Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Ciuman Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Semua orang sangat terpukul atas kepergian bayi mungil yang seharusnya belum saatnya untuk melihat dunia.


Keira berharap kepergian bayi nya hanya sebuah mimpi.


Namun naas nya, ini adalah sebuah kenyataan pahit yang dirasakan oleh setiap ibu yang kehilangan buah hati tercinta nya.


Keira telah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Dia hanya terdiam menatap kosong langit langit rumah sakit.


"Andai aku bisa melindungimu". Itu saja kalimat yang keluar dari bibir manis keira.


Para orang tua sangat sedih melihat keira seperti ini.


Dokter menyarankan agar keira di dampingi terus dan kalau bisa bawa ke psikiater.


"Nak, maafkan anak mama yaa sayang. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri". ucap mama jeni.


"Maaf yaa jeng, setelah ini saya akan mengurus sendiri perceraian keira dan anak jeng yang sekarang entah dimana tidak ada tanggung jawabnya sama sekali". mama siska sangat geram terhadap andik bukan dengan mama jeni.


"Maafkan yansyah juga tante tidak bisa menjaga keira dengan baik". yansyah sangat merasa bersalah karena tidak bisa melindungi keira dari andik.


"Sudahlah mah, ini semua sudah takdir dari yang Kuasa. Kita tidak boleh menyalahkan satu sama lain. Yang harus kita pikirkan bagaimana cara nya agar keira bangkit dari keterpurukannya. Kita orang tua nya lah yang dia butuhkan saat ini mah. Maafkan juga istri saya yaa bu jeni. Kita doakan agar keira cepat pulih".


"Iyaa pak, sekali lagi maafkan kami yaaa. Saya benar benar menyesal atas perbuatan anak saya". Ucap mama jeni.


Semua orang menunggu keira di kamar rawat.

__ADS_1


Mama jeni pun masih berada di sana menunggu keira yang terbaring lemah dengan pandangan kosong nya.


Sementara Yansyah dan papa Anton juga papa agung mengurus pemakaman bayi mungil yang keira beri nama Sakha. Bayi laki-lakinya yang belum sempat ia gendong namun harus meninggalkan sang bunda untuk selamanya.


"Ma, aku mau lihat sakha untuk terakhir kalinya. Keira mohon ma". Keira merengek untuk ikut pemakaman putra nya.


"Jahitan kamu ?".


"Aku kuat ma. Please!". Dengan terpaksa mama siska mengizinkan keira menyusul ke pemakaman bayi nya. Sebelumnya mama telah minta izin pada dokter agar infus di tangan keira di cabut dulu.


Tak lama mereka berangkat menyusul Yansyah dan lainnya ke taman pemakan umum dekat rumah orang tua keira.


Keira di dorong dengan kursi rodanya oleh mama siska dan jeni.


Air mata keira tak tertahankan.


Pemakaman yang baru saja mau di mulai, harus tertunda sesaat.


"Aku ingin mencium bayiku sebentar saja pa".


Papa pun mengangguk.


"Sini sayang sama bunda sebentar yaa, sshh shh sayang".


Semua orang merasa pilu yang teramat dalam melihat tingkah keira yang menggendong bayi nya yang sudah tak bernyawa lagi.


"Maafkan bunda sekali lagi yaa sayang. Tunggu bunda di sana, bunda akan susul kamu nanti. Kamu harus tau, bunda sangat sayang sama kamu. Selamat jalan jagoan kecil bunda. Assalamualaikum". Setelah mengatakan itu, keira menghapus air matanya, lalu mencium kedua pipi anaknya. Lalu ia serahkan lagi pada papa nya untuk segera di masukan ke liang lahat.

__ADS_1


Sepanjang pemakaman keira hanya diam dan berdoa sambil terus menetes kan air matanya.


Ia tak menyangka bahwa putra nya yang ia nantikan telah pergi meninggalkan nya.


"Ikhlaskan nak. Semoga kamu bahagia setelah kejadian menyakitkan ini". ucap mama seraya memeluk keira menyalurkan kekuatan untuk keira yang sedang berduka.


Yansyah turun untuk menggendong dan mengadzankan bayi kecil itu.


Sedangkan di lain tempat andik yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatannya kini sedang bersembunyi dan menangisi kebodohannya yang mencelakai istri beserta anaknya.


Andik pun sudah mengetahui jika anaknya tak berhasil di selamatkan.


Ratusan pesan dan panggilan tak terjawab di ponsel andik satupun tidak ada yang ia balas.


Ia hanya membaca lewat notifikasi pesan masuk tanpa membuka nya.


Andik seperti orang kesurupan membuang apa saja yang ada di dekatnya.


Ia sekarang berada di apartemen bersama denisa.


Denisa bingung melihat andik terpuruk begini.


"Sudahlah sayang, masih ada anakmu di dalam sini. Jangan kamu pedulikan keira lagi. Aku mencintaimu". denisa berusaha membujuk Andik yang mengamuk itu.


"Hah ,, apa? Aku sudah membunuh bayiku sendiri sa. Aku ayah yang jahat".


"Tenang saja sayang. Masih ada anakmu yang lain, kamu jangan risau".

__ADS_1


"Anakku? belum tentu itu benar anakku". ucap andik sinis.


"Apa kamu bilang andik??? keterlaluan kamu ngomong begitu!!". pekik denisa.


__ADS_2