
Aji terus menggenggam tangan Gita yang sedang berjuang antara hidup dan mati agar sang buah hati bisa keluar melihat dunia.
Aji pun tak kalah berkeringat nya dengan Gita. Padahal ruangan ber AC namun kedua nya sangat berkeringat.
"Sakit banget mas aji. Astaghfirullah mama". Gita malah memanggil manggil mama nya.
"Sabar sayang, kamu pasti kuat. Kalau kita telepon mama mu sekarang kasihan sudah hampir subuh". Aji berusaha menenangkan istrinya, meskipun dia sendiri sebenarnya juga tidak tenang.
"Pembukaan nya sudah sempurna yaa Bu. Ikuti kata kata saya yaaa, kalau saya bilang mengejan ibu harus mengejan dengan kuat seperti ingin pup saja yaa". Dokter memandu Gita dengan sangat tenang, sehingga Gita mudah melahirkan buah hatinya.
"Baca Bissmillah dulu ya Bu, bantu doa juga. Bissmillah, satu dua tiga ayo Bu mengejan yaaa yang kuat. Bisa Bu, terus, Kuat Bu ayo". ucap sang dokter.
"Eeenggghhhhhh ,, sshhh,, eeennngghhhh. Aaarrggghh". Dengan dua kali mengejan, akhirnya Gita bisa melahirkan buah hatinya.
"Alhamdulillah ". ucap dokter dan perawat yang ada di sana.
Begitu pula dengan aji, dia mengucap syukur karena anaknya telah lahir dengan selamat. Ibu nya pun selamat.
"Terima kasih sayangku. Terima kasih. Kamu hebat, kamu kuat". Aji mengecup istrinya berkali kali saking senang nya.
__ADS_1
"Selamat yaaa Bu, pak. Anaknya berjenis kelamin perempuan. Berat badan nya dua koma delapan kilogram dengan panjang badan lima puluh senti. Fisik nya Alhamdulillah sempurna yaa pak, Bu. Kita bersihkan dulu yaa baby nya".
Gita hanya mendengar kan lalu mengangguk sebagai jawaban. Ia masih lelah sekali setelah berjuang untuk melahirkan buah hatinya.
Setelah baby di bersihkan. Aji mengadzani buah hatinya.
Tak terasa, ia menitikan air mata nya.
Air mata bahagia.
Gita yang melihat nya juga ikut terharu. Kini dia resmi menjadi seorang ibu. Menjadi orang tua.
Dalam dekapan sang bunda, baby terlihat nyaman sekali.
Masih di rumah sakit yang sama, Arya nampak menahan kantuk nya.
Baby Adam sedikit rewel. Mungkin karena masih demam. Namun tidak terlalu tinggi seperti awal datang.
Arya tak tega meninggalkan Keira tidur, karena baby Adam hanya mau di gendong mama nya. Sambil menahan kantuk, Keira menggendong baby Adam.
__ADS_1
Ia teringat cerita mama nya dulu kalau Keira sering di rawat inap di rumah sakit waktu masih kecil dulu.
Tanpa terasa keira menangis. Ia menangis karena pasti perjuangan mama nya lebih berat dulu. Menurut cerita mama nya, sedari bayi memang Keira sering sakit.
'Pasti mama lebih lelah dari aku sekarang ini'. batinnya sambil menitikkan air mata.
Arya melihat itu pun langsung bertanya pada istrinya.
"Ada apa sayang?". tanya nya lembut.
"Ah, nggak. Aku cuma teringat cerita mama kalau aku dulu waktu masih bayi sering sakit. Pasti mama lebih lelah di bandingkan aku mas".
"Namanya juga anak masih kecil pasti rentan. Yang perlu kita ingat adalah kita harus menghormati dan menyayangi orang tua kita sampai selamanya. Karena jadi orang tua tidak mudah. Sekarang yang penting kamu harus kuat, harus sabar. Kasihan Adam kalo mama nya sedih". Arya berusaha menenangkan istrinya yang sedang galau itu.
Keira mengangguk dan mengusap kepala baby Adam.
"Aku telepon mama yaa. Oh iyaa,, aku juga mau keluar sebentar yaa lihat aji. Ini sudah hampir subuh. Gita sudah lahiran atau belum yaa?".
"Iyaa mas. Kamu coba tengok mas aji dulu sebentar. Kasihan dia nemenin Gita sendirian. Ini Adam juga sudah tidur kok. Sudah gak demam lagi".
__ADS_1
Arya pun menuju ruangan bersalin ingin melihat aji yang pasti sekarang sedang panik.