
Suasana salon di cabang Kebayoran Baru yang cukup ramai, agaknya mampu mengalihkan perhatian Jenna. Segala hal yang tak mengenakkan pada kejadian di Vila Bunga, segera disingkirkan dari pikirannya. Sekarang dia kembali fokus pada pekerjaannya.
Mbak Arini sampai memeluknya erat-erat, karena hampir 3 minggu Jenna tidak muncul di tempat ini. Jadi dia sangat rindu pada Jenna yang selalu menjadi temannya berdiskusi dalam segala hal. Terutama yang berhubungan dengan kegiatan yang ada di salon itu.
Di meja di dapur untuk karyawan, ada tumpukan makanan khas dari Puncak, oleh-oleh yang dibawa Jenna pagi tadi. Di sana ada sale pisang, berbagai jenis kripik sampai ubi bakar Cilembu yang dimasukan dalam wadah plastik. Belum lagi bermacam -macam cake dari talas khas Bogor dengan bermacam variasinya.
Barang-barang kebutuhan salon pun sudah dikirim oleh pihak supplier ke tempat itu. Dari barang - barang kebutuhan rumah tangga, seperti deterjen, hand wash, sampai karbol pewangi untuk lantai... Juga ada satu kardus lagi untuk kebutuhan salon itu sendiri. Barang - barang itu berupa, shampo, hair tonik, bermacam macam jenis masker rambut, dan lainnya.
Dibantu satu orang OB, barang - barang itu dikeluarkan dari kardus dan simpan di lemari penyimpanan. Sedangkan untuk keperluan salon, segera dimasukkan kembali ke dalam kardus itu setelah dihitung dan dicocokkan dengan jumlah yang ada dalam struk belanja.
" Pembuatan iklan itu sudah selesai, Jenna?"
" Sepertinya sudah rampung. Kalau untuk dijadikan iklan, itu ada bidangnya sendiri... Mungkin bulan depan, sudah bisa dimunculkan, sih!"
" Kata Mbak Hera, Rara sangat cantik dan bagus saat dalam pengambilan gambar iklan itu"
" Yah, dia sangat berbakat menjadi seorang model. Anaknya masih muda tetapi tekun, sabar dan pekerja keras!"
" Apa kamu nggak mau lihat film terbaru Tania?" tanya Mbak Arini lagi.
Tiba-tiba, Jenna tertawa." Kita tunggu saja dulu, Mbak! Apa ada kejadian viral yang menimpa gadis itu yang membuat filmnya banyak ditonton orang!"
" Ih, kalau hanya untuk menjadi terkenal dengan cara membuat sensasi. Nggak banget, deh!"
" Memangnya, kenapa?" tanya Jenna lugu.
" Pasti orang itu nggak bisa akting! Jadi sebenarnya film itu nggak ada bagusnya juga kalau kita tonton !" jelas Mbak Arini dengan tegas.
Saat jam istirahat, beberapa pekerja salon justru sedang mencicipi oleh-oleh Jenna itu yang diletakkan di meja dapur di lantai satu. Ternyata oleh-oleh yang sebenarnya murah meriah itu malah membuat mereka bergembira dan berseloroh ramai...
" Ayo tebak, mengapa ubi Cilembu kalau kita bakar sendiri di rumah nggak seenak bakaran di tempat kita belinya?" tanya Mbak Arini kepada orang yang ada di ruangan itu.
" Pasti ubinya , bukan dari Cilembu!" jawab yang lainnya bersahutan - sahutan." Pasti dari pasar tradisional lain!"
" Salah!"
Begitulah pembicaraan receh para pekerja salon, OB sampai petugas keamanan. Mereka tadi juga meminta satu OB untuk membelikan mereka makan siang di warteg saja.
__ADS_1
Jenna justru tertarik dengan kedatangan dua pria muda yang gagah dari luar gedung ini. Dari tempat duduknya, di depan meja resepsionis itu sepertinya Bang Miko dan satu orang dari satu anggota team kreatif yang bekerja dalam pembuatan iklan tersebut.
" Assalamu'alaikum, Mbak Jenna!" Sapa Bang Miko sopan.
Jenna menatap tamunya agak sedikit curiga. " Walaikum salam!"
" Kami ganggu, nggak? Sebab mau meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Mbak Jenna!"
" Oh, bisa! " Jawab Jenna.
" Mbak Arini, tolong nanti nasi pesananku tolong disimpan dulu, ya!" pinta Jenna pada Mbak Arini.
" Ayo, Bang! Kita ke ruang kerja saya di lantai dua!"
Jenna memimpin jalan lebih dulu. Mereka menaiki beberapa anak tangga untuk ke lantai dua. Jenna mendorong sebuah ruangan yang berpintu kaca tebal, setelah memasuki ruangan yang besar dengan bangku - bangku nyaman dengan cermin besar di depan bangku itu.
" Maaf, tahu dari siapa. Kalau saya ada di salon ini?"
" Kami tanya kepada Ibu Ismaya. Maaf ya, Mbak! Pak Tedi sudah melarang saya melibatkan Mbak Jenna dalam peristiwa di Puncak. Beliau tentu sangat menyayangi dan melindungi Mbak Jenna ..."
Jenna mempersilakan kedua pria itu duduk di kursi tamu yang cukup simpel. Dia segera mengeluarkan dua botol air mineral sambil dari cooler mininya, juga membuka satu wadah oleh-oleh di toples plastik transparan.
" Saya Arkan, Mbak! Saya yang satu kamar dengan Robi!" kata pria muda itu memperkenalkan dirinya.
" Begini Jenna... Bisakah kamu membantu dia? Sudah beberapa malam ini dia tidak dapat tidur dengan nyenyak... Seperti ada orang berusaha mengganggu dan membuatnya sering terjaga, sampai berjam-jam kemudian...."
" Jadi maksud Bang Miko... Saya ini paranormal atau dukun begitu? Sehingga bisa mengusir arwah jahat yang mengganggunya?" tanya Jenna tegas.
" Bukan, bukan begitu! Arkan ini dan Robi, mungkin secara tidak sengaja mereka berbicara konyol atau jorok dan bukan bermaksud menantang keberadaan makhluk itu yang ada di sana!"
Jenna menghela sedikit rasa sesak yang menghimpit dadanya. " Saya sudah berterus terang, kemarin! Kalau saya tidak mempunyai kemampuan apa - apa. Hanya saya sedikit sensitif tentang segala perubahan yang terjadi di sekeliling ... Silahkan Abang cari pertolongan sendiri! Mungkin ada dari salah satu dari kerabat yang bisa! Bukan dukun atau paranormal . Tetapi lebih seperti ustad atau kyai, yang tinggi ilmu agamanya. Bukankah Bang Arkan yang selalu menjadi iman, setiap team kreatif mengadakan sholat berjamaah di vila Damash, bukan?"
Bang Miko menatap tajam. " Tolong Jenna! Ini sangat menggangu kami. Arkan jadi tidak fokus untuk menyelesaikan proyek dari Ibu Ismaya itu!"
" Mungkin Bang Miko harus kembali ke Vila Bunga, untuk bertanya pada Mang Koya, penjaga vila di sana. Sebab si Mamang orang asli dari daerah itu. Ada satu dua orang yang bisa dimintakan pertolongannya. Hanya satu, permintaan saya. Bang Arkan, jangan suka menantang makhluk seperti itu walaupun tak kasat sekalipun. Anda cukup kuat dalam ilmu agama dan ibadah... Tetapi, tetap saja makhluk itu tidak menyukai cara anda berbicara!"
Air mata dari pria muda bernama Arkan itu menitik. Pantas Jenna tidak mengenalinya. Hanya dalam jangka waktu tak sampai seminggu saja, sangat drastis penampilan dari lelaki itu. Dia tampak loyo, wajahnya tirus dan pucat. Dengan cepat berat tubuhnya terus berkurang. Mungkin karena kurang tidur, sehingga dia banyak pikiran, tak enak makan dan selalu kelelahan.
__ADS_1
Bang Miko mendekati Jenna." Maaf, Arkan juga dari awal tidak mengakui hal itu saat di vila sana. Bukan dia bermaksud untuk menjadi seorang pengecut! Dia tidak menyadarinya... Sampai beberapa hari ini, seperti ada bayangan seseorang yang terus mengikutinya.."
" Dia lulusan sebuah pesantren kan? Kadang pemuda seperti itu justru bukan mahkluk halus atau sebangsanya, yang harus ditaklukkan. Tetapi dia harus menaklukkan dirinya sendiri, agar jangan menjadi takabur!" ucap Jenna pelan.
" Sorry, sebenarnya Pak Tedi sudah sering memperingatkan saya! Perasaan kamu sangat sensitif kan? Kamu melakukan sesuatu hanya untuk melindungi keluargamu saja. Tetapi Mbak Hera dan Mas Fajar pindah dari villa kamu juga karena takut kan?"
Jenna hanya mengangguk secara pelan. " Saya tahu ajaran agama saya, berkat bimbingan Kakek Guru Amir... Tetapi saya bukan ahli agama, apalagi ahli ibadah. Lihat cara berpakaian saya yang tidak berhijab, karena Opa Damash masih membebaskan saya untuk mencari pengalaman sebanyak - banyaknya. Itulah yang saya lakukan sekarang untuk belajar tentang apapun yang ada di masyarakat..."
Akhirnya mereka bercakap-cakap biasa saja. Sesekali Mata Arkan menatap Jenna dengan pandangan berbeda... Yah, Jenna juga takut! Arkan harus menolong dirinya sendiri. Sampai mereka pamit setelah cukup lama ngobrol di ruangan itu.
" Pembicaraan itu tadi sangat serius Jenna?" bisik Mbak Arini yang mendatanginya tiba-tiba.
Dada Jenna berdebar keras. Belum pernah Jenna melihat wajah Mbak Arini yang seperti ini, antara kepo, curiga dan sedikit takut. Jadi matanya sedikit melotot, dengan bentuk mulut agak monyong.
" Apa Mbah Hera juga cerita kejadian di alaminya saat tinggal di Villa?"
" Sedikit, sih!"
" Sedikitnya itu, berapa orang lagi yang mendengar ceritanya itu?"
" Mungkin Lydia juga dengar, kali!"
" Hmm, lama - lama juga seluruh pekerja di dua salon ini juga mendengar semua cerita itu. Terus apa yang diceritakan oleh Mbak Hera itu ?"
" Katanya sewaktu merias Rara di pagi hari itu, mereka melihat kain putih berkibar di salah satu kamar yang digunakan para cowok ...Pikir Mbak Hera, mungkin ada satu anak team yang masih di kamarnya itu sedang beres-beres. Sebab semua orang sibuk berada di lapangan bekerja sama untuk menyiapkan beberapa set untuk pengambilan gambar."
" Terus?"
" Pas kain itu putih itu melayang untuk yang kedua kalinya, Mas Fajar yang jadi penasaran... Masa, di kamar cowo ada cewek yang sholat Dhuha di sana... Pas dilihat, kamar itu kosong. Hanya ada tumpukan tas-tas pakaian di lantai. Khas kamar cowok yang berantakan. Tetapi, dia nggak menemukan satu pun kain yang berwarna putih, seperti yang mereka lihat sebelumnya!"
" Apa mereka nggak cerita, sampai memaksa pindah untuk tidur di vila Opa Damash. Setelah terjadi nggak semalam saja di sana. Kebetulan para kru ditempatkan di vila yang disewa Bang Tedi. Sedangkan semua keluarga, termasuk Keanu dan Rara tinggal di vila kami."
" Memang apa alasan Mbak Hera dan Mas Fajar minta pindah, Mbak Jenna?"
" Katanya semalaman mereka mendengar orang bolak-balik membuka pintu kamar tidur dan kamar mandi. Di vila itu kamar mandinya ada dua, tetapi kamar mandi itu letaknya ada di luar kamar... Justru kamar Mbak Hera dan Mas Fajar paling dekat dengan kamar mandi itu!"
" Sst, serem juga, ya. Kalau begitu!"
__ADS_1
" Sebenarnya jarang juga kami mendengar cerita serem dari villa-villa yang ada di sana. Biasa-biasa saja. Saya yakin pasti ada yang mau iseng dan main - main, Mbak Arini. Maklum mereka kan biasa pegang kamera, dan masih muda lagi. Jadi tertantang melakukan sesuatu. Sampai... ada dari mereka yang berkata kasar atau ceroboh bermaksud menantang makhluk itu untuk muncul. Ya muncullah!"