Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 59. Cerita Karolina


__ADS_3

Udara siang, memaparkan seribu kehijauan di depan jendela kaca ruang keluarga di dalam villa itu. Di seberang sana tampak kabut putih yang tadi pagi menyelimuti daerah ini, mulai merangkak naik ke atas pegunungan. Sehingga tersingkap segala kesegaran dan kehijauan di lembah ini.


Dari kejauhan pucuk-pucuk hijau tanaman holtikultura terhampar luas di lahan kebun sayur di depan vila. Tanaman seperti selada, pakcoy, sawi bahkan tomat ditanam di sana. Semua tumbuhan subur.


Sebagian hasil panen itu akan nanti dikirim ke beberapa pasar tradisional di Bogor dan Jakarta. Sebagian lagi dikirim ke fresh market milik Ibu Amanda yang didirikan di beberapa perumahan tingkat menengah dan atas di daerah Sentul, Bogor dan Depok.


" Oma masih transfer uang buat Mang Ujang dan Pak Suheri kan, Teh?"


" Masih, Non. Pokoknya kalau masalah uang dan kebutuhan kami, keluarga Non, selalu amanah. Kami dan bapak mertua selalu nggak pernah kekurangan ...."


" Doa' kan aja, Teh. Opa Damash lekas pulih kesehatannya, agar dapat beristirahat di sini!"


" Oya, Non. Beliau jadi datang ke sini?"


" Jadi, Teh. Datangnya agak siangan ."


" Ya , sudah... Saya tinggal ya, Non! Biar saya sama Mak Inah siap- siap untuk makan siang nanti!" ujar Teh Asih kembali ke rumahnya.


Suster Fani sudah membawa Baby Efron keluar untuk berjalan- jalan di taman Villa dengan stroller. Apalagi di sana ada Pak Sutarto dan Pak Suheri yang sedang berkeliling di kebun samping yang cukup luas. Biasanya di sana mereka dapat memetik berbagai macam buah-buahan. Karena sebagian kebun itu itu ditanami pohon secara cangkok. Jadi cepat berbuah dan pohonnya tidak terlalu besar.


Karolina masih bermalas- malasan duduk di sofa besar di ruang tengah. Ada banyak obat yang harus diminumnya secara teratur. Sakitnya si Opa malah membuat pikiran Karolina bercabang- cabang. Apalagi Dokter Arunika yang selama ini mengurus semua keperluan saat Opa Damash menjalani operasi dan pemulihan di rumah sakit Gatot Subroto di Jakarta. Jadi Baby Efron tak langsung bisa ditangani oleh Oma cantiknya itu.


" Ayok, katanya mau curhat?"


" Aku lelah, Jenna... Kecuali bisa keluar dari rumah itu. Kalau tidak semua permasalahan ini yang akan membuatku jadi gila! Makanya aku sedang mencari peluang untuk bekerja... Biar mulut Maminya Farhan itu tidak terus mengatakan aku ini istri yang boros dan suka berfoya- foya..."


" Kamu kuat, Karo! ayok, berjuang lah. Bicarakan hal ini dengan Farhan secara baik- baik dan terbuka. Kalau dia selalu membela ibunya, baru bicaralah dengan Tante Amanda. Jangan libatkan Opa Damash lagi. Beliau selalu kepikiran karena melihat kehidupan rumah tangga cucunya nggak bahagia!"

__ADS_1


Sampai Karolina menitikkan air matanya. " Saya juga nggak bodoh, Jenna. Selama ini berusaha introspeksi diri. Tetapi mulutnya si Mami semakin tajam saja sejak Kak Farhan banyak urusan di Kota Serang. Sepertinya dia punya banyak alasan untuk membuat saya mundur dari pernikahan itu!"


Mata Jenna terbelalak, kaget. Sungguh Jenna tak menyangka seorang wanita paruh baya yang mempunyai banyak kesibukan dengan Kegiatan Majelis Taklim yang dipimpinnya itu, masih punya waktu untuk mengatur semua kehidupan rumah tangga anaknya- anaknya yang berjumlah lima orang.


Kebetulan Kak Farhan adalah anak laki- lakinya yang bungsu. Sebab secara kasat mata, Wanita itu sangat membanggakan titisan darah bangsawan Sunda yang mengalir di tubuhnya dan sang kakek buyut yang merupakan ulama besar di sana. Beliau Juga dikarunia banyak anak. Yaitu lima anak, dua perempuan dan tiga laki- laki.


Mengalirkan cerita bibir Karolina, kehidupan rumah tangganya ' Bak sinetron' di TV swasta tetangga sebelah. Sosok kehadiran si ibu mertua yang terlalu banyak mengatur kehidupannya orang- orang yang ada di sekelilingnya. Juga rumah tangga anaknya.


Apalagi lokasi rumah Karolina yang dibangun Farhan sebelum mereka menikah itu masih berada di dalam satu wilayah kota. Sehingga Si Ibu Nyai, begitu para pekerja dan ART di rumah besar kediaman Hisbillah, memanggil Ibunya Kak Farhan itu. Hampir tiap hari datang ke rumah Karolina dengan alasan menengok cucu.


"Apa itu obat untuk penyakit asam lambungmu?"


" Yah, aku berobat di klinik terdekat dari rumah saja. Apa- apa harus sendiri dan mandiri! Itu yang selalu dicetuskan di Mami. Punya suami tak bisa diandalkan bantuannya. Aku ini menikah tetapi rasa Janda!"


Jenna mengangguk mencoba mengerti. Lucunya, dulu kakak iparnya, Istri Mas Bayu Aji, malah bertahan untuk melahirkan bayinya di rumahnya, di Pasar Minggu. Karena di sana ada Dokter Arunika yang selalu menenangkan hatinya.


Sorenya, Jenna membawa Karolina dengan Fortuner milik Opa Damash ke kawasan Puncak Pass. Di sana ada wisata kebun teh yang murah meriah. Alias tanpa bayar kecuali untuk parkir liar di sisi jalan yang selalu ramai itu.


Baby Efron dikuasai Oma Farida dan Bik Inah. Mereka ngobrol seru di pendapa samping Villa, dekat dengan jalan setapak yang menghubungkan Vila ini ke rumah Bik Inah dengan anak dan cucunya.


Perjalanan kali ini seperti tapak tilas dari peristiwa pahit yang Jenna alami karena perjodohan itu. Sekarang Karolina yang harus dihibur dan didukung keluarganya karena menghadapi persoalan rumit dalam rumah tangganya. Tetapi kalau si Opa saja sudah mendapat serangan jantung atas cercaan ibu Mertuanya Karolina. Takutnya pernikahan mereka tidak tertolong lagi!


Inilah yang dulu dicemaskan Jenna selama ini. Dia sudah merasakan sejak acara 7 bulanan kehamilan Karolina yang diselenggarakan di rumah mertuanya itu. Sebuah rumah mewah untuk menunjukkan kepada masyarakat di sana, kalau keluarga mereka itu patut dihormati oleh orang -orang di sekelilingnya. Sepertinya kehidupan keluarga Hisbillah terselubung rapat dari berbagai puluhan lembaran rahasia. Karena kehidupan berpolitik sang suami dan latar belakang nama keluarga yang harus dijunjung tinggi.


Mobil sudah diparkir di sisi jalan yang cukup aman di dekat Puncak Pass ini. Masih tampak beberapa pedagang di sana yang membuka warung makanan, minuman dan camilan.


" Berteriak, Karolina! luapkan emosimu!" Pinta Jenna tegas.

__ADS_1


Mereka memasuki kawasan kebun teh, setelah berjalan di sisi jalan raya itu. Banyak orang juga bergerombol di sisi lainnya. Mereka sebagian besar untuk berfoto-foto.


Pada kerumunan pohon- pohon teh, di lembah itulah Karolina berteriak keras. Awalnya teriakan itu hanya menakutkan beberapa burung yang hinggap di dahan pada pohon yang berada di dekat sana. Mungkin karena merasa lebih lega, Karolina kembali berteriak-teriak lebih keras lagi.


Jenna sampai tertawa terpingkal - pingkal ketika lebih banyak burung lagi beterbangan di dekat semak- semak pohon teh itu. Burung- burung itu sangat ketakutan sehingga mengeluarkan suara ribut di sana. Puluhan burung itu berterbangan tak tentu arah. Kegilaan mereka mulai menjadi tontonan beberapa anak muda yang masih asyik selfi dengan anggota rombongannya di sana.


" Sialan, Lo! Masa gua diketawain. Dasar nggak best sister, ya! Gua susah, eh Lo kesenangan, " Kata Karolina sewot. Air mata Jenna menetes karena kebanyakan tertawa.


"'Sudah lega belum ?" akhirnya dia dapat bersuara. Setelah berhasil menahan rasa geli.


" Iya sudah lega...tetapi aku haus Jenna!" Keluhnya pasrah.


" Tadi, Suster Fani sudah memasukkan botol minum dan kotak camilan di dalam mobil!"


" Nggak usah ambil di dalam mobil, Jauh dan kelamaan... Itu ada warung, aku beliin air mineral aja. Cepat Jenna!"


Ih, Jenna sempat kesal dengan perintah sepupunya itu. Sudah ngeyel, menyebalkan juga! Dengan terpaksa, Jenna berlari- lari menyeberangi jalan besar itu untuk menuju warung terdekat. Dibelinya dua botol air mineral ukuran sedang.


"Ayo, kita pulang! Nanti bukan burung yang terbang kalau kamu berteriak lagi. Tetapi Teteh Kunti!"


Hii, kedua wanita itu segera meninggalkan area kebun teh itu. Dengan cepat mereka mencapai mobil yang diparkir. Namun di sana lebih banyak lagi para kaum muda yang refreshing ke tempat ini dengan kendaraan motor. Entah dengan pasangan atau tergabung dalam komunitas pertemanan.


Jenna dibantu oleh seorang tukang parkir liar, dipandu untuk berbalik arah, turun dari Puncak Pass itu.


" Terimakasih, kakak cantik!" seru si anak muda itu ketika Jenna menyerahkan selembar dua puluh ribuan.


Karolina senyum-senyum tak jelas dengan pujian receh anak muda itu. Sementara Jenna berkonsentrasi di depan kemudi. Cilember perlu ditempuh dengan jarak waktu tak lebih dari 30 menit... Kalau tidak, mereka akan diberi ceramah sore oleh Oma Farida nanti. Ceramah indah menjelang waktu Magrib yang sarat dengan petatah dan petitih....

__ADS_1


__ADS_2