Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Aku yang Pegang Kendali


__ADS_3

Keira sudah kembali pulang ke rumah nya.


Mama dan papa mertua Keira juga sudah menunggu kepulangan mereka.


Yansyah pun sudah pulang setelah urusan balik nama apartemen selesai.


Sekarang apartemen itu resmi menjadi milik Keira seutuhnya.


"Duduk Andik". titah papa agung dengan dinginnya.


"Hati hati kei duduk nya pelan pelan". ucap mama jeni.


"Papa sudah tau apa yang terjadi tadi siang sama kamu Andik. Papa merasa telah gagal mengajarkan kamu arti sebuah kepercayaan yang harus dijaga sampai akhir hayat kita".


Hening.....


"Sekarang, Keira mau apa nak setelah mengetahui kelakuan suamimu?. Papa harap kamu tidak mengambil keputusan untuk pergi nak". tanya papa agung pada Keira.


"Sebelumnya aku mohon maaf sama mama sama papa yang juga mengetahui masalah rumah tangga ku sama mas Andik. Mungkin sebagai istri dan menantu Keira banyak kekurangan. Untuk itu Keira minta maaf sama mama papa, kak Yansyah dan mas Andik. Entah salah ku apa sehingga suamiku memutuskan untuk berpaling dari Keira padahal kita baru mengawali pernikahan yang masih sangat seumur jagung ". Keira menahan bulir bening yang siap tumpah.


"enggak sayang, kita yang minta maaf sama kamu karena anak mama sudah menyakiti kamu. Mama gak bisa membayangkan jadi kamu gimana, karena kami selama ini selalu mengajarkan kepada anak anak mama kalau kesetiaan itu harus dijunjung tinggi ". ucap mama jeni yang malah sudah menangis lebih dulu karena tidak tega dengan Keira menantu nya.


"Sekarang Keira mau apa nak?" tanya papa agung lagi.


Semua menunggu jawaban Keira dengan harap harap cemas.

__ADS_1


"Kalau di perbolehkan, Keira ingin yang memegang kendali keuangan keluarga kecilku ma, pah. Apa boleh?".


jawaban Keira membuat Andik terkejut bukan main.


"Boleh, tentu sangat boleh sayang".


Belum Andik menjawab, mama jeni sudah lebih dulu menjawab sebelum Andik membuka mulutnya.


"Nanti papa atur yaa kei. Pendapatan tiap bulannya papa akan transfer ke rek kamu. Nanti kamu yang atur saja yaa". Keputusan final pak agung sudah mutlak.


Meskipun Andik yang pegang kendali perusahaan selama ini, tetapi sesekali papa juga ikut memantau. Karena memang itu perusahaan keluarga.


"Tapi pah, aku repot dong kalau gak punya pegangan nanti". Andik membela dirinya


"tenang saja sayang nanti tiap minggunya aku transfer sesuai kebutuhan kamu. Kebutuhan kamu yaa bukan kebutuhan perempuan ular itu".


Semula ia berencana berkunjung ke rumah orang tua nya. Begitu sampai di depan rumah ia mendengar percakapan keira dan lainnya.


"Maura. Kamu nggak tau apa yang jadi masalah nya. Kalau komentar, simak dulu dari awal". Papa memarahi maura, dan Maura jadi memberengut.


"Memang apa masalah nya pah?".


"Adikmu berkhianat dari keira. Sekarang keira sedang mengandung anaknya. Tega sekali andik ini". jelas papa.


"Yaahh paling cuma senang senang aja si andik. Dia gak mungkin serius". ucapan maura benar benar membuat keira naik pitam. Apa apaan dia bilang hanya senang senang.

__ADS_1


"Oohh berarti kalau suami kak maura senang senang juga sama kayak andik gak masalah dong yaa? kan gak serius". jawab keira.


"Yaa gak lah, suami aku tuh setia". maura tak kalah sengit.


"Makanya kalau bicara itu di pikir dulu kak". Setelah mengatakan itu keira bangkit lalu kembali ke kamar nya.


"Maura. Kamu kenapa sih ngomong begitu. Keira tuh lagi sakit hati, lagi hamil pula. Kok bisa bisa nya kamu bilang begitu sih? kamu ini kan sesama perempuan". ujar mama jeni.


"Yaa aku kasihan saja sama andik mah".


"Aneh kamu". mama pun pergi meninggalkan maura.


"Apaan sih ra, malah membela yang salah sih". ujar yansyah yang sedari tadi hanya diam.


"Lo segitu nya banget sama keira. Ada rasa yaa sama istri gue?". ucapan andik membuat yansyah membeku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Selamat membaca semuaaa nyaaaaa....


__ADS_2