
Dua Minggu setelah acara lamaran, pernikahan akan di laksanakan.
Keira nampak sangat gugup karena Andik benar benar tidak mau menunggu terlalu lama lagi.
Keira hanya tersipu malu kala andik sedang membujuknya agar cepat melaksanakan akad nikah nya.
"Pak, ini beneran mau di majuin akad sama resepsi nya?". tanya keira ke Andik.
"Pak?? duuhh keira sebentar lagi kita nikah masa manggilnya pak. Panggil mas gitu atau sayang juga boleh". goda andik
"Iiihh apa sih kamu, malu tau". keira benar benar di buat malu oleh tingkah andik. Pipi nya merona karena perlakuan manis andik yang sebentar lagi menjadi suami nya.
"lagian kamu manggil calon suami dengan sebutan pak. Biasakan panggil sayang yaaa. Duh keira kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu yaaa. gemesss".
"yaa mana aku tau. Tapi kamu yakin mau nikah sama aku?"
"Aku yakin cinta sama kamu kei. Kamu mau kan mencintai aku sampai nanti?" andik menatap lekat mata keira.
Keira pun mengangguk kemudian berpelukan.
"ehheemmm".
__ADS_1
Suara itu mengejutkan mereka yang tengah bermesraan.
"iihh mama bikin jantungan aja deh". ucap andik
Ternyata itu mama nya andik yang memergoki anak nya bermesraan.
"Belum boleh yaaa peluk peluk anak orang". ucap mama Andik.
"hehehe iyaa mamah, ini aku ngobrol aja kok. Habis ini kita mau keluar makan siang mah". ucap andik
"Mamah mau dibawain sesuatu?" tanya keira.
Keira mulai memanggil mama karena permintaan mama nya andik. Supaya terbiasa nanti jika sudah menikah.
Mama jeni memang orang berada, namun dia sangat sederhana. Tidak seperti sosialita pada umum nya. Wanita itu agak cerewet, mudah bergaul dengan siapapun di sekitar rumah nya, sederhana dan tidak memandang rendah orang susah. Malah sering kali mama jeni berbagi dengan para tetangga nya.
"Mama makan mie ayam yang di pinggir jalan itu?" tanya keira agak terkejut.
"Iyaa kei, emang kenapa? enak kok mie nya kenyal, apalagi bumbu ayam nya itu hhmmmm mantap".
"Aku juga sering makan di sana sama temen kantor mah. Meskipun agak jauh, kita bakal samperin hehehe abis enak banget yaa mah. Oke deh nanti aku mampir ke sana". keira begitu antusias ternyata calon mama mertua nya ini tidak masalah kalau makan di pinggir jalan. The best deh, padahal yang lain gengsi makan di sana. Pasti memilih resto mewah dan mahal. Tapi tidak dengan mama jeni. Idaman deh pokoknya.
__ADS_1
Andik menemani keira makan mie ayam dan membeli pesanan mama jeni.
Waktu mereka sedang makan, ternyata mereka bertemu temannya keira Denisa yang ingin membeli mie ayam juga.
"Hai kei, makan disini ?". tanya denisa yang baru sampai.
"Iyaa nih sa, kepengen mie ayam jadi mampir sini deh sebelum nonton hehehe. Lo beli mie ayam buat siapa? kan jarang makan mie ayam ?" tanya keira
"Ah ini, buat bapak sama ibu nitip mie ayam. Kebetulan pulang kerja sekalian lewat deh. Mas andik makan di sini juga? Keren yaa ceo mau makan di pinggir jalan. Udah kaya, ganteng, sederhana gak gengsian lagi. hehehe". Ucap Denisa membuat keira agak risih.
Andik yang di puji hanya tersenyum saja.
"Biasa aja sa. Gak keren kok". Keira agak berubah mimik wajah nya.
"Keren dong kei, berdoa ah sama tuhan minta yang kaya mas andik. Aku mau juga yang kaya gitu hihihi".
"Yang kaya andik cuma satu, dan itu udah jadi punya aku sa. hehe, oh iya aku duluan yaa keburu sore nanti nonton nya". Keira langsung buru buru menyelesaikan makan nya dan membayar. Tidak lupa pesanan mama jeni juga.
Setelah mereka mengantar pesanan mama jeni, lalu mereka pergi ke bioskop untuk menonton film.
Denisa hanya menatap nanar kepergian mereka....
__ADS_1
'Apaan sih denisa segala bilang begitu. Risih banget denger nya gue'. ucap keira dalam hati, karena agak jengkel dengan ucapan sahabatnya itu.