Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 27. Pertemuan yang Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Selama proses pembuatan iklan itu, pihak dari Pandu dan Pak Jhon Sagara beberapa kali bertemu. Pandu hanya melihat pria itu didampingi sekretaris yang sudah berusia matang, cantik dan sangat efisien. Ibu Rully Prasetya.


Tampaknya Pandu juga agak gengsi untuk menanyakan keberadaan keponakan cantik rekan bisnisnya itu. Apa kata dunia nanti?


Tampaknya segala hal berjalan dengan baik. Si Om lebih banyak mengalah ketika si istri sangat antusias dan menyukai model cantik yang mereka gunakan dalam syuting iklan tersebut. Gadis itu masih muda, berwajah Indonesia yang lebih natural dan sangat mudah beradaptasi dengan berbagai skrip dan pengambilan gambar dalam tiga hari berturut-turut.


" Puas , Nyonya?" bisik Jhon, sambil memeluk pinggang istrinya. Mata Ismaya berbinar antara haru dan bahagia. Pandu memang sangat mampu membuat iklan itu seperti yang dia impikan. Sepenggal cerita dan pesan yang sangat nyata.


" Harusnya Jenna yang jadi bintang iklan itu... " Bisik sang suami.


Kesal, dicubitnya lengan si suami agak kuat. " Kamu mau, Pah. Mau Diamuk Mbak Arunika atau dijegal Pak Adrian Damas? Sejak peristiwa Karolina saja, pria tua itu melarang keras cucu-cucu perempuannya berhubungan lagi dengan dunia entertainment!"


" Yah, sorry. Aku minta maaf!"


" Begini, ini! Yang membuat orang emosi. Kamu itu Omnya, adik kandung Ibunya! Malah kurang peka dengan situasi dan kondisi di sekelilingmu..."


" Jangan aneh-aneh, deh. Ma!" kata Pak Jhon Sagara memulai protesnya dengan si Istri.


" Sepertinya, dulu juga Karolina terjebak dengan bujukan temannya sehingga harus berhubungan dengan aktor play boy itu. Pria itu mencari cara menaikkan popularitasnya lagi, yang semakin redup karena latar belakang hidupnya yang berantakan. Berpacaran dengan Karolina cukup membuat wartawan kembali memburu kehidupannya"


" Kalau tidak salah itu, atas anjuran dengan Felicia. Malah gadis itu bertunangan dengan seseorang. Sepertinya tunangan itu Pak Pandu yang ini, deh!"


" Sudahlah, Mama! Ini lagi di tempat kerja. Stop ghibah, gosip atau hoax!"


" Papa orangnya nggak asyik, ah!" Keluh wanita cantik itu. Namun saat akan berpindah segera dilarang pergi oleh Pak Jhon Sagara. Daripada dia menganggu Ibu Rully yang cukup sibuk mengurus berbagai surat- surat di depan kantor sana. Atau justru mewawancarai Pandu yang masih sibuk berkoordinasi dengan sang sutrada di tempat pengambilan gambar tadi.

__ADS_1


" Jenna?" Ucapan Ibu Ismaya itu juga didengar beberapa orang yang berdiri tak jauh dari wanita itu. Termasuk Pak Pandu.


" Hay, semua... Maaf! Saya ada perlu dengan Pak Jhon Sagara." Ucap Jenna pelan. Takut menganggu kegiatan shooting yang tampak sangat serius walaupun sedang break sebentar.


Mata Jenna menatap sekeliling studi pengambilan gambar yang sangat besar itu. Sampai wajahnya berseri - seru melihat sosok Om Jhon yang sedang mojok di dekat pintu ruangan dalam. Bersama Istrinya, Tante Ismaya.


" Om Jhon!"


" Hey, ada apa cantikku?"


"Ih, nggak profesional banget memanggil Jenna seperti itu!" ujar Jenna mencebik. Si Tante malah tersenyum geli.


" Ya, sudah. Mana berkas yang harus ditandatangani? Ini!"


Lelaki itu membuka tiga buah bundelan berkas dari Jenna. Sebenarnya, pria itu hanya ingin memantau sebentar proses pembuatan iklan ini sebentar saja. Namun si istri malah sangat ingin melihat proses itu secara keseluruhan dari awal sampai akhir.


" Besok sore saja, Om. Laporan yang dari Tangerang belum masuk!"


" Kalau mau kembali ke kantor, ajak Bu Rully. Mungkin Om sampai malam baru selesai. Si Tante mau melihat seluruh hasilnya!"


" Ayok, Bu Rully!"


Wanita yang dipanggil Bu Rully juga segera beranjak. Dia juga tidak nyaman di ruangan seperti ini. Ruangan sebesar ini tetap saja ramai, penuh orang dan sumpek.


Padahal dia berpakaian ala wanita kantoran yang rapi dengan blazer, bercelana panjang dan high heels. Malah berada di studio yang panas, penuh orang dan banyaknya peralatan pengambilan gambar yang harus bersambung dengan puluhan kabel juga arus listrik.

__ADS_1


" Sudah makan, Bu Rully?"


" Sudah, Mbak. Waduh di sana lebih mirip pasar kaget. Jangan lagi - lagi ah, mengerjakan surat-surat dengan situasi darurat seperti mau berangkat perang. Nggak konsentrasi." Bisik Wanita yang semakin cantik karena berdandan apik di usianya yang semakin matang dan penuh pengalaman.


" Memang semua surat perjanjian itu, di ubah lagi, Bu?"


" Nggak tahu itu! Pak Pandu itu lebih mirip aktor daripada seorang pemimpin perusahaan. Mood dia berubah terus seperti ramalan cuaca."


Tawa Jenna dan Bu Rully berderai , memenuhi mobil yang sedang dikendarai Jenna menuju Kelapa Gading.


" Makanya, Bu. Aku dulu jengkel banget ketika memulai pertemuan dengan lelaki itu. Awalnya dengan Pak Jordy oke- oke aja. Pas, dipegang si pemiliknya, semua urusan jadi berantakan. Mirip perempuan PMS. Kalau nggak jaga perasaan Tante Ismaya, kita sudah cari perusahaan iklan yang lain pun bisa!"


Pantas, Jenna benar- benar tak mau bersinggungan dengan pria itu lagi. Malah cara bersikapnya , justru membuat kedua petinggi di perusahaan Samadi Itu kelimpungan. Salah sendiri, mengabaikan Jenna. Padahal Jenna sudah menyusun semua draf perjanjian kerjasama itu secara detail.


Kantor di Kelapa Gading, semakin sepi. Sejak diberlakukannya WFH. Namun hanya beberapa pegawai masih hadir, karena berurusan dengan kelangsungan hidup perusahaan dan para pekerjanya.


Di ruangan itu, Jenna masih Ditemani seorang staf, mengetik dan memeriksa berbagai laporan. Jenna duduk dan menyalakan laptop, juga menghubungkan kabelnya ke steker listriknya.


Hampir dua jam lebih, barulah dia menyelesaikan laporan itu. Berarti para pegawai akan dapat menerima gajinya besok siang. Ada senyum lega di bibir Jenna. Tanggung jawab seperti inilah yang menjadi tugas utamanya sekarang. Setelah menumpuk beberapa amplop lamaran kerja.


Kantor sudah sepi, saat Jenna menapaki lapangan parkir. Biasanya Ibu Rully dijemput suaminya yang bekerja di Pulo Gadung atau naik Busway ke arah Pancoran, Jakarta Selatan.


Honda jazz merah itu mulai memasuki tol dalam kota ke arah Cawang. Jenna menikmati langit sore yang memerah di ufuk barat. Suatu pemandangan yang langka. Sebab biasanya Jenna akan sangat bosan, kesal dan jengkel karena terjebak dengan arus kesibukan lalu lintas Jakarta, menjelang jam pulang kantor.


Kendaraan mulai keluar tol dalam kota, menuju arah Kalibata. Karena jalan lebih sempit dan memadat menjelang lampu merah di beberapa simpangan dan pertigaan. Jenna mulai melepas earphone yang tadi dipasangnya.

__ADS_1


Sore semakin membayang. Langit mulai mengelap ketika beberapa lampu jalan menyala terang. Satu atau dua jam, harus dinikmati Jenna setiap pagi dan sore hari, selama lima hari kerja. Namun dia tak yakin dapat izin orang tuanya untuk bergabung di perusahaan Tedi di Bali.


Dia benar benar -benar butuh suasana baru. Tekanan hidup di Jakarta lebih menjadi beban berat baginya. Semenjak Karolina menikah, dia kehilangan sahabat, kakak dan teman ngobrol yang kadang alurnya tidak jelas.


__ADS_2