
Keira terus menyeret tangan Andik dengan kasar.
Keira mendorong dan memaksa Andik masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil dengan cepat.
Andik diam saja di seret paksa oleh Keira.
"Yan, itu kita susul Keira ayo. Takut mereka ribut. Mereka pasti ke pemakaman". ujar mama Siska.
Mereka semua bergegas menyusul Keira. Mereka membuntuti mobil yang keira bawa. Cukup kencang laju mobil Keira.
Karena mama Siska sudah mengetahui Kana Keira membawa Andik, maka mereka tak terlalu bingung ketika tertinggal agak jauh.
Pemakaman bayi Keira dengan kediaman orang tua Keira tidak terlalu jauh. Maka hanya butuh waktu sebentar untuk sampai di sana.
Mobil Keira lebih dulu terparkir.
Semuanya turun dengan terburu buru.
Bukan apa apa, mereka semua mendengar teriakan dan makian Keira terhadap Andik tepat di samping nisan almarhum bayi mereka.
"Kenapa kamu bawa aku kemari Keira? aku hanya ingin melihat anak ku saja masa tidak boleh!!".
"Dasar bodoh!! Kamu mau lihat anakmu kan? Kau tengok nisan itu, siapa nama ayah nya? tengok cepat Andik !!". Keira sangat emosional dengan Andik. Dia mendorong tubuh Andik mendekat dengan nisan makam dengan tanah yang masih sangat basah tersebut.
Andik terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia baca di batu nisan tersebut.
__ADS_1
Batu nisan tersebut bertuliskan AL SAKHA KAUTSAR BIN SANDIKA GUMILAR.
Sseerrrr....
Rasanya aliran darah Andik mengalir begitu cepat melihat tulisan di batu nisan tersebut.
Ada namanya di belakang nama sang jenazah, yang menandakan bahwa yang di dalam kubur itu adalah anaknya. Anak yang belum sempat ia lihat rupa nya. Bahkan Andik lah penyebab dari pergi nya bayi mungil itu untuk selama lamanya.
"Bisa baca kan tuan Andik yang terhormat? terjawab sudah bukan pertanyaan anda yang mencari keberadaan anak yang kau bunuh? Ya ,, Kau seorang pembunuh Andik. Selamanya aku akan membenci anda. Ingat,, Selamanya!!". Setelah mengatakan semua kekesalannya, Keira ingin segera meninggalkan Andik disana.
Baru beberapa langkah, Andik mencekal tangan nya agar Keira tak pergi lagi.
"Aku mohon ampuni kesalahan ku kei. Aku sungguh menyesal. maafkan lah aku Keira". Andik bersujud di kaki Keira dan berharap agar Keira dapat memaafkan nya.
Seketika Keira menendang andik hingga tersungkur.
"Ku mohon kei kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semua nya".
"Tidak ada kesempatan lagi untuk manusia tega macam kamu. Jalani saja kehidupan kita masing-masing. Toh kamu juga akan dapat anak lagi dari perempuan itu".
"nggak kei. Dia bukan anak ku. Sakha maafkan ayah nak. Maafkan ayah". Andik memeluk tanah merah yang masih basah hingga seluruh badan nya kotor.
"Bersujud lah pada Tuhan. Mohon ampun lah pada Nya. Semua sudah terjadi, dan aku gak bisa kembali sama kamu. Sudah cukup! Kamu juga harus bertanggung jawab terhadap denisa.
"Tidak kei. Aku ingin kembali sama kamu. Anak itu bukan anakku".
__ADS_1
"Jangan jadi pengecut seperti ini Andik. Sudah cukup kamu berdosa pada Sakha. Jangan sampai kamu di benci anakmu sendiri! Pergi lah dan urus denisa berserta anak kalian. Aku sudah menggugat cerai kamu. Aku sudah lelah".
"Please kei".
"Please Andik. Aku lelah". Setelah mengatakan semua nya, Keira pergi meninggalkan Andik yang masih memeluk batu nisan anaknya dengan baju yang kotor.
"Bagaimana sayang?". tanya mama Siska dan lainnya yang hanya melihat Keira dan Andik dari pintu masuk.
"Sudah selesai ma, aku lelah. Yuk kita pulang dan istirahat".
Mama Siska dan Keira kembali ke rumah.
Sedangkan mama jeni menghampiri putranya yang kini terlihat kacau dan malang.
"Nak, sudahlah. Kita pulang yuk. Kamu harus mandi".
"Aku ayah yang kejam ya ma". ucap Andik dengan lirih. Dia benar benar menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
Memang penyesalan pasti datang terakhir.
"Sudah sudah ayo kita pulang. Yan, bantu adikmu bangun".
"Yok bro. Jangan jadi lelaki cengeng. Bertaubat lah sebelum semuanya terlambat. Dah yuk pulang, Lo kotor banget, bau. Sakha sudah tenang di sisi Tuhan. Dia juga pasti sudah memaafkan ayahnya kok, pasti".
"Terima kasih bro".
__ADS_1
"Sama sama".