
Jenna berusaha mencari wadah, kotak atau kantong kresek untuk menempatkan tas dan aksesoris itu. Sebab benda-benda seperti itu akan mudah rusak kalau dibawa secara sembarangan.
Mau bertanya pada Siti, sang ART malah sibuk membantu Marvin menata baju-baju Karolina itu lebih rapi ke dalam kardus- kardus yang mulai dimasukkan ke dalam bagasi.
Karolina telah lebih dulu keluar dengan tumpukan tas miliknya. Sedangkan Jenna akhirnya menata aksesoris itu ke dalam plastik besar, bekas wadah makanan yang lengkap dengan tutupnya. Wadah itu diambilnya dari rak di dapur.
Baru saja Jenna melangkah ke luar dari pintu rumah. Ada tangan kuat yang menahannya... Sekilas Jenna melihat sosok Kak Farhan. Namun Jenna tak peduli. Apalagi hari ini dia hanya berpakaian santai. Celana jeans, t-shirt merah muda dengan sepatu sneaker putih.
Wadah itu diletakkan Jenna pada meja di depan teras. Segera dia menarik tangan lelaki itu dengan kuat, dan membanting bahu si lelaki yang sudah menyerangnya dengan kurang ajar.
" Gubrak!"
Tubuh lelaki itu terjatuh di teras dengan keras. Jenna mulai memasangkan kuda-kuda. Bersiap kalau lelaki itu akan kembali menyerangnya.
Suara ribut itu membuat Marvin, Siti dan Karolina berlarian keluar dari dalam rumah. Mereka terkejut melihat tubuh Kak Farhan tergolek di lantai depan teras yang tidak rata.
" Farhan?" Suara Marvin, untuk memastikan sosok yang tergolek di lantai itu adalah mantan si bos, yang juga sahabatnya semasa kuliah dulu.
Mereka tidak tahu kalau mantan suami Karolina itu datang ke rumah ini. Tiba -tiba sudah masuk ke halaman dua orang lelaki yang lebih muda. Wajah mereka menyeringai tidak suka karena melihat Farhan, seperti mendapatkan sebuah serangan yang mematikan.
" Kamu ngapain, Kak? Nggak ada kata-kata yang lebih sopan lagi untuk berbicara baik-baik. Main nyerang saja!"
Ucapan Jenna itu membuat Farhan malu. Dia bangun sambil menahan sakit pada pinggangnya. Bantingan Jenna sangat kuat dan bertenaga. Sejenak dia lupa, kalau sepupu mantan istrinya ini adalah cucu seorang pendekar yang cukup di segani kemampuan bela dirinya. Beliau juga mantan prajurit yang sangat terlatih dalam berbagai pertempuran di medan perang.
Kedua pria muda itu mulai mendekati Jenna. " Silahkan kalau kalian mau menerima nasib yang lebih buruk dari mantan kakak ipar saya ini!" Tantang Jenna.
__ADS_1
Isyarat mundur dari Farhan tidak terlalu diperhatikan oleh dua anak buah kakaknya itu. Bang Hasyim selalu terbiasa melibatkan para remaja di luar kegiatan ibadah di mesjid milik Aku buyutnya itu. Dari mengawal sang ayah yang sedang kampanye ke daerah pelosok, atau kegiatan keagamaan di masjidnya sampai mengelar berbagai acara demo dan pawai di kota Bogor sampai sekitarnya.
Peletak! Tendangan maut kaki Jenna sudah mengenai lutut dari pria yang paling muda yang mencoba menyerang Jenna lebih dulu. Marvin bergerak cepat untuk menghalau perkelahian yang lebih menghancurkan lagi. Tetapi pemuda yang satu lagi sudah kena sodok ulu hatinya oleh siku Jenna. Pemuda menjerit tertahan.
Karolina dan Siti hanya dapat menahan napas. Gerakan cepat Jenna saat melumpuhkan penyerangnya membuat mereka terpukau dan tidak bisa berkata-kata lagi. Cepat Marvin menahan Farhan yang siap membalas perbuatan Jenna yang sudah membuat dua pemuda pengawalnya mengerang merasakan kesakitan. Satunya memegangi perutnya, yang satu lagi memegangi kakinya yang serasa dipatahkan.
" Biar kak Marvin! Saya memang sudah lama mau menghajar lelaki pecundang itu! Mungkin kalau Opa Damash yang mendengar perbuatan mantan cucu menantunya ini, Dia sudah tidak respect lagi dan akan mengangkat senjatanya!" Ucap Jenna geram. Dia memandang wajah Farhan seperti mau meludah karena jijik.
Farhan gelap mata. Walaupun perbuatannya salah karena menikah lagi tanpa meminta izin kepada Karolina, sebagai istri pertamanya. Tetap saja sebagai lelaki dia tidak suka dihina atau diremehkan. Apalagi dihajar oleh seorang perempuan bertubuh mungil tanpa dia melakukan perlawanan.
Lelaki itu merangsak mendekati Jenna, setelah mendorong tubuh Marvin cukup kuat, agar menjauh. Farhan yang tidak mempunyai dasar ilmu bela diri apapun, menyerang Jenna hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya sebagai seorang lelaki dewasa.
Jenna berkali-kali menghindari pukulan ngawur Farhan. Sampai di suatu kesempatan, Jenna menarik tangan itu dengan kekuatan penuh, sampai tubuh besar Farhan terbungkuk. Jenna menghujamkan siku kanannya yang ditumpu dengan kepalan tangan kirinya ke bahu lebar lelaki itu yang menjadi sasaran empuk buatnya. Tak ayal, Farhan berteriak kesakitan lalu ambruk di halaman depan rumah itu yang didasari oleh cone blok.
" Masih mau coba lagi? " Kata Jenna semakin marah. Wajah cantik itu Jenna memerah.
Farhan bangun terbungkuk menahan sakit. Begitu juga dengan pemudanya yang lain... Mereka memandang wajah Jenna ketakutan. Apalagi di hadapan mereka, Jenna masih memasang kuda- kuda untuk pertahanan diri.
" Silahkan, mau coba lagi? Tadi hanya salam perkenalan saja dari saya... Sekarang mau bagian mana yang akan saya patahkan ? Kaki, tangan atau leher sekalian!"
Mereka mundur. Pemuda yang satunya segera menolong Farhan untuk bangun. Ternyata mereka datang ke sini dengan menggunakan motor. Kedua motor itu di parkir di jalan depan rumah. Lalu mengapa rumah ini tidak ditempati saja? Hanya dibuat kosong tak berpenghuni.
Sebelum dipapah naik ke boncengan motor seorang pemuda lainnya, Farhan menatap Jenna. Konyolnya Jenna mengerahkan jari telunjuk dan jempolnya dengan gaya seperti orang menembak... Wajah Farhan memucat. Sebab ancaman Jenna itu tidak akan main-main. Pukulan Jenna saja sudah sangat telak saat menghajarnya. Apalagi Kalau si Opa Damash sudah bergerak. Mungkin senjata api pun akan menjadi andalan mantan jenderal besar berbintang dua itu, untuk menumpasnya.
Tepukan tangan dari Siti dan Karolina mengiringi mantan suami dan pengawalnya yang sudah mirip para begundal saja tadi. Sampai menyadarkan Jenna, dari aksi perbuatannya tadi. Dia menatap Marvin dengan tajam.
__ADS_1
" Lo yang menelpon, Kak Farhan, kan?"
" Sorry Jenna, saya hanya memberi tahu mau datang untuk mengambil sisa barang Karolina!" Ujar Marvin merasa bersalah.
" Saya sudah menelpon Ibu Komariyah Dian Hisbillah, sebelumnya untuk minta izin... Apalagi, rumah ini harusnya sudah dijual dan hasilnya dibagi dua untuk Karolina karena menjadi harta gono-gini. Tetapi keluarga mereka tidak ada niat baiknya... Nama keluarga besar kami saja diremehkan akan hasil keputusan sidang di Pengadilan Agama itu. Bagaimana kalau orang kebanyakan.. mungkin terusir begitu saja... "
" Iya, Marvin... Kak Farhan tidak mau menjual rumah ini dengan alasan untuk Efron... Tetapi dia malah mau menempati bersama istri barunya. Apa sudah semiskin itu keluarga Hisbillah... Sebab menelan ludahnya sendiri!"
" Sorry Jenna, saya nggak bisa banyak membantumu!"
" Biar, Vin! Jenna memang sudah merencanakan ini untuk menghajar Farhan yang sudah tidak punya nyali lagi. Sebab dia selalu berlindung di ketek Maminya terus.. Ha, ha, ha!"
Siti terharu ketika Jenna memberinya tiga lembar uang ratusan. Tadi Jenna sempat melihat isi dapur, sama sekali tidak ada persediaan bahan makanan apapun di lemari kabinet di atas kompor. Isi di dalam kulkas pun kosong...
" Nanti kalau Ibu Nyai datang, Siti bilang baik-baik. Mau keluar kerja dari rumah ini... Nanti saya kalau sudah di Sentul, Siti boleh ikut kerja sama saya lagi !"
" Benar, Bu Karo?"
" Iya, saya sementara ada di rumah Papa Feri di Pasar Minggu...Takut Opa sakit lagi mendengar hal ini!"
Mereka meninggalkan rumah minimalis berlantai dua itu menjelang pukul satu... Di perjalanan pulang, Marvin terdiam.
Padahal Karolina terus saja mengomentari soal Jenna yang mampu menghajar mantan suami dan kedua anak buahnya itu.
Sekarang Karolina semakin yakin, kalau dia tidak akan sendirian dengan permasalahan hidupnya ini. Ternyata masing-masing anggota keluarga Damash dan Darmawan melindungi dia dan anaknya dengan cara yang berbeda. Namun Jenna sudah membalas rasa sakit hatinya kepada Farhan, si mantan suaminya yang sekarang berubah menjadi lelaki pengecut itu.
__ADS_1
Tentu tekanan darah Ibu Nyai akan semakin tinggi lagi, bila Farhan pulang dan mendapat aduan dari anak kesayangannya. Kalau dia telah dihajar Jenna. Lain lagi tindakan ayah dan Omnya, yang menjual pabrik besar itu. Pihak pemilik pabrik yang baru itu mengelola hasil pabrik dengan perusahaan yang lain...Sebab hasil pabrik itu sangat menguntungkan.
Tinggal kedua kakak Farhan gigit jari. Kecurangan mereka dengan memperkaya diri pribadi tidak dilaporkan ke polisi.. Tetapi Pak Feri Darmawan telah membuat daftar blacklist pada dua perusahaan itu, untuk tidak diajak bekerja sama dengan pengusaha lainnya karena rekan jejak mereka yang hitam.