
Sesampainya di rumah Keira nampak melamun...
Ia tak menyangka semua akan berakhir seperti ini.
Keira memang masih menyimpan luka yang dalam akibat perbuatan mantan suaminya.
Namun, Keira tak pernah mendoakan keburukan untuk mereka yang sudah menyakiti nya.
Tanpa memaki dan mencaci orang yang sudah menyakiti nya pun tuhan yang tak pernah tidur mendengar hamba nya yang tersakiti dan meminta perlindungan.
Kini, keturunan Gumilar tinggal tiga orang saja, ditambah anak dari Maura.
Yansyah, Maura dan Riko yang sering berkunjung ke rumah kakak nya itu kini hidup dalam kesepian.
Namun mereka saling menguatkan satu sama lain.
Mawar sesekali berkunjung ke rumah yansyah dan membuat masakan untuk mereka.
Setiap Minggu, Yansyah maupun Maura mengunjungi makam Andik serta kedua orang tua nya.
Rasanya masih seperti mimpi saja.
Keluarga yang sebelum nya harmonis, utuh, dan penuh kehangatan. Kini tinggal kenangan saja.
Maura sendiri belum terpikirkan untuk mencari pendamping hidup lagi.
Ia merasa trauma dengan apa yang di alami nya.
Berulang kali Yansyah menasihati kakak nya itu untuk mencari sosok suami. Karena tidak mungkin selama nya Maura bekerja sendirian dan mengurus anak anaknya yang masih kecil.
__ADS_1
Namun, nampaknya Maura benar benar masih ingin sendiri.
Ia merasa bahwa saat ini lebih baik begini dulu.
Ia tak menolak jika ada yang serius ingin menjadi pendamping hidup nya.
Untuk saat ini, dia masih nyaman dengan kehidupan nya sekarang.
Mawar tak mengizinkan Maura menyewa pengasuh.
Dia sendiri yang menawarkan untuk mengasuh kedua anaknya Maura.
Begitu pun dengan Yansyah, dia hanya menasihati kakak nya untuk mencari pendamping hidup. Tapi, dia sendiri justru sibuk dengan pekerjaan dan seolah lupa mencari istri yang akan menemani nya kelak.
Sampai saat dimana dia sedang ada pertemuan dengan klien dan klien meminta meeting di sebuah restoran.
Sesudah meeting dan kedua nya sepakat menjalin kerja sama, seorang wanita cantik dengan appron di badannya berjalan mendekat dengan membawa sebuah kue ulang tahun dengan ukuran yang tidak begitu besar namun tidak juga disebut kecil.
Wanita cantik itu sudah berada di meja Yansyah dan klien nya.
Wanita cantik itu menyalami klien nya Yansyah dan mengecup kedua pipi nya lalu menyerahkan kue ulang tahun dengan lilin kecil di atas nya.
"Selamat ulang tahun papa ku sayang". ucap wanita itu
Yansyah terpaku untuk beberapa saat sampai sadar kalau dia terpesona melihat wanita di depannya itu.
"Kamu ini ingat saja ulang tahun papa. Papa sedang meeting loh ini. Malu di kecup gitu sama kamu". ucap pak Anwar klien dari Yansyah tadi.
"Aku kan anak papa yang paling cantik, jadi harus ingat hari penting papa nya dong".
__ADS_1
"Oh, iya. Pak Yansyah. Kenalkan ini anak saya, Citra. Dia yang mengelola restoran ini". ucap pak Anwar.
Akhirnya Yansyah tersadar dari lamunannya.
"Ah iya pak. Saya Yansyah".
"Citra". Keduanya saling berjabat tangan. Yansyah sampai enggan melepaskan tangannya.
"Ekhem". deheman pak Anwar menyadarkan kedua nya.
"Maaf. Kenapa Citra tidak bekerja di perusahaan pak Anwar saja?". tanya Yansyah pada citra.
"Hhmmm selera kami berbeda pak, eh mas". Citra bingung memanggil Yansyah.
"Mas, boleh juga".
Citra pun tersipu mendengar nya.
"Citra memang suka bisnis pak Yansyah. Tapi dia lebih suka dengan cara nya sendiri. Yaa, saya tidak akan memaksa nya untuk bekerja di perusahaan saya. Yang terpenting dia nyaman dan bahagia saja". pak Anwar mengusap kepala Citra. Pemandangan itu membuat Yansyah teringat papa nya. Mendiang pak Agung. Sosok orang tua yang selalu hangat pada anak anaknya namun seketika bisa juga menjadi tegas dan dingin jika ada yang melakukan kesalahan atau Yansyah dan Andik bertengkar merebut kan sesuatu.
"Ada apa pak yan?". tanya pak Anwar yang bingung melihat sorot mata Yansyah yang terlihat sedih.
"Ah tidak. Saya hanya teringat papa saya. Beliau dulu juga memperlakukan anak anak nya dengan hangat dan penuh kasih sayang. Saya hanya merindukan beliau ketika melihat pak Anwar bersama citra seperti ini".
Pak Anwar dan citra pun terenyuh mendengar Yansyah yang merindukan mendiang papa nya.
"Anggap saja saya papa mu juga. Saya tidak merasa keberatan. Itu pun jika nak Yansyah mau". Pak Anwar yang memang jiwa orang tua nya sangat kental, langsung berdiri dan merangkul Yansyah menyalurkan kekuatan pada Yansyah.
Citra sedikit meneteskan air mata nya melihat pemandangan indah di depan nya itu.
__ADS_1
Citra pun memandangi Yansyah yang tampan dan juga berwibawa.