
Keira dan Arya bergegas pergi ke kediaman Yansyah.
Sebelum pergi dia menitipkan Adam pada orang tua mereka yang masih ada di sana.
Para orang tua terkejut mendengar kabar duka itu.
Papa Anton juga papa nya Arya ikut ke pemakaman Andik.
Bagaimana pun Andik pernah menjadi menantu nya. Setidaknya papa Anton menghormati keluarga Andik.
Sesampainya di pemakaman yang di beritahu rekan bisnis nya Arya.
Sesampainya mereka di sana, mereka langsung menghampiri Yansyah dan Maura yang masih setia berdiri di samping gundukan tanah merah yang masih basah dan bertaburan banyak bunga.
"Kak?" panggil Keira.
Yansyah dan Maura pun menoleh bersamaan.
Keira sungguh tidak tega melihat kondisi mantan kakak ipar nya dalam keadaan yang terpuruk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Maura berhamburan memeluk keira.
__ADS_1
Maura terisak di pelukan Keira.
Melihat Maura yang begitu rapuh nya, Keira pun jadi ikutan menangis.
Ia juga merasa kehilangan Andik sebagai seorang teman.
Karena Andik sendiri sudah minta maaf dengan tulus, dan Keira pikir juga Andik sudah mendapatkan hukuman dari Tuhan atas segala perbuatannya pada Keira dulu.
Tapi tentu Keira tak menyangka sampai seperti saat ini.
Andik tak lagi bisa di lihat di dunia ini.
Kini Andik sebagai anak bungsu di keluarga Gumilar pergi lebih dulu meninggalkan kakak kakak nya, dan menyusul kedua orang tua nya.
Yansyah hanya mempunyai Maura dan Riko saja sekarang.
Beruntung mawar masih mau berbaik hati menemani mereka, mengurus mereka layaknya anak sendiri.
Yansyah dan Maura merasa mempunyai ibu lagi, memiliki kasih sayang dan perhatian lagi dari mawar.
"Sudah kak. Ikhlaskan. Memang sulit, tapi kalau kakak begini terus kasihan Andik pasti tidak tenang dan juga sedih. Ada aku kak, kakak pasti kuat". Keira terus mengusap punggung Maura menyalurkan kekuatan pada mantan ipar nya itu.
__ADS_1
"Kei, terima kasih sudah mau datang. Kamu memang wanita yang sangat baik hati. Aku mohon maafkan Andik dengan ikhlas dan tulus. Agar dia bisa pergi dengan tenang di sana". ucap Yansyah.
"Pasti kak. Aku sudah memaafkan Andik dan juga Denisa. Aku ingin hidup tenang dan tentram tanpa dendam yang tersimpan di hati. Aku sudah bahagia sekarang. Aku harap kakak dan kak Maura harus melanjutkan hidup dan harus bahagia juga". Keira terus terisak dan masih memeluk Maura.
"Ini sudah garis yang Tuhan tulis bro. Kita berdoa agar kalian kuat. Bisa ikhlas dan bisa melanjutkan hidup. Ini yang terbaik buat Andik, percaya lah". Arya merangkul Yansyah juga untuk memberi kekuatan.
Terlihat sekali Yansyah dan Maura sangat rapuh dan ada gurat kelelahan di wajah kedua nya.
"Sabar sayang, jangan terus di tangisi kasihan Andik sayang". ucap mawar menghampiri Keira dan Maura.
"Terima kasih Bu, sudah mau repot repot menemani aku dan Yansyah. Padahal jelas aku anak dari lelaki yang sudah menyakiti hati ibu. Tapi ibu masih mau mengurusi kami yang bukan darah daging ibu". Maura kembali terisak.
"Sayang, kamu dan Riko kan saudara kandung. Lagi pula kalian sedang berduka, mana tega ibu cuek dengan kalian. Sudah yaa, pemakaman sudah selesai. Kita pulang yaa. Nanti malam kan ada acara doa bersama untuk Andik. Kita harus kuat sayang". mawar terus membelai kepala Maura.
Aura keibuan nya terpancar sekali.
Akhirnya Maura pun menurut.
Satu persatu semuanya meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah itu.
Kini Andik sudah beristirahat dengan tenang tanpa mengalami kesakitan dan depresi yang berkepanjangan.
__ADS_1