Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 124. Dokter Niken VS Jenna Melinda Darmawan


__ADS_3

" Mengapa Jenna, nggak satu mobil saja dengan kita, Bu Ismaya?" tanya Niken. Dia melihat Jenna masuk ke dalam Honda Jazz merah itu. Mobil itu diparkir di sebelah mobil sedan terbaru milik Ibu Ismaya, si pemilik usaha di gedung klinik tersebut. Sebelum mereka berangkat berbarengan, dengan mobil sedan mewah itu berjalan terlebih dahulu.


"Jenna adalah wanita muda yang tidak suka dikekang! Tetapi dia sangat bertanggung jawab dengan segala perbuatannya!" ujar Bu Ismaya itu mulai malas berbasa-basi dengan pegawainya yang satunya ini.


Tadinya dia berharap agar wanita muda ini mau belajar lebih banyak di klinik. Selagi diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya sebagai ahli kecantikan yang terbaik. Sebab Ibu Ismaya mempunyai berbagai peralatan canggih dan modern di kliniknya. Alat itu diperbantukan untuk mempermudah para pegawai klinik melakukan berbagai tindakan dalam perawatannya kecantikan. Juga sebagai sarana untuk menjadikan kliniknya sebagai tempat terbaik dalam perawatan dan kecantikan kulit untuk Wanita dengan biaya yang terjangkau.


Eh, Niken ini malah melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengkopi data pelanggan VIP. Wanita itu mengincar sosok sang kepala rumah tangga, yang akan dijadikan dapat dijadikan Sugar Dady baginya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin tinggi dengan kebutuhan hidupnya yang selalu ingin tampil baik , menarik dan berkelas!


Gajinya sebagai dokter dengan lulusan ahli kecantikan itu tidak mencukupi semua keperluan hedonisme itu. Selain membeli makanan di restoran mahal dan healing. Alias liburan tipis ke beberapa objek wisata di Pulau Seribu atau sekedar cuci mata ke kota Bandung!


Beberapa telepon dari rekan bisnis, atau teman arisannya, akhirnya diterima Ibu Ismaya dengan senang hati. Padahal dia sangat jarang mau ditelepon, kalau bukan untuk membicarakan hal penting atau bisnis. Sekarang demi menghindari bercakap-cakap dengan wanita muda yang sedang duduk di sebelahnya. Seakan-akan bagi wanita muda itu segala hidupnya dipenuhi dengan keindahannya warna pelangi. Niken selalu menjadi orang yang mempunyai rasa percaya diri yang sangat tinggi.


Sementara wanita muda ini berusaha sedang duduk nyaman di sampingnya. Duduk tegak bagai batu karang, yang sebentar lagi hancur disapu ombak dan gelombang kenyataan yang sebenarnya. Padahal Ibu Ismaya sudah nggak sabaran untuk menguak satu demi satu pembungkus diri dari Niken Sabrina itu, yang ternyata sangat busuk dan buruk.


Pembicaraan Ibu Ismaya dengan salah satu wanita pebisnis itu cukup mengejutkan Niken juga. Sebab lamat- lamat dia juga mendengar nama suami wanita itu disebutkan dalam percakapan yang seharusnya sangat pribadi itu. Yaitu Bapak Januar Ludy. Seorang pemimpin dan pemilik perusahaan PT. Ludy Persada property. Beliau adalah pengusaha yang perusahaannya dipercaya membangun berbagai gedung perkantoran terkenal sampai Mega proyek apartemen di bagian Barat Jakarta.


Tampaknya kedua wanita itu cukup akrab dan dekat. Apalagi ada sesi curhat sedikit dari wanita yang sering dipanggil oleh Ibu Ismaya itu, dengan sebutan Jeng Faradina. Terutama berita yang diterima dari wanita itu tentang suaminya yang sering membawa wanita lain ke sebuah hotel di saat suaminya masih ada jam kerja di kantornya.


Sampai pembicaraan kedua wanita mulai memanas, tentang adanya gugatan cerai yang akan dilakukan Jeng Faradina. Sebab dia sudah sakit hati dengan perselingkuhan yang telah dilakukan oleh suaminya itu berkali-kali. Bahkan wanita itu akan menggunakan jasa pengacara handal untuk menggurus perceraiannya itu. Sekaligus mengajukan tuntutan harta gono gini dengan nilai tuntutan yang cukup besar. Sampai terucap juga kalau wanita itu sudah menggunakan jasa semacam detektif untuk mencari mencari Wil suaminya itu. Alias wanita idaman lain, dari Pak Januar Ludy itu. Kalau istilah sekarang wanita pengganggu suami orang itu sering disebut dengan pelakor!


Dari duduknya, yang tadi cukup anggun, lama kelamaan Niken menjadi gelisah sendiri... Tampaknya dia harus bersiap untuk bisa menghindari dari berbagai permasalahan mendatang... Merinding juga kalau seorang istri sah sudah bertindak untuk melabrak seorang pelakor. Wanita itu bukan hanya dihabisi dengan tindakan bar - bar yang berupa penyerangan fisik . Bisa juga mereka akan dipermalukan dengan memvideokan saat wanita itu melabrak pelakor ! Tentu akan menjadi berita itu mudah viral, di masa ini! Di saat masyarakat yang akan mudah menghakimi sesuatu yang hanya terlihat dari gambaran sekilas, bukan lagi mencari bukti dan alasan sehingga peristirahatan itu terjadi.


Kadang banyak video seperti itu menjadi tontonan tersendiri yang cukup menyita perhatian. Di tengah kehidupan masyarakat yang mulai carut- marut, antara masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai mulia dengan era moderenisasi. Juga terbenturnya nilai antara kebaikan dan keburukan! Sebab tekanan hidup sekarang, semakin berat, sehingga sering terjadi pelanggaran nila- nilai sosial, agama dan norma - norma yang ada di tengah masyarakat kita.

__ADS_1


Sisa perjalanan itu dilakukan Ibu Ismaya dengan menelpon putrinya yang masih menjalani WFH di rumah.


" Mami, suruh Kak Jenna ke rumah! Ajarin Noura main basket! Nanti videonya dikirim ke Pak Juma, Guru Olahraga di sekolah!" Kata suara anaknya itu.


Wanita itu tersenyum kecut. Sejak WFH, Naura melibatkan semua orang di rumahnya untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas dari para gurunya itu. Ada tugas berupa mengisi lembaran jawaban, segala macam kuis dengan berbagai aplikasi internet. Sampai berbagai praktek dengan mengirim hasil videonya rekamannya itu sebagai tugasnya .


" Biar nanti saya minta bantuan Akmal saja, Bu. Kalau Mbak Jenna masih repot dan nggak bisa datang!" Ujar Pak Agus menenangkan. Untungnya rumah Pak Agus tidak jauh dari rumah majikan, hanya terpaut batas kampung dan perumahan elite.


Akmal anak bungsu Pak Agus yang duduk di kelas 7 itu, yang akan selalu membantu Noura, anak majikannya itu menyelesaikan tugasnya yang semakin membuat kedua orangtuanya kerepotan. Sebab mereka juga masing- masing bekerja di luar rumah.


Mobil merah Jenna melesat lebih dahulu saat melintas di Jalan tol dalam kota ke arah Cawang, sampai mengambil ke arah Pancoran. Pak Agus masih mengemudikan dengan kecepatan sedang. Sebab dia harus sangat berhati-hati. Agar Ibu Ismaya yang sedang menelpon itu agar tetap dapat duduk nyaman


Mobil itu keluar dari jalan tol dalam kota, ke arah Kuningan. Setelah itu berbelok di fly over bawah, mobil mereka bergerak ke arah Utara, dengan latar bangunan gedung - gedung bertingkat tinggi yang berdiri berjejeran di kedua sisi jalan raya utama itu. Di sepanjang jalan raya Kuningan, yang nama asli jalan itu adalah Haji Rasuna said.


Mata dokter Niken menatap sebentar gedung kantor PT Jaya Darma dari loby depannya, ternyata sebagus ini kantor yang menaungi sebuah perusahaan besar, dengan beberapa anak perusahaannya. Termasuk kepemilikan pabrik yang memproduksi Ismaya kosmetik.


Di sisi kiri dan kanan, gedung itu pun terdapat banyak bangunan yang tak kalah megahnya. Di sana juga terdapat puluhan gedung perkantoran, mall juga beberapa gedung kedutaan asing. Bahkan ada beberapa jaringan hotel berbintang lima kelas dunia, yang berada kawasan yang sering disebut juga dengan istilah 'Segitiga emas Kuningan'. Sebagai pusat bisnis dan perkantoran terkemuka di Jakarta ini.


***


Mereka segera diantar oleh seorang resepsionis menuju ke sebuah lift khusus untuk tamu , langsung ke lantai 12. Pak Agus masih membawakan tas besar berisi berkas - berkas milik Ibu Ismaya.


Di lantai 12, ada seorang OB yang menyambut kedatangan mereka. Wanita itu mengantar mereka ke sebuah ruangan besar yang sudah ditata rapi. Di ruangan itu sudah tampak beberapa anak buah Tedi Darmawan, termasuk Pak Sanad yang sedang menyiapkan proyektor.

__ADS_1


" Di mana Tedi?" tanya Ibu Ismaya yang cukup mengenal Prasaja dan Marvin sebagai asisten kepercayaan keponakannya itu.


" Masih di ruang kerjanya, Bu! Kalau memang sudah siap, akan kami panggilkan!" Ujar Prasaja sopan. Tak lupa pria yang memproklamirkan dirinya sebagai play boy bercap internasional, mulai melancarkan aksinya dan pesonanya.


Pria itu tersenyum untuk memperlihatkan gigi putihnya yang tak kalah putih dari sebuah iklan pasta gigi yang sering muncul di tv. Juga mata genitnya berkedip pada sosok Niken. Dipikirnya wanita di sebelah Tantenya Tedi itu adalah tipe wanita pemalu! Dengan penampilannya yang lebih mirip ibu- ibu yang akan mengikuti arisan RT di tetangga sebelah rumahnya. Saking meriahnya aksesoris yang dipakainya.


Belum lagi kalung mas berantai kecil dua susun dengan liontin berhuruf N dan S besar. Gelang - gelang emas aneka bentuk, melingkari kedua lengannya. Juga sepasang giwang mutiara besar. Yang tidak cocok dengan dress coklat dengan leher V rendah, dengan bawahan bertumpuk mirip kue ulang tahun. Saking banyaknya renda - renda dan tali - temali di sana.


Mereka duduk nyaman di kursi besi dengan bantalan busa yang empuk. Ruangan ini tidak terlalu besar, namun mempunyai segala perlengkapan dari sebuah ruangan pertemuan dari perusahaan besar dan ternama. Apalagi Pak Feri sering mengadakan rapat bersama dengan anak perusahaan yang menyebar di Surabaya, Medan dan Bandung.


Wanita OB itu mendorong troli berisi makanan kecil dan minuman. Disajikannya cangkir - cangkir berisi minuman teh manis hangat di meja yang berbentuk persegi panjang itu, dengan menghadap ke layar yang sudah terpasang di hadapan mereka.


" Silakan! Pak Tedi akan datang sebentar lagi!" Ujar Wanita dengan seragam OB abu- abu dengan name tag, Sudarwati.


Dari luar melalui terdengar langkah - langkah kaki yang berirama teratur. Pintu dengan yang terdiri dari dua bilah kayu dari jati solid itu terkuak lebar. Sekilas terlihat sosok pria tampan dengan pakaian kerjanya yang sangat formal.


Tedi memakai kemeja lengan panjang putih bersalur hitam, dasi abu- abu yang senada dengan celana kerjanya dari bahan wool. Celana kain itu memeluk erat pinggul yang ramping dengan kedua kaki yang jenjang. Sosok Tedi dengan tinggi tubuh mencapai 180 cm. Tetap berdiri kokoh dan tampak berwibawa dengan aura kepemimpinannya.


" Selamat pagi, selamat datang di Kantor Jaya Darma!" ucapnya santun.


" Sini, Pak Agus. Ya, Tolong berkas-berkas Tante saya, letakkan di sana! Nanti biar adik saya, Jenna yang mengurusnya."


Deg! Perasaan Niken Sabrina sudah mulai tidak enak! Dia mulai merangkai tiap sepotong demi sepotong informasi tentang jati diri Jenna? Pikirannya masih terus bekerja keras. Adakah ada hubungannya Jenna dengan pertemuan ini?

__ADS_1


Kembali Niken membantah segala kemungkinan itu. Sebab Jenna yang hanya berlatar belakang pendidikan ekonomi dari sebuah kampus swasta di Jakarta yang berkategori biasa saja, menurutnya. Tetapi Jenna mampu mengatur operasional sebuah klinik kecantikan ternama juga dengan dua salon yang menaunginya.


__ADS_2