Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 104. Satu Permintaan


__ADS_3

Omongan Mbak Lydia tentang ketidaksukaan Dokter Niken kepada dirinya, agak mengejutkan juga. Sebab selama ini Jenna sudah bersikap baik kepada semua orang, dari dokter juga para pekerja di klinik Perawatan Kecantikan Ismaya Beauty Salon. Ternyata masih ada saja orang yang menyukainya . Kadang hanya satu atau dua orang dari mereka, sehingga Jenna tak mau ambil pusing dengan masalah itu.


Padahal Jenna selalu menghargai orang yang lebih tua darinya, walaupun pekerjaannya hanya OB atau tukang parkir. Jenna sedikit lebih tegas kepada para pekerja salon yang kadang hanya mau menerima pelanggan A atau B, hanya karena mereka suka memberi tips yang cukup besar . Tetapi kalau kepada para dokter yang melayani pelanggan klinik dengan sepenuh hati, justru Jenna sangat menghormati mereka.


Iseng-iseng, Jenna mengambil file dari data para dokter yang mengajukan lamaran ke klinik ini. Termasuk yang sudah diarsipkan Mbak Lidya ke data pegawai.


Semua berkas lamaran itu tetap ditumpuk rapi, setelah Tante Ismaya menggunakan media sosial media miliknya untuk membuka lowongan kerja untuk dokter ahli kecantikan dan perawatan kulit.


Tante Ismaya sudah lama mencari tenaga dokter yang dapat dipercaya untuk menggantikan tugasnya di klinik dan salon miliknya itu. Sebab sejak launching produk kosmetik terbarunya di awal tahun 2020, memaksa wanita itu harus fokus pada satu tujuan . Yaitu mengembangkan produk kosmetik dan perawatan kulit itu di pasaran dalam negeri. Apalagi, mereka berani menggunakan model iklan yang benar - benar masih belia dan fresh.


Tante Ismaya serasa telah mewujudkan impiannya sejak lama untuk memproduksi sendiri rangkaian perawatan kecantikan wanita terlengkap dengan brand mengunakan namanya sendiri. Sekarang, dia harus lebih fokus di usaha tersebut yang didirikannya bersama suaminya.


Dari map biru itu, Jenna membaca tulisan besar si pemilik data, yaitu Niken Sabrina Mahmud. Di dalam map tersebut terdapat lembaran surat lamaran dari dokter Niken Sabrina, yang ditulis tangan dengan cukup rapi. Walaupun semua orang tahu, tulisan dokter itu pada umumnya agak sulit dibaca. Atau sering diledek dengan ucapan tulisan ceker ayam. Saking rapihnya!


Keingintahuan Jenna semakin besar. Saat dia mulai mengamati isi CV wanita itu dan beberapa lembaran fotocopy untuk melengkapi data dirinya sebagai seorang dokter wanita profesional. Di sana juga dilampirkan KTP, pasfoto terakhir, berbagai ijazah sarjana kedokteran juga beberapa sertifikat kelengkapannya. Semua itu sudah diinput pada data karyawan oleh Mbak Lidya di komputernya.


Tertera di sana, kalau wanita muda itu sudah berusia 27 tahun! Jadi lebih tua 5 tahun dari usia Jenna! Dia kuliah di fakultas kedokteran pada sebuah kampus swasta di Jakarta. Dokter Niken ini menyelesaikan pendidikan pada usia 23 tahun. Wanita itu juga sudah memenuhi berbagai persyaratan sebagai dokter umum, sebelum dia kuliah di sebuah kampus di Malaysia untuk program spesialisasi nya


Jenna agak asing sedikit dengan nama kampus itu yang berada di negara Jiran itu. Sampai dia menyadari kalau Dokter Niken itu mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan program S2 di kampus itu.


Bukan Jenna meragukan kemampuan wanita muda itu sebagai dokter ahli kecantikan yang masih muda dan cukup terpercaya. Sebab Tante Ismaya sendiri yang mewawancarai mereka secara khusus. Terutama para dokter yang melamar untuk lowongan tersebut. Tentu dengan kriteria yang diharapkan.

__ADS_1


Hanya saja, rasa angkuh dan tinggi hatinya Dokter Niken itu, agak berbeda. Sangat jauh dari penilaian secara umum, dari yang diharapkan oleh seseorang yang berprofesi sebagai dokter! Apa perlu dia berwajah masam dan berbicara ketus seperti itu kepada pasien yang harus dihadapinya setiap hari?


Seakan wanita muda itu lupa dengan pepatah," di atas langit ada, langit". Contohnya saja, Om Jhon Sagara adik bungsu Ibunya itu. Sejak kecil pria itu mempunyai otak cemerlang. Sehingga selalu berprestasi sejak sekolah di bangku di SD sampai SMA.


Adik bungsu mamanya itu malah semakin tekun belajar sejak kuliah di jurusan kedokteran di kampus terkenal di Jakarta. Bahkan dia rela ditempatkan bekerja di pinggiran kota Jakarta, di sebuah puskesmas demi mengabdikan ilmunya tersebut. Juga mau belajar banyak tentang bisnis pada kakak iparnya itu, secara otodidak sampai berhasil mendirikan perusahaan sendiri yang memproduksi kosmetik dan perawatan kulit.


Inilah yang membuat Jenna bingung! Pada keluarga Mamanya itu, mana ada sikap jumawa, sombong atau otoriter, yang sebenarnya jarang dimiliki oleh mereka yang berprofesi sebagai dokter. Apalagi mereka harus berhadapan dengan pasien dan keluarganya dari segala lapisan strata sosial yang ada di tengah masyarakat.


" Kenapa, Jenna?" tanya Mbak Lidya.


Wanita itu menghentikan pekerjaannya dari catat- mencatat. Terlihat Jenna mengembalikan map itu pada file berkas karyawan.


" Tolong, sesekali Mbak Lydia pantau kalau dokter Niken memberi konsultasi pada pelanggan yang akan melakukan perawatan, ya. Mbak!"


" Ini... Para pelanggan justru banyak melakukan perawatan setelah berkonsultasi dengan dua dokter lainnya... Padahal Dokter Niken itu paling banyak jadwal jaganya di klinik ini, seminggu 3 kali."


"Mungkin mereka malas kali! Kalau mendengar ucapan jutek dari dokter yang satu itu!" Ucap Mbak Lydia main-main.


Jenna tertawa geli. Kalau saja dia sudah punya bukti lengkap tentang sikap dan cara Dokter Niken saat mengadakan sesi konsultasi dengan para pelanggan klinik itu, tentu Jenna tidak perlu pusing seperti ini. Sayangnya, tak boleh ada rekaman atau CCTV di ruang sana, untuk menjaga kerahasian para pelanggan klinik.


Sikap dan watak kita yang kurang baik, sebenarnya dapat mengurangi profesionalisme dalam pekerjaan. Atau seharusnya Dokter Niken itu perlu belajar acting atau sekolah Kepribadian di lembaga Jhon Robert Power. Agar dia bisa berpura - pura simpatik pada pasiennya, harus lebih bersabar menerima keluhan mereka. Terkadang sekedar tersenyum saja itu sudah cukup!

__ADS_1


Untuk sementara, Jenna berusaha melupakan masalah si Niken itu. Dia sudah mendata berbagai barang yang diperlukan. Sambil mengajukan pesanan pada toko dan supplier yang biasa bekerja sama dengan klinik dan salon kecantikan Ismaya Beauty ini.


Selama beberapa minggu ini, Jenna sudah tidak lagi mendengar permasalahan yang ditimbulkan oleh keluarga Hisbillah. Setelah mereka datang ke kompleks perumahan milik keluarga Damash di Sentul beberapa waktu yang lalu.


Farhan dan kakaknya sudah berdamai dengan Marvin dan keluarganya. Tentu mereka diharuskan membayar uang kompensasi yang cukup besar juga. Bukan Bang Tedi menjual nyawa manusia! Tetapi itu tuntutan uang itu digunakan sebagai pembelajaran bagi anak-anak dari Ibu Nyai Dian Komariah itu yang selalu mengutamakan aksi dulu, daripada bereaksi.


Opa Damash melibatkan Om Bramantyo dalan urusan uang itu. Walaupun segala biaya perawatan dan operasi Marvin sudah dicover oleh perusahaan. Tetapi keselamatan jiwa dan nyawa seseorang itu harus lebih tinggi harkatnya.


Jenna terkekeh geli dengan dua ancam dari Opa. Walaupun jalan damai yang dipilih keluarga itu. Tak lepas kemungkinan, nama Farhan akan terhempas jatuh dari peredarannya. Mana ada pengusaha atau perusahaan yang akan bekerja sama dengan seseorang yang mengutamakan sifat premanisme seperti Farhan dan para kakaknya itu.


Dana seratus juta sudah dikirim pihak Hisbillah ke rekening Marvin atas prakarsa pihak pengacara yang dipilih Bang Tedi. Untungnya Ibu Marfuah sudah bisa menahan diri. Wanita itu sangat histeris menghadapi Farhan, lelaki yang dulu menjadi sahabat anaknya itu, justru menjadi malaikat yang akan mencabut nyawa anaknya!


Bang Tedi senyum-senyum saja setelah perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan. Justru Marvin berencana akan menjual rumah di Cengkareng, agar ibunya bisa tinggal bersamanya di rumah yang akan dibelinya di daerah Jakarta Selatan. Bang Tedi mengizinkan saja, sebab kinerja Marvin cukup baik selama bekerja menjadi asistennya.


" Beres semua, Bang! " tanya Jenna.


Mereka bertemu di sebuah kafe di daerah Kuningan. Jenna terpaksa mendatangi tempat yang cukup jauh itu dari salon yang ada di Kelapa Gading. Hanya untuk menemui kakaknya yang satu ini. Tampaknya Bang Tedi semakin tenggelam dalam pekerjaan di kantor pusat PT Putra Darmawan. Perusahaan milik ayahnya, Fery Darmawan yang sebagian besar menyelenggarakan bisnis di bidang jasa dan produksi berbagai barang, dengan beberapa pabrik di sekitar wilayah Jabotabek.


"Kita tetap waspada saja!" ujar pria itu bijak. " Penjagaan untuk kamu ditarik! Biar Fandi yang menjaga Karolina saja! Sekarang dia banyak keluar rumah , untuk menerima tawaran produk iklan! Sehingga harus ada yang menjaganya saat bepergian.


" Iya, Bang!" Jawab Jenna tenang.

__ADS_1


Ada keraguan sedikit di wajah pria tampan itu. Dia sangat menjaga adiknya perempuan satu- satunya itu. Kadang Jenna bersikap terlalu santai terhadap segala perubahan yang ada di sekitarnya. Walaupun dia yakin adiknya itu mampu menjaga dirinya sendiri.


__ADS_2