Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 47. Tekad Prasaja


__ADS_3

Hari- hari Jenna kembali bergulir seperti biasanya. Bekerja di kantor Om Jhon dari pagi sampai sore, setiap hari Senin sampai Jumat. Pada hari Sabtu atau Minggu, Jenna ke Sentul untuk menengok Opa Damas dan melihat perkembangan kesehatan si Kakek.


Apabila tidak ada kegiatan yang terlalu penting sama sekali, Jenna tidak akan keluar rumah. Lebih banyak dia menghabiskan hari minggunya di rumah dengan tidur yang cukup lama. Sebuah istirahat yang dapat menyegarkan tubuh sekaligus pikirannya.


Si Abang pun mulai ikut merasakan ketidaksukaan Jenna terhadap kawan akrabnya itu. Lelaki yang berbeda usia dengan adik perempuan hampir lebih dari lima tahun itu tak bisa memaksa kehendaknya.


Mungkin karena Jenna dididik dengan penuh kasih sayang dan perhatian dari keluarga yang lebih dominan para lelakinya. Contoh itulah yang menjadi acuan Jenna untuk menilai pria lain. Setelah mengamati sikap, kepribadian dan tingkah lakunya.


Opa Damas contohnya, Beliau adalah sosok pria yang tegas dan berwibawa di kantornya. Apalagi kalau mendengar anak buahnya berbuat salah... Pria itu akan langsung turun tangan sendiri untuk menyidang dan menghukum si anak buah.


Semua anak dan cucu lelaki dari Opa Damas akan sangat bersikap gentleman terhadap wanita. Apalagi Jenna dan Karolina yang sangat disayang oleh Opa Damas.


"'Sorry, Bro! Gara- gara gua, ya. Lo, jadi kepikiran, begini, " ujar Prasaja saat mereka berjanji untuk bertemu di kantor pusat di daerah Kuningan ini.


Kantor yang berada di gedung berlantai sepuluh inilah, tempat sang ayah mengendalikan perusahaan utama. Yang membawahi beberapa anak perusahaan lain, yang bergerak di bidang yang lebih beragam lagi, selain jasa dan keuangan. Termasuk sebuah perusahaan kosmetik milik Ismaya, adik iparnya.


" Bisa nggak , sementara Lo di Jakarta. Dulu? " tanya Tedi Darmawan, memecahkan kesunyian.


" Kenapa, Bro. Ada kesulitan dengan urusan pekerjaan ini?"


" Pokoknya, Lo di Jakarta dulu! Paling satu atau dua tahun. Bisa?"


" Oke. Masalah fasilitas, Bagaimana?"


"' Seperti tawaran semula... Ada unit di apartemen gua yang kosong di lantai 9. Tetapi Lo jangan bawa cewek - cewek yang nggak jelas itu menginap di sana, Bro. Tempat itu eksklusif. Jadi kalau Lo melanggar, gua yang kena perkara sebagai penjamin...."


" Ya, ampun ... Begini amat punya best friend...Bukannya didukung malah dianiaya!"


Tubuh Toby bergidik. " Lo apa nggak takut kena penyakit begituan? Misalnya Aids atau HIV... Sayangi dirimu, Prasaja Bramantyo!"

__ADS_1


" Berisik, ih! " Ujar Pras agak malas. " Terus yang pegang tempat gua di Bali siapa?"


" Jenna! Makanya, Lo di sini. Dulu! Sampai Jenna cukup mapan dan nyaman di sana. Baru Lo boleh balik ke Bali."


" Kok, begitu, sih! Aneh aja pengaturannya!" Tukas Prasaja tidak puas... Padahal Jenna belum begitu berpengalaman memegang jabatan itu. Sedangkan dirinya sudah cukup lama lulus di bidang bisnis manajemen dari sebuah kampus di negara Australia, hampir enam tahun yang lalu


Belum terhitung dengan beberapa pengalamannya dengan memimpin berbagai macam proyek yang ada di Singapura, Kualu Lumpur dan Bangkok. Mengapa Tedi masih meragukannya?


" Jenna itu punya indera yang sensitif terhadap lelaki yang agak nyeleneh kayak kamu itu! Jadi dia suka alergi kalau bertemu dengan cowok yang suka melecehkan perempuan. Jadi dia akan membentuk pertahanan dirinya!"


" Sumpah? Gua baru dengar ada cewek kayak Jenna begitu. Sepertinya Jenna itu harus konsul ke psikiater, deh!"


" Sialan!" Seru Tedi. Dengan kesal dia menjitak kepala temannya itu. Pras mengerang. Jari tangan itu memberinya ketukan kuat, sampai kepalanya berdesing pusing.


" Gila, yah! Nggak Adek, nggak kakak! Suka banget menganiaya orang yang lemah!"


Wajah Pras yang tadinya agak santai dan menganggap omongan Tedi itu bersifat menakut-nakuti, tubuhnya mulai gemetaran dengan hebatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi.


" Tedi? Lo, bicara Serius, ini?"


Senyum Tedi menjadi semakin lebar. " Kapan Gua nggak serius? Gua tahu, kok. Jenna sudah memperhitungkan gerakannya, jadi tidak akan membuat lawannya terluka parah saat kamu dijatuhkannya! Buktinya Lo nggak apa- apa, kan?"


" Iya, Nggak apa- apa... Cuma mata kaki gua sedikit terkilir! Apa Jenna sehebat itu?"


" Makanya, Gua ngomong begini itu, biar ada sedikit pembelajaran. istilahnya... Lo, bisa menempatkan diri." Tedi tertawa ketika melihat wajah Pras yang melongo jadi seperti orang bego.


"'Sudahlah... Ini Jakarta, Bung! Jenna kalau nggak bisa bela diri, mana berani dia bepergian naik mobil sendirian sampai tengah malam. Di bagasi mobilnya dia siapkan alat pemukul softball. Malah di tasnya ada dua alat pengamanan. Satunya sejenis botol sejenis spray berisi cairan tertentu. Satunya lagi benda yang bila dipencet akan jadi menjadi tongkat . Benda itu dibelikan Papa waktu pergi ke USA, tiga tahun yang lalu."


**

__ADS_1


Sejak itu, bila bertemu Jenna, Pras akan menjauh. Lelaki itu agak takut juga. Lebih baik dia menahan mulutnya untuk tidak membuat Jenna emosi lagi. Jangan sampai dia masuk rumah sakit karena dihajar Jenna akibat perbuatannya yang tidak menyenangkan itu.


Jenna ternyata cukup tertarik dengan cara mengelola sebuah salon kecantikan untuk wanita kalangan menengah sampai atas.


Dia juga sepakat dengan ide dari Mbak Tya, yang menerima jasa pelayanan salon ke rumah- rumah pelanggan tertentu. Mereka terdiri dari beberapa team. Satu team terdiri dari 3 sampai empat orang. Apalagi kalau ada acara yang lebih formal di rumah pelanggan itu. Jadi lebih banyak lagi orang yang harus dirawat dan dirias.


Jenna mundur dari kantor Om Jhon di pertengahan bulan November. Apalagi sudah ada dua orang kandidat terbaik dari puluhan orang yang melamar untuk pekerjaan itu. Jenna sudah menyerahkan keputusan akhir kepada Om Jhon dan Tante Ismaya.


Pekerjaan di Bali akan direncanakan dijalaninya pertengahan tahun depan. Terlihat Jenna lebih enjoy dengan pekerjaan yang sekarang.. . Gadis muda itu pandai mengatur para pegawai di sana, yang dia sesuaikan dengan kemampuannya di bidang masing-masing.


" Gimana Jenna, semua aman?"


"'Aman, Tante!"


" Aku jadi kesepian di kantor! Nggak ada keponakanku yang cantik yang muncul dan menyapaku di sana!" Ujar Wanita itu dengan wajah yang pura-pura sedih.


" Ala, Tante bisa aja!"


" Serius?"


" Di sini, kami hanya mendengar gosip yang sering diceritakan para, pelanggan. Tetapi Jenna sudah berpesan, agar menyimpan semua gosip itu. Takut berimbas kalau ada pihak yang dirugikan!"


" Benar Jenna! Cukup di kantor saja, banyak berita nggak jelas! Syukurlah kalau kamu nyaman. Salon tutup jam 18.00? "


" Iya, Tan. Kecuali mereka sudah janji dengan satu pegawai di sini.. Tinggal di tunggu oleh pihak keamanan sebelum salon ditutup.."


Sebenarnya kepergian Jenna itu juga membuat banyak orang yang dekat dengan gadis itu merasa kehilangan. Seperti Bu Rully, juga asistennya di ruang kerjanya...Lain halnya para wanita yang pernah menyebarkan beberapa gosip buruk tentang Jenna. Hati mereka mulai ketar-ketir.


Apalagi Om Jhon sudah memaparkan dalam beberapa rapat umum, tentang diri Jenna sebenarnya. Gadis itu adalah keponakannya. Juga anaknya Pak Fery Darmawan. Beberapa pabrik milik ayah Jenna yang di Tangerang itulah yang memproduksi hampir sebagian produk kosmetik kecantikan dari perusahaan Ismaya Beauty.

__ADS_1


__ADS_2