
Naura tertarik juga untuk berkunjung ke villa Bunga, vila milik Om Sidharta. Disebut villa bunga, karena di luar pagar tembok itu tumbuh bunga-bunga liar yang cantik berwarna cerah mirip bunga pacar air. Warna bunga itu antara merah ke oranye muda. Bunga itu tumbuh di dekat talang air, selokan dan di bagian tembok pagar yang lembab dan basah. Padahal kalau dibawa pulang dan ditanam di pot pun, bunga itu malah mati.
" Kamu bawa, apa Naura?" tanya si mami, alias Tante Ismaya pada anak perempuannya itu.
" Kata Kak Jenna, di vila itu ada kolam renangnya. Aku boleh berenang di sana, Mami?" tanya bocah kelas 4 itu manis.
Si Mami kebingungan. Sebab lokasi pengambilan film untuk iklan dengan kolam renang agak berdekatan. Tetapi pada saat ini, mau bepergian ke beberapa tempat wisata yang ada di daerah Puncak ini pun, percuma. Sebab semua tempat wisata di sana, ditutup untuk umum.
Biasanya orang-orang dari Jakarta dan sekitarnya datang ke Puncak, karena tertarik untuk menginap pada saat weekend bersama keluarga keluarga. Sehingga di sana banyak berdiri hotel, resort , vila atau wisma yang dipenuhi pengunjung pada setelah hari Sabtu, Minggu badan liburan panjang.
Banyak tempat wisata yang ditawarkan di daerah Puncak itu, dari yang murah meriah , sampai kelas hotel mewah. Selain untuk merasakan pemandangan pegunungan yang indah dengan udaranya yang dingin.
Padahal biasanya kalau Naura diajak menginap di Puncak, mereka akan jalan-jalan dulu ke berbagai tempat wisata. Yang paling sering adalah ke Taman Safari. Tetapi kalau mau lebih jauh lagi ada Kebun Raya Cibodas atau Taman Bunga Nusantara yang ada di wilayah Cipanas.
Di Puncak ini segala hal bisa didapatkan, dari kulineran murah meriah di pinggir jalan , sampai ke ke restoran yang berjejeran di sana. Belum lagi belanja oleh - oleh, wahana permainan anak-anak. Yang terbaru adalah sebuah wisata yang memadukan semuanya, dari belanja oleh - oleh, kulineran sampai memberi edukasi buat anak-anak, sekaligus, wahana permainan yang seru.
Setelah berdiskusi lama dengan Bang Miko, si pemimpin produksi, akhirnya Naura diperbolehkan berenang di sana. Apalagi Naura hanya akan berenang sendirian... Kalau nggak ditemani ayahnya, Om Jhon Sagara. Acara renang Naura dilakukan setelah istirahat pengambilan film menjelang pukul 12.00.
Jadinya, Naura sangat patuh ketika oleh maminya dia disuruh menghabiskan sarapannya. Di meja panjang itu ada berbagai makanan untuk sarapan, terutama anak buah Bang Tedi yang menginap di Villa Bunga. Jadi mereka berkunjung ke tempat ini, yang jaraknya hanya sekitaran 200 meteran dari Villa itu.
Di meja itu disajikan berbagai hidangan makan sarapan yang mudah disajikan namun mengenyangkan. Ada Nasi goreng Jawa, lauknya ceplok telor atau telur mata sapi . Ada bihun goreng, dengan sambal kacangnya. Puluhan roti panggang dengan berbagai olesan yang bertumpuk di wadah dari stainless agar tetap hangat. Sebab makanan ala barat itu baru keluar dari microwave.
Opa Damash dan Oma Frida sudah menyelesaikan sarapannya . Mereka berjalan - jalan keluar untuk mengunjungi vila Bunga. Suster Fani ikut juga berjalan ke sana, sambil mengendong Efron.
Jenna agak sedikit menyingkir ke area ruang belakang saat team kreatif itu mulai datang untuk sarapan di ruang makan. Dua orang pekerja dari salon malah mendekati Jenna dan mereka ngobrol banyak di teras samping.
" Ini vila kakeknya Mbak Jenna, ya? Enak banget tempatnya... Cocok buat healing!" kata Mbak Hera.
" Ya, begini aja, Mbak. Vila ini sesuai dengan keinginan Opa hanya sebagai tempat berkumpul keluarga setelah beliau sudah pensiun... Jadi nggak ada kolam renang, taman bunga yang bagus... Hanya bangunan yang dapat menampung seluruh anggota keluarga besar dapat berkumpul bersama di sini."
__ADS_1
" Boleh nggak , Mbak. Kita tidur di sini saja? Nggak apa- apa gelar tikar di luar kamar. Di vila Bunga sepertinya sudah lama dibiarkan kosong... Jadi kami kurang nyaman di sana ", ujar Mas Fajar beralasan.
Mata Mbak Hera mendelik. " Tadi malam itu bukannya si Mas, yang jalan mondar-mandir ke luar dari kamar sebelah?"
" Cuma sekali Hera, gua cuma mau pipis ... Sepertinya kita semua ada yang mengawasi begitu, Mbak Jenna. Jadi saya agak takut juga!"
Jenna tercekat, menahan suaranya. Takut ada hil- hil mustahil yang terjadi di sana... Tetapi Oma Mieke kan sudah lama wafatnya... Kalau dari penuturan Mang Koya, Itu terjadi di akhir tahun 2020. Sudah lebih dari setahun yang lalu. Meninggalnya pun bukan di vila itu, di luar negeri... Apa ada ada penampakan yang harus beli tiket dulu untuk kembali ke tanah air?
" Mas dan Mbak, cari alasan yang paling masuk akal saja, agar diizinkan Bang Miko tinggal di Vila ini. Takut dibilang nggak kompak, nggak bahaya, tuh!"
" Tetapi kami boleh bermalam di sini kan,?" tanya Mbak Hera penuh harap.
" Di atas masih ada satu kamar tidur kosong buat Mbak Hera...Kalau Mas Fajar mau tidur di tempat tidur gantung di depan balkon. Boleh, kok! Mau tidur di kasur lipat di ruangan tengah juga ada. Kalau takut nanti sama Bang Fendi saja. Sebab dia tinggal di rumah belakang bersama keluarga Pak Suheri."
" Terimakasih, Mbak Jenna!" ujar mereka bersamaan dengan rasa lega. Tetapi mereka berjanji untuk tutup mulut. Takut terjadi kehebohan di sana. Padahal pekerjaan besar mereka baru akan dimulai hari ini.
Di villa ini tinggal Jena sendirian di ruang keluarga.Di depan seberang halaman villa terlihat banyak perempuan warga desa ini mulai memetik sayuran. Terlihat ada Teh Nia dan Bu Titin berbaur bersama mereka. Panen setiap tanaman sayuran itu berbeda - berbeda waktunya. Jadi hampir setiap hari di lahan itu selalu ada kesibukan.
" Neng Jenna, nggak ikut nonton?"
" Memang ada film baru , Bik?" tanya Jenna pada istri Pak Suheri itu.
Tadi mereka mengajak Jenna belanja di Pasar Cisarua. Sebagian panen sayur akan dijual ke swalayan langganan. Hasil yang kurang baik, biasanya dikonsumsi untuk orang yang bekerja .Tetapi hari ini semua sayur akan dibawa ke dapur Vila Damash. Tetapi beras, bumbu dan lauk harus dibeli di pasar. Jaraknya cukup jauh juga dari tempat ini.
" Itu film untuk iklan Non Rara!"
" Enakkan nonton yang iklannya yang sudah jadi, Bik! Membuat iklan seperti itu adegannya akan diulang- ulang, kalau ada yang salah. Bosen juga nungguin..."
Jenna mendengar Mang Asep memanggilnya. Mereka akan naik mobil Jeep si Opa... Di tangan Teh Lilis ada catatan belanja yang sangat panjang.
__ADS_1
" Itu catatan dosa siapa, Teh?" tanya Jenna meledeknya.
Wanita beranak dua itu tak bisa menahan tawanya yang geli." Ini pesanan bahan makanan yang harus dibeli dari Bu Ismaya...Tetapi yang bayarin semua belanjaan, pakai uang Den Tedi!"
"Nggak apa-apa, Teh. Dibanyakin aja beli beras, bumbu dan lauk-pauknya. Di rumah Teteh, juga perlu apa yang dibeli, pakai uang itu saja. Jangan belanja pakai uang sendiri!" pinta Jenna.
" Siap , Non!" Ucap Mang Asep. Sambil matanya terus mengawasi lalu lintas ke arah Puncak Pass di Sabtu Pagi ini.
Pasar tradisional itu adalah pasar terbesar yang ada di daerah Cisarua. Letaknya tidak jauh dari gerbang depan jalan yang menjadi pintu masih area wisata Taman Safari. Karena belanjaan hari ini cukup banyak, Mang Asep ikut dengan istrinya masuk ke dalam pasar.
Mereka membeli dua karung beras yang masing-masing berisi 10 Kg. Ada tumpukan minyak goreng kemasan dalam botol, Gula pasir , bermacam jenis bumbu, teh, kopi dan lauk-pauk seperti ayam, tahu - tempe dan daging.
Terkadang di luar area pasar, Jenna sering menemukan pedagang dari kampung - kampung di sekitar wilayah Puncak ini yang membawa buah-buahan yang semakin jarang ditemui. Seperti ada pedagang yang membawa buah jambu Jamaika atau kata orang Betawi Jambu ***.
Di sana ada juga yang menjual buah buni, Menteng dan buah Gandaria.Jenna membeli beberapa buah itu tidak terlalu banyak. Karena semua buah itu rasanya asem. Beberapa buah langka seperti itu, berhasil dicangkok Opa di kebun buahnya di halaman belakang vila.
Ada dua orang pekerja dari toko sembako yang membawakan belanjaan Teh Lilis. Belanjaannya itu ditaruh di bagasi belakang mobil. Untuk makan Opa Damash sehari- hari, harus banyak buah dan sayur. Tempe dan tahu juga akan menjadi lauk pauk opa sehari-hari. Tentu setelah dibuat dengan berbagai variasi dari makanan itu , agar Opa tidak bosan saja.
" Neng, dapat salam dari Ikin!" panggil Teh Lilis, mulai menggoda Jenna. Walaupun cantik dan imut, cucu majikannya ini tidak caper dan ganjen. Apalagi dia pandai menempatkan diri.
" Salam, Laos dan sereh lagi, Teh!" ujar Jenna malas.
" Itukan temannya bumbu dapur, Neng Jenna!"
Kedua pegawainya dari toko sembako Koh Yon tetap tak beranjak dari parkiran. Malah yang paling muda membantu tukang parkir di pasar itu, agar Mang Asep dapat meninggalkan area pasar dengan mobil mahalnya itu dengan aman. Maklum kendaraan di dua lajur Puncak ini mulai ramai dan padat.
" Ih, pada gelo anak muda sekarang atuh!" omel Mang Asep setelah menyerahkan uang lembaran lima ribuan pada tukang parkir amatiran itu.
Tadi sempat Mang Asep melihat Si Ikin melepaskan ciuman ala kiss bay pada Jenna. Mana mau melihat cucu Opa Damash itu. Sejak duduk di bangku belakang, gadis itu sudah sibuk membuka beberapa email dari catatan kegiatan shooting hari ini.
__ADS_1