
Hai semuaaa
maaf yaa kalau ada yang komen cerita ini bertele tele, karena memang begitu alur nya yang sudah aku buat.
Dan lagi novel ini tengah mengikuti lomba, jadi tidak bisa tamat dalam waktu cepat.
Semoga kalian tetap terhibur yaaaa
Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu novel ini.
Semoga sehat terus kalian yaaa....
.
.
.
.
"Kamu kenapa kei? Yaudah, kita sholat aja dulu yaa". Bisik yansyah, karena orang tua mereka sudah selesai wudhu dan segera melaksanakan sholat.
Andik juga datang.
Mereka sholat dengan khusyuk sekali.
Saat papa mertua nya melantunkan ayat-ayat Allah, tanpa terasa air mata membasahi pipi keira.
Hati nya sangat tersayat rasanya mengetahui fakta kalau suaminya itu bermain api dengan temannya. Ah bukan teman ! Benalu. Yaa kata itu yang pantas di sematkan untuk teman yang menikam kita dari belakang, bahkan setelah banyak kebaikan yang kita berikan kepadanya. Namun keira tidak mau mengungkit kebaikan yang dia berikan. Nanti akan gugur pahala nya jika kita mengungkit kebaikan.
"Assalamualaikum warahmatullah". Sholat pun selesai. Mereka berdzikir dan berdoa sejenak untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat kelak.
"Loh kei sayang, kamu kenapa nangis?" Tanya mama jeni.
"Gak apa apa ma, terharu aja sama bacaan sholat papa. Merdu di dengar". Jawab keira berusaha senyum.
__ADS_1
"Duuhh keira bisa aja kamu deh,, papa jadi ge er nih hehe". Timpal papa agung.
"Iyaa pa beneran kok suara papa kayak hafiz hafiz yang di tivi itu loh". Keira mulai ceria lagi karena papa nya melucu.
Terkadang sebagai wanita yang menangis bukan karena dia lemah atau cengeng. Tetapi itu sebagai bentuk ekspresi suasana hati yang bahagia ataupun sedih.
Sesekali wanita boleh menangis agar kedepannya bisa lebih kuat.
Air mata bukanlah lambang kalau kita menjadi makhluk lemah yang cengeng. Justru sehabis menangis kita bisa membuang sedikit beban yang menimpa kita dan berubah menjadi energi yang kuat untuk menghadapi kenyataan hidup yang tak selamanya manis.
Andik menatap keira dengan sendu. Tentu dia tau penyebab keira menangis bukan karena terharu. Melainkan karena dia sendiri.
'Pasti keira sudah baca pesan itu'. Batin andik.
Yansyah yang melihat adiknya melamun berasumsi, mereka .
pasti sedang tidak baik baik saja.
Apalagi tadi yansyah bertanya dimana andik, keira hanya diam saja dengan pandangan sendu nya.
Bibik sudah memasak untuk makan malam orang rumah.
Semua duduk memenuhi meja makan itu.
Mama mulai lebih dulu mengambilkan makanan untuk suaminya.
Yansyah juga mengambil makanan nya sendiri.
Sedangkan keira hanya menatap makanan itu. Dia benar benar tidak selera makan.
"Sayang, kok diem aja. Ayo makan. Aku ambilkan yaa". Ucap andik.
Keira hanya menggelengkan kepalanya.
"Sayang, kamu harus makan. Jangan sampai kosong perut mu. Ingat bayi mu di dalam sana juga lapar sayang. Dia butuh nutrisi. Di usahakan makan yaa walau sedikit". Ucap mama sambil memegang tangan menantu nya itu.
__ADS_1
Keira mengangguk pelan.
Andik menyendokkan makanan ke piring keira dan mulai menyuapi nya.
"Ayo buka mulutnya sayang. Aak". Keira pun menurut saja, meski terasa hambar di mulutnya. Dia juga ingat bahwa janinnya butuh asupan makanan. Dia tidak mau menjadi ibu yang egois hanya karena memikirkan suaminya yang berkhianat.
"Sudah cukup". Ujar keira datar.
"Loh, baru sedikit sayang. Lagi yaa sedikit lagi aja". Ucap andik.
"Gak mau. Aku mual". Benar saja baru bilang mual, keira langsung berlari ke wastafel untuk mengeluarkan semua yang masuk barusan.
"Hooeekkk". Andik menyusul istri nya yang muntah muntah itu.
Yang lain lanjut makan. Tidak ada perasaan jijik mendengar keira muntah saat makan. Karena mama jeni juga dulu merasakan apa yang sekarang keira rasakan.
Memang dahsyat rasanya jika ibu sedang hamil muda.
"Mama buatkan teh hangat yaa". Mama jeni selesai makan dan membuat teh hangat agar mual nya reda.
Keira mengangguk lemah tanda setuju.
"Ayo sayang, duduk lagi yaa pelan pelan". Andik dengan telaten memapah istri nya ke kursi tadi.
Namun keira menepis tangan andik yang hendak membantu nya berjalan.
Kejadian itu di saksikan yansyah yang masih berada di meja makan.
Dahi nya pun mengerut.
'Mereka ada apa yaa?'. Batin yansyah.
Setelah itu keira balik ke kamar diikuti oleh andik.
Di dalam kamar keira masih saja diam.
__ADS_1
"Yang. Kamu kenapa diam aja? Apa ada yang sakit?"