
Setelah kematian Denisa yang sangat tragis, Andik benar benar mengurung diri di dalam rumah.
Urusan kantor nya terbengkalai. Oleh sebab itu Yansyah kini juga harus repot mengurus pekerjaan Andik.
Yansyah amat prihatin melihat adiknya kini semakin kurus. Berubah 180 derajat.
"Ma, apa sebaiknya Andik kita bawa berobat?". tanya Yansyah ke sang mama.
"Berobat gimana maksudnya?".
"Kita bawa ke psikiater ma. Semakin hari semakin prihatin keadaan nya ma".
"Adikmu tidak gila Yansyah!!". Ucap mama.
"Bukan begitu maksud ku ma. Yang aku maksud kita bawa konsultasi lebih dulu. Apa mama tidak kasihan lihat kondisi Andik? Dia sangat terpuruk. Kita butuh ahli psikologi untuk bantu Andik bangkit kembali ".
"Hmmm. Baiklah mama setuju yan. Mama juga prihatin lihat adikmu menjadi seperti itu. Entah apa dosa nya sampai berbuat kesalahan fatal seperti itu. Sungguh malang nasibnya". Akhirnya mama jeni pun setuju agar Andik di bawa kepada ahlinya.
Jiwa nya cukup terguncang atas kejadian yang ia alami. Melihat kematian sang istri secara langsung dengan kondisi tragis membuat jiwa nya tak sanggup hidup normal kembali.
Setelah pemakaman Denisa, Andik hanya diam saja.
Ketika di tanya atau di ajak berbicara, Andik hanya bergeming. Mulutnya tak sanggup berkata kata lagi.
Andik tak lagi bersuara. Tak ada lagi percakapan hanya dan canda tawa.
__ADS_1
Mama menyetujui saran dari Yansyah untuk membawa Andik konsultasi ke psikiater.
Karena mama jeni sangat prihatin pada putra bungsu nya yang dulu gagah, ceria, dan berwibawa. Kini, semua itu lenyap begitu saja.
Yansyah menghampiri adiknya dikamar.
Awalnya Andik terus menggelengkan kepala tanpa sepatah kata apapun.
"Ayolah dek. Lo gak kasihan sama mama? atau lo gak kasihan lihat diri lo sendiri? Semua sudah terjadi biarlah jadi pelajaran hidup yang amat berharga. Supaya di kemudian hari kita jangan melakukan hal yang serupa. Ayolah dek bangkit. Denisa pasti sedih lihat lo begini. Mau yaaa?". Yansyah terus membujuk Andik agar mau diajak berobat.
Andik segera membersihkan diri.
Yansyah menunggu di sofa kamar Andik.
"Yan, gue mau pake baju. Jangan di situ".
Yansyah melongo mendengar kalimat yang keluar dari mulut adiknya.
Tanpa menjawab, Yansyah segera keluar dari kamar.
Antara bahagia dan terkejut mendengar adiknya yang dari kemarin kemarin hanya bungkam tanpa suara, kini kembali berbicara.
Yansyah langsung buru buru menghampiri mama jeni lalu menceritakan apa yang barusan ia dengar.
"Ma, mama".
__ADS_1
"Apa sih kamu berisik tau yan".
"Barusan Andik sudah mulai mau berbicara lagi ma. Aku sampai kaget dengarnya".
"Serius kamu? Alhamdulillah ada perubahan walaupun sedikit. Mama jadi semangat".
Tak lama kemudian, Andik pun turun dari kamarnya dan menghampiri mama serta kakaknya.
"Sudah lebih segar nak?" tanya mama jeni yang melihat Andik lebih fresh karena habis mandi dan mencukur rambut rambut yang sudah menghiasi wajah tampannya.
Lagi lagi Andik menjawab dengan anggukan kepala saja.
Mama jeni tampak menghela nafas nya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Kita makan di jalan saja nanti yaa karena dokter nya sudah menunggu kita". ujar mama.
Selama perjalanan mama jeni terus memandang putra nya yang terdiam kembali sambil menatap keluar jendela.
sesampainya di tempat tujuan, mereka semua turun lalu mendatangi kantin terlebih dahulu karena mereka semua belum sarapan pagi.
Begitu mereka selesai sarapan. Mama menghampiri resepsionis dan mengisi formulir lalu diantar ke ruangan dokter nya.
Mama jeni sangat berharap jika dengan cara ini, putra nya ini bisa segera keluar dari tekanan mentalnya. Bisa melupakan kejadian yang menyakitkan mental putra nya itu.
Harapan mama semoga sang anak segera kembali seperti sedia kala...
__ADS_1