Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 40. Urusan Pekerjaan Lagi


__ADS_3

Percakapan mereka semakin seru ketika membahas sewaktu mereka masih remaja. Om Jhon jarang berbuat hal-hal aneh yang biasa dilakukan para remaja pada masa itu. Seperti bolos sekolah atau merokok di kantin. Makanya perbuatan mereka disebut juga kenakalan remaja. Karena Om Jhon tinggal di rumah orang tua Jenna sejak dia sekolah di SMA. Demi mengikuti tradisi di keluarga besarnya yang hampir sebagian besar menjadi dokter.


Jadilah Om Jhon yang tinggal dengan neneknya di kampung kembali ke Jakarta. Demi mendapatkan peluang untuk kuliah di fakultas kedokteran di kampus negeri di kota Jakarta dan menjadi dokter!


Om Jhon terlalu takut dengan kakak iparnya, ayah Jenna. Pak Feri Darmawan. Bukan saja pria itu jarang bicara banyak dalam kesehariannya di rumah. Karena ayahnya Jenna selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Tetapi tubuhnya yang tinggi dan tegap sangat mendominasi seluruh isi rumah.


Mana ada kedua kakak Jenna yang berani membantah atau pun melanggar perintah beliau! Padahal kedua kakak laki-laki Jenna itu bisa saja petantang - petenteng, bergaya seperti lazimnya anak - anak muda dari golongan orang berada. Justru mereka takut dengan ayahnya yang lebih pendiam dibandingkan Mamanya yang cerewet dan banyak menerapkan aturan ketat di rumah.


"Jenna! " Panggil Om Zaki. " Kamu tidak nyaman dengan pembicaraan kami?"


" Nggak kok, Om! Lanjutkan saja... Lumayan bisa dibuat laporan hasil pertemuan ini untuk Tante Ismaya ..."


Mata Om Jhon berkedip agak gelisah. " Ada - ada aja, keponakanku yang satu ini! Nggak usah didengar ocehan konyolnya Jenna ini. Coba ceritakan ceritakan soal perusahaan barumu itu, Jack!"


Lalu mengalir cerita tentang perusahaan terbarunya itu di bidang jasa pengiriman barang yang semakin meluas dan dikenal masyarakat karena semakin berkembangnya budaya masyarakat untuk berbelanja secara online.


Jenna menikmati sajian pasta yang tadi dipesannya. Kerjasama soal mengunakan jasa pengiriman untuk produk kosmetik yang dibeli masyarakat secara online akan dilimpahkan kepada perusahaan Om Zaki. Tentu telah disepakati di awal pertemuan tadi. Namun kalau kedua ABG tua ini mau bernostalgia, kenapa dia harus diseret ke restoran ini, sih!


Malas banget, lihat para pria dewasa itu mengenang masa remaja mereka. Mungkin bagi remaja sekarang perbuatan mereka dulu itu terdengar agak konyol dan di luar nalar.


Tak lama ada seorang pria muda datang menuju ke meja mereka. Om Zaki sedikit kaget juga.


" Pras, kapan kamu balik ke Jakarta?"


" Seminggu yang lalu, Bang! Ini ada pertemuan penting apa? Duh, ada bidadari juga di sini!" Ujarnya ramai. Dia terus mengedip- kedipkan mata kanannya, saat menatap Jenna.


Tanpa sadar Jenna mendongak, matanya menatap sinis kepada pria yang baru datang tadi. Pria yang tampak lebih muda beberapa tahun di bawah umur Om Jhon dan teman akrabnya itu.


Pakaian pria itu serapi para pria muda kelas pekerja metropolitan. Santai tetapi berharga fantastis. Belum lagi jam tangannya pun cukup sporty. Tetapi penampilan pria itu tentu tidak dapat menutupi sikap dan wataknya yang menyerupai lelaki Don Juan !

__ADS_1


Entahlah, di dunia kerja seperti kantoran atau di perusahaan, membuat Jenna mulai merasa jenuh! Padahal untuk bekerja di sebuah perusahaan tingkat menengah pun, para pelamar harus memenuhi standar tuntutan yang tinggi.


Mereka yang bekerja di sana pun diharuskan mempunyai skill mumpuni dibarengi dengan ijazah pendidikan tinggi. Tetapi pergaulan para kaum wanita pekerjanya juga cukup menyeramkan. Istilah homo homini lupus, tetap berlaku. Layaknya ada di hutan belantara Jakarta. Yang lemah adalah mangsa yang kuat!


Iseng Jenna menyalakan alat perekam dari hapenya. Suruh siapa pria muda yang tadi dipanggil Om Zaki dengan nama Prasaja Bramantyo itu sangat besar kepala. Sok kenal lagi... Huh!


Tak lama seorang pelayan datang untuk mengantar pesanan di meja pria itu. Jenna menikmati suapan pasta terakhir di piringnya ketika mereka bertatapan.


" Sorry! Boleh kenalan?"


Jenna menunduk lagi, tak menggubris saat pria itu mengulurkan tangannya mengajak untuk mengajak bersalaman. Sorry, Kang, bukan muhrim! ucap Jenna dalam hati.


Hal konyol itu tentu saja menjadi perhatian kedua lelaki dewasa yang lain. Sebab mereka juga menghentikan pembicaraan yang cukup ramai itu.


" Pras, itu Jenna! Keponakan Pak Jhon Sagara! Wow, emang enak dicuekin?"


Tawa kedua pria itu membahana. Sebab Jenna semakin tidak peduli pada tingkah laku pria muda itu. Mau dia sampai lari ke Lapangan Monas pun , Jenna tak menggubris. Seharusnya kita tetap menjaga sopan santun sebagai bangsa Indonesia. Tak peduli kalau si pria belagu itu lulusan perguruan tinggi dari negara Amerika atau Eropa sana! Sebodoh amat!


" Kamu juga beda dengan Bang Tedi? Sepertinya abangku salah berteman dengan makhluk yang berasal dari kampung Ujung Kulon..." Ucap Jenna manis.


Sekarang Om Jhon benar- benar berhenti bicara. " Pras, Sorry... Jenna kurang nyaman kalau kamu berlaku kurang sopan!"


" Ugh, apa dia pernah patah hati, ya. Om? Jadi nggak suka dipuji cowok sekeren aku?"


" Stop, Pras! Jenna marah, tuh!"


" Rayuanmu terlalu basi? Mungkin kamu pria yang hidup pada zaman kuda gigit besi, tahu!"


Pras terdiam, setelah mulai menyadari latar belakang keluarga Tedi. Mereka semua mempelajari berbagai olahraga bela diri sampai tingkat mahir. Walaupun tubuh Jenna malah terlihat mungil dan rapuh. Dengar - dengar dia mengikuti sebuah olahraga silat yang organisasinya dulu diketuai oleh kakeknya.

__ADS_1


" Apa Jenna boleh pulang, Om ?" tanya Jenna sopan.


" Boleh, sayang... Ini laporannya! Kamu tunjuk saja beberapa pekerja yang dapat menangani masalah pengiriman barang. Dalam seminggu mereka sudah dilatih dan mahir? Siap kan?"


" Jenna usahakan!"


Dengan lembut Jenna berdiri, menganggukkan kepalanya tanda pamit. Dia segera berbalik sambil membawa map hasil pertemuan tadi menuju pintu luar restoran. Sampai dia menyadari kalau ada seorang laki-laki yang mengikuti dari belakang.


Sial! Jenna tidak takut dengan makhluk halus dan sebangsanya walaupun koridor di hotel untuk menuju lift sangat sepi dan sedikit merinding.


Dia lebih takut pada manusia yang bersifat seperti setan. Terutama laki laki yang suka meremehkan perempuan hanya karena lemah dan tidak punya kekuatan tenaga.


Lift bergerak cepat, membawanya turun ke lobby. dia hanya mendapati satu atau dua orang saja yang berada di ruangan yang cukup luas dan terang.


Sesampainya di dekat halaman parkir, barulah Jenna menelpon Pak Min. Pria itu mengatakan kalau dia sedang berada di dekat pintu luar. Sedang mobilnya terparkir tidak jauh dari sana.


Langkah Jenna agak santai ketika meninggalkan teras hotel. Jalan pintas menuju luar halaman terbuat dari bebatuan yang ditata seperti paving block. Jadi suara sepatu flat shoes yang digunakan masih menimbulkan suara tak, tik, tuk! Sampai pendengarannya mendengar langkah kaki yang lebih berat dan cepat.


" Aduh!" Terdengar suara laki- laki di belakangnya dengan kencang. Tangan lelaki yang tadi terulur menyentuh bahunya, sudah dipiting dan diputarnya dengan cepat. Dia sudah akan melakukan teknik bantingan ketika melihat wajah panik seorang pria yang sama persis yang tadi duduk di hadapannya di restoran. Terlanjur, segera dia mengerakkan kedua kakinya untuk menjegal kakinya. Mungkin ketika dia menjatuhkan lelaki itu tidak sesakit kalau dibanting.


" Jenna...!" Rintihan Pras terdengar ketika dia terkapar di halaman taman berumput itu.


Adegan itu ternyata dilihat Pak Min, juga dua petugas keamanan hotel yang berjaga di pos penjaga pintu luar dan beberapa orang yang lalu lalang di jalan seberangnya.


Satu petugas berseragam coklat seperti polisi berlari cepat. Dia sampai melompati beberapa pot hias dan got besar di sana.


" Ada apa ini?"


" Maaf, saya kira dia copet!" Bisik Jenna terkejut juga. Sebab tubuh tinggi besar Prasaja masih tergolek di dekatnya. Entah dia mengalami cedera atau dia malu karena terkena bantingan oleh seorang gadis muda bertubuh mungil.

__ADS_1


Pras dibantu petugas untuk bangun. Wajah tampan pria itu sudah seperti kepiting rebus. Salahnya main towel bahu orang!


" Maaf! " Ujar Jenna sambil memandang sosok Pras yang masih sibuk menepis sisa kotoran dari setelan baju kerja mahalnya. Dia segera pergi dan berlalu dari pria itu.


__ADS_2