Jodoh Untuk Jenna

Jodoh Untuk Jenna
Bab 45. Sedikit Janji


__ADS_3

Selama acara makan di teras depan restoran itu mereka semua terdiam. Hanya sesekali terdengar suara lembut Jenna menawarkan ini dan itu kepada Netta. Gadis kecil itu sangat manis dan lucu. Netta selalu bersikap sangat sopan. Sebab itulah gadis kecil itu menjadi anak kesayangan Dokter Arunika dan Jenna.


" Mau lagi kentangnya? " tawar Jenna.


" Sudah, Mbak Jenna. Terimakasih." Ucap Netta manis.


" Nanti kita pulang agak sore, ya? Kita antar belanjaan ke apartemen Bang Tedi... Baru kita cari alat tulis di toko Buku Adelia!"


Cepat sekali Jenna menghabiskan menu paket burger berukuran besar dan segelas besar Coca cola bercampur es batu ... Dia juga membantu Netta membersihkan sisa nasi di mulutnya. Sebelum mereka pamit pergi untuk ke apartemen Bang Tedi di kawasan Sudirman.


Mata Pras hanya mengawasi saja setiap pergerakan Jenna. Sebab dia takut akan membuat Jenna tersulut kembali emosinya. Dia takut juga kena tendang gadis itu yang tak segan- segan mengeluarkan jurus mautnya, apabila meras terdesak.


Aneh sih, menurut lelaki yang mendapat bergelar play boy cap Pantai Kuta itu. Di mana - mana perempuan itu senangnya dipuji, dirayu kalau perlu ditipu - tipu sedikit. Bukannya ditendang dengan kekuatan si pendekar. Sampai dia ambruk tak berdaya. Sakitnya sih, nggak seberapa saat tubuh besarnya tergeletak tak bergerak di tanah rumput taman yang sedikit agak kotor. Tetapi, malunya ... itu.


Awalnya semua orang berusaha menolong Pras. Apalagi mata kakinya sedikit membengkak karena terkilir, sehingga jalannya terpincang-pincang... Setelah tahu kalau dia yang mencari perkara terlebih dahulu kepada Jenna. Rasa simpati mereka berubah menjadi geli. Lama- lama ada cibiran dari kakak perempuan. Kak Judith. Istri Kak Zaki yang juga sudah bosan mendengar segala kelakuan adiknya yang agak sembrono.


" Syukur! Kapokmu kapan Lur! Biar tuh, Kamu belajar banyak Pras. Nggak semua perempuan itu mau digodain sama kamu. Dasar ya, kalau sudah mata keranjang. Mungkin kambing betina kalau di beri bedak pun, akan kamu taksir!"


Suara tawa keras Tedi Darmawan itu juga yang membuat Pras tersenyum masam. Sumpah serapah Kakaknya itu kemarin saja sudah menjatuhkan mentalnya.


" Turun, level. Lho, Bro! Ha, ha!" Kembali terdengar tawa Tedi meledek sahabatnya yang satu ini. Pras ini memang tiada duanya. Hampir tiap wanita cantik digoda dan ditaklukkannya.


Sebenarnya bukan dia saja yang mendidik Jenna dengan latihan ilmu bela diri. Juga si Opa. Sebab tak selamanya mereka akan selalu dapat menjaga keselamatan para cucu perempuan kesayangan si Opa Damash. Buktinya, Karolina hampir saja terjebak dengan rayuan aktor konyol itu. Walaupun katanya hanya settingan sekedar untuk menaikkan pamor namanya yang mulai meredup di dunia hiburan dan layar lebar di tanah air. Tetapi tetap saja nama baik keluarga Damash yang harus dipertaruhkan. Apalagi hanya untuk kepentingan pribadi si lelaki pecundang itu, yang akan mempermalukan seluruh anggota keluarga Damash.


" Ganggu Jenna aja lagi! Aku nggak keberatan, Kok. Biar kamu jadi kawan latih tandingnya . Mungkin nanti kamu bisa ambil jurus , Langkah Seribu. Ha, ha ha!"

__ADS_1


Kesal, Pras malah melempar wajah puas Tedy yang berhasil membuatnya tak berdaya. Potongan tulang ayam itu mengenai dahi Tedi agak keras.


" Oh, mau Coba ketupat Bengkulu milikku ini rupanya ? " tantang Tedi kesal.


" Jangan, Bro! Sorry ... Aku bakalan jadi ayam geprek ini. Jenna aja belum bisa ditaklukan, apalagi ini abangnya... "


" Ya. udah! Nanti kamu traktir makan ramen. ya?" ujar Tedi dengan senyum jahatnya saat memberitahu tempat mereka makan nanti.


Seketika Pras wajahnya makin layu, setelah kakak Jenna itu menyebutkan sebuah nama restoran Jepang yang cukup terkenal di Jakarta ini. Karena harga makanannya yang cukup mahal untuk setiap porsinya. Sebab semua hidangan di sana sangat enak, fresh dan diimpor langsung dari negara asalnya. Sesuai dengan mottonya, ' ada harga ada rasa!"


***


Apartemen dengan satu kamar tidur milik Kak Tedy itu terletak di kawasan Sudirman. Tepatnya ada di lantai 12 di salah satu gedung khusus untuk hunian, dari Kompleks apartemen itu yang terdiri dari beberapa tower. Mungkin tempat seperti ini cocok untuk seorang Tedi Darmawan, sebagai hunian untuk seorang lelaki bujangan.


Jadi ukurannya apartemen tidak terlalu begitu besar. Namun semua ruangan di sana ditata dengan apik dan nyaman. Apalagi gedung dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat eksklusif mulai dari kolam renang, gym, ruang karaoke, ruang pertemuan juga taman yang hijau dan nyaman.


Salah sendiri, kalau dia memilih tinggal di tempat seperti ini hanya untuk menghindari kemacetan di jalan raya. Kalau ujung-ujungnya, si kakak juga yang memerlukan uluran tangannya untuk membantunya.


Netta berhasil mencari baju renangnya yang ada di tumpukan laci di dekat rak TV. Hampir sebulan sekali Jenna membawa Netta berenang di kolam renang yang menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan oleh penghuni di apartemen ini


Handuk kecil, pakaian ganti dan sandal jepit sudah dibawa Netta ke loby apartemen. Untuk kolam ke dalam tas kainnya. Kolam untuk anak- anak , tempatnya ada di sisi kanan gedung pintu Utara.


" Dua jam, dari sekarang! Mbak Jenna tunggu di luar kolam renang, dan nggak boleh telat!" Ucap Jenna tegas


" Siap, Mbak!" Jawab Netta cepat.

__ADS_1


Jenna mulai mengumpulkan beberapa pakaian kotor Kakaknya ke tas kantong plastik besar. Semua barang belanjaan sudah dirapikan dan dimasukan ke dalam kulkas.


Dia tahu, Kakaknya yang satu ini sangat tidak suka barang pribadinya disentuh oleh orang asing. Jadi kalau sudah cocok dengan seorang ART akan terus dipertahankannya.


Seharusnya Si Abangnya Jenna ini sudah menikah dua tahun lalu. Sayangnya, hubungan kakak dan pacarnya itu malah bubar di tengah jalan.


Biasanya acara putus sambung Bang Tedi dan Kak Amara itu paling lama sebulan. Lalu kembali berbaikan dan putus lagi. Sayangnya, Kakaknya ini keburu kecewa. Setelah melihat Amara semakin sering jalan dengan sang manajernya. Pria yang menjadi pimpinan Kak Amara di tempat dia bekerja di sebuah bank swasta.


Saat itu Kakaknya itu malah menerima tawaran ayahnya, untuk memegang salah satu anak perusahaan yang ada di Surabaya.


Setelah tahu kakaknya itu tidak ada lagi di Jakarta. Kak Amara baru mencarinya setelah mereka putus lebih dari 4 bulan. Sang kakak malah semakin fokus dengan mengembangkan perusahaan sejenis di Denpasar. Sambil melupakan sosok Amara, yang menurutnya tidak setia itu.


Di sudut ruang tunggu kolam renang tampak Netta duduk sendirian di sana. Jenna sering menitipkan anak itu pada petugas jaga yang ada di kolam renang sana. Mereka cukup senang menerima tugas itu. Apalagi banyak anak- anak berenang di sana bersama orang tua atau pengasuhnya.


" Sudah siap?"


Netta tersenyum senang. Dia sudah merapikan semua bawaannya. Baju renang sudah dimasukan ke dalam tas kresek. Agar tidak membasahi jok di dalam mobil Kak Jenna.


Sejak adanya covid, beberapa kolam renang untuk umum yang jaraknya paling dekat dengan rumah mereka ditutup. Tempat bermain anak pun dilarang beroperasi lagi. Sehingga banyak anak anak menghabiskan waktunya di rumah. Padahal mereka pun belajar sudah online.


" Mbak Jenna, langsung pulang saja, ya! Tadi si Abang temannya Mas Tedi sudah kasih uang untuk Netta. Biar bapak saja yang besok antar Netta beli. Katanya Mbak Jenna banyak kerjaan..."


Mobil yang dikendarainya Jenna mulai menembus jalan raya ke arah Selatan kota Jakarta. Pemandangan Jakarta menjelang sore tampak meriah. Langit memerah di barat, membuat gedung - gedung tinggi itu berdiri sangat angkuh.


Padatnya arus lalu lintas di setiap perempatan lampu merah, suara klakson, juga hiruk pikuknya para orang-orang yang baru pulang kerja memenuhi pinggir jalan.

__ADS_1


Pintu gerbang menuju garasi sudah di buka oleh Pak Bejo. Dia sedang mencuci mobil Alphard yang sehari-hari digunakan Pak Feri untuk aktivitas bekerja.


Netta berlari- lari menuju paviliun di belakang rumah utama. Gadis itu tinggal di sana dengan kedua orang tuanya, kakak laki-lakinya dan seorang nenek yang menjadi orang kepercayaan Ibu Arunika untuk mengatur semua pekerja di rumah utama ini.


__ADS_2