Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Tetangga Gita


__ADS_3

Di lain tempat, gita menunggu teman nya yaitu keira. Ia pergi ke lobi untuk menunggu kedatangan teman nya itu.


Karena sedang hamil, gita sampai membawakan kursi roda agar keira temannya itu tidak kelelahan berjalan.


Saat sedang menyesap teh hangat nya di sofa lobi, gita seperti melihat bos nya memasuki apartemen ini.


Apartemen gita berada di lantai 10.


"Ihh iyaa itu laki nya keira. Kok bisa di sini? Sendirian pula. Gak mungkin juga meeting disini. Ini kan weekend". Ucap gita. Karena penasaran, gita akhirnya mengikuti andik bos nya itu dari belakang. Kebetulan gita membawa syal, dia menutupi wajah nya dengan syal itu.


Di dalam lift, cukup banyak orang. Sehingga gita tidak begitu kelihatan jelas.


Ternyata andik menekan lantai 10 juga.


Apa andik punya unit di lantai sana juga?


Pikiran gita terus berkelana.


Ting...


Lift terbuka beberapa orang keluar, termasuk andik dan gita.


Andik melangkah dengan tergesa gesa.


Gita bingung untuk apa bos nya itu kemari.

__ADS_1


Andik berdiri di depan pintu tepat di samping unit gita.


Gita langsung membuka pintu nya dan mengintip sedikit dari pintunya.


Ternyata yang membukakan pintu unit sebelah seorang wanita !!


Buru buru gita mengambil ponsel di saku nya, menyembul kan sedikit benda pipih itu ke depan pintu.


"Yeess dapat". Gita melihat hasil jepretan nya.


"Gila, si bos ada main sama cewek lain. Istri cantik lagi hamil aja di khianati gitu. Gimana kasih tau nya yaa nanti". Gita dilanda kebingungan.


Akhirnya Gita kembali ke lobi untuk menunggu keira. Dia sampai meninggalkan kursi roda nya disana.


"Hai keira kuuuu. Apa kabar? Gimana keponakan onty disini? Baik kan disini?". ucap gita seraya mengelus perut keira.


"Nanti yaa tunggu uncle nya turun dari langit, yang banyak uit nya supaya bisa traktir baby es krim".


"Jangan lupa cari yang setia juga". Gumam keira.


Deg


Jantung gita berpacu dengan cepat mendengar perkataan keira.


Gita berusaha menetralkan wajahnya yang terlihat panik. Tapi untungnya keira tak menatap gita lama, sehingga tidak begitu ketara wajah pias gita.

__ADS_1


"Iyaa dong bumil, setia nomor satu itu". Gita membawa keira duduk di kursi roda yang ia bawa dari tadi.


"Iihh apaan sih lebay deh. Kenapa juga segala dibawain ginian. Gue bisa kali jalan sendiri". Keira mengeluh karena gita terlalu berlebih-lebihan menurutnya. Suaminya saja tidak se begitunya dengan kehamilan ini. Mengingat itu keira jadi sedih.


"Udah yaa, sssttt diam aja. Tinggal duduk, dan tak ada penolakan oke". Titah gita tak terbantahkan.


Akhirnya keira duduk, lalu gita mendorongnya perlahan.


Di dalam lift, gita melamun. Memikirkan bagaimana cara menyampaikan bahwa suaminya keira telah berkhianat. Gita bingung bagaimana memulai pembicaraan nya.


Pintu lift terbuka, keira segera mencolek tangan gita karena ia terus melamun.


"Git, ayo!". Ucap keira


"Eh ,, iyaa iyaa yuk". Gita pun melanjutkan mendorong keira agar sampai ke rumah nya.


"Gita, lo pasti seneng dong impian lo tercapai lebih cepat dari perkiraan lo". Ucap keira setelah berada di dalam apartemen gita. Keira merasa bangga pada temannya ini karena berhasil mewujudkan impian nya.


"Iyaa kei, Alhamdulillah gue juga gak nyangka banget bisa secepat ini kebeli. Semua juga berkat dukungan lo juga kei".


"Ah itu emang kerja keras lo git, makanya cepet terwujud". Mereka pun berpelukan.


"Nah setelah ini, tinggal cari pendamping aja yaa kan". Goda keira membuat Gita merona.


"Nanti lah gampang, lagi otw mungkin haha. Oh iyaa, gimana hubungan lo sama suami? Baik baik aja kan?". Gita berusaha mengorek informasi dari teman nya itu.

__ADS_1


"Hhmmm, gue baik kok. Kenapa memang? Ada yang aneh kah?".


Gita menelan saliva nya dengan susah payah.


__ADS_2