Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Ekstra part 15


__ADS_3

Yansyah memegangi kertas, menahannya agar Andik bisa menulis apa yang ingin ia sampaikan kepada saudara nya itu.


Andik menulis dengan tangan gemetar. Tulisan nya tak beraturan, namun masih bisa terbaca.


Andik berhenti menulis.


Kertas itu Yansyah angkat kemudian ia baca dengan mengernyitkan dahi karena tulisan nya agak berantakan. Seperti anak kecil yang baru belajar menulis.


Isi tulisan itu adalah....


'Kakak, tolong maafkan aku yang nakal. Aku juga titip salam untuk Keira maafkan aku dengan setulus hati nya. Aku mohon sekali. Aku menyayangi kalian. Selamat tinggal'.


Itulah kalimat yang di tulis Andik.


Tangan kurus nya yang gemetar kini terlihat lebih tenang.


Yansyah melihat wajah sang adik sangat pucat. Seperti tak ada aliran darah di tubuh nya.


Yansyah pun memegang tangan adik nya itu dan ternyata DINGIN.


Yaa, tangan kurus itu sangat dingin.


Maura juga turut memegang tangan sang adik, dan dia juga merasakan dingin nya tangan itu.


Sontak Maura langsung berlari menuju meja perawat.


"Sus, tolong adik saya. Cepat sus panggilkan dokter. Cepat!!". Maura bicara setengah berteriak.

__ADS_1


"Baik Bu, tunggu. Ibu kembali saja ke ruangan". Suster pun dengan cekatan berlari ke arah ruang dokter lalu kembali ke ruangan Andik.


Tak lama dokter datang dan memeriksa Andik yang sudah sangat pucat.


Dokter memeriksa denyut nadi dan jantung nya.


Di berikan nya Andik alat kejut jantung.


Namun, hasilnya nihil.


Andik tetap berwajah pucat, dan suhu tubuh yang dingin.


Dokter menghela nafas, dan sukses membuat Yansyah dan Maura senam jantung.


"Mohon maaf pak, Bu. Saudara Andik sudah kembali ke pangkuan tuhan. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk pasien bertahan sampai ada pendonor ginjal. Namun, seperti nya tuhan punya rencana lain. Saya turut berduka cita ya mas. Kalian harus sabar dan ikhlas meski berat rasanya ". ucap dokter sembari mengusap punggung Yansyah agar setidaknya memberi kekuatan sedikit. Karena dokter yang menangani Andik memang seusia orang tua mereka.


Perawat membantu Maura agar sadar kembali. Sedangkan anak nya sedang di titipkan di penitipan anak. Karena kondisi nya tidak memungkinkan untuk membawa balita ke rumah sakit.


Yansyah berjalan terseok-seok ke dalam ruangan dimana adiknya itu terbujur kaku dengan tubuh yang dingin.


"Maafin gue, gue memang kakak yang gak berguna. Gue gak bisa ngejaga lo dengan baik. Maafin kakak lo yang bodoh ini Andik. Meskipun berat sekali rasanya, tapi gue harap lo bahagia di sana. Lo pasti bahagia kan kumpul sama mama papa? Lo jahat ninggalin kakak kakak lo ndik". Yansyah terus berbicara.


Sebelum nya Yansyah memberikan pesan pada Riko adik nya mengenai kondisi Andik.


Riko yang membaca pesan dari kakak nya langsung meluncur bersama sang ibu.


Kali ini mawar sangat sedih melihat kondisi keluarga mantan kekasih nya hancur sehancur hancur nya.

__ADS_1


Papa nya yang punya dosa, namun anak anak nya ikut merasakan akibat nya.


Entah ini karma atau memang ujian, mawar juga tidak tau.


Yang jelas dia merasakan sakit di hati nya melihat anak anak agung terpuruk seperti ini.


Ia dan Riko memutuskan untuk tinggal sementara sampai jangka waktu yang tidak di tentukan guna menemani anak anak yang malang itu.


Kini, mawar tak menaruh dendam sedikitpun pada mantan nya itu.


Ia merasa kasihan pada kedua anak mantan nya itu, meskipun ia bukan ibu dari mereka.


"Kak. Gimana Andik?". tanya Riko yang baru saja sampai di ruangan Andik.


Yansyah diam tak bergeming, sambil menatap Andik sampai tidak berkedip dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir.


Mawar yang melihat Maura terbaring lemah sambil menutup mata langsung menghampiri nya. Di keluarkan nya minyak kayu putih dari dalam tas nya, kemudian ia balurkan ke leher, tangan, serta ia oleskan sedikit di hidung nya agar Maura cepat sadar.


"Kak, Andik..." Riko tak meneruskan kalimatnya. Ia paham bahwa Andik sudah tak lagi bernyawa.


Andik pun telah tiada menyusul kedua orang tua nya.


Riko langsung mengusap wajah Andik perlahan agar mata nya tertutup sempurna.


Kemudian ia memeluk Yansyah.


Tangis kedua nya pecah melihat keluarga mereka satu per satu pergi untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2