" Mana aku tahu, Om... Soal itu. Kesepakatan itu hanya Opa Damash dan Pak Zaenudin Hisbillah, saja yang tahu! Sejak Farhan mengucapkan talak... Perceraian mereka segera diurus!"


" Nanti Om, tanya Papamu lagi! Tampaknya Farhan masih berusaha mencari upaya lain, agar ada pihak yang mau memberi suntikan dana untuk melanjutkan proyek yang sedang digarapnya di provinsi Banten itu!"

__ADS_1


__ADS_2