Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Aku Memaafkan mu...


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu...


Kondisi Keira jauh lebih baik saat ini.


Dia sudah mulai bekerja kembali, namun bukan di kantor mantan suaminya dulu melainkan di kantor papa nya.


Keira sebagai staf biasa.


Dia tidak mau langsung menjabat jabatan yang tinggi, meskipun itu kantor orang tua nya. Keira tidak mau ada kecemburuan sosial di mata karyawan lainnya. Dia juga ingin berbaur dengan karyawan lain dengan nyaman dan tidak kaku.


"Hai, sudah waktunya istirahat. Makan dulu yuk. Repot kalau pingsan loh, nanti di marahin bos kalau sakit sakitan. hehehe". Ucap seseorang mengagetkan Keira yang masih serius di depan layar komputer nya.


"Astaghfirullah kamu kayak hantu tau gak. Tiba-tiba ada di situ. Kapan datang gak ketahuan. Ampun deh". Keira terus mengomel.


"Iyaa ampun deh ampun. Maaf khilaf, hehe. Yuk makan".


"Kenapa gak telepon dulu sih kalau mau datang makan siang. Kebiasaan deh kamu".


"Sudah sudah, ayo papa juga laper. Tinggal dulu itu kerjaan nya nak. Yuk nak Arya, saya sudah lapar berat nih".


Papa Anton juga berada di belakang Arya yang tadi mengagetkan Keira.


Arya semakin gencar saja mengejar Keira. Terlebih lagi setelah sidang putusan keluar, Arya tak gentar mengejar Keira dan juga papah nya. Sampai papa Anton pusing lalu mengiyakan jika Arya ingin mendekati putrinya, tentu dengan syarat harus setia dan tidak menyakiti putrinya. Ia trauma melihat putri kesayangannya menderita. Sebagai ayah dia merasa gagal menjaga putri tersayang nya.


"Yaudah pa, kita duluan aja deh. Tinggal aja Keira nya". Arya dan papa Anton berjalan lebih dulu meninggalkan Keira menuju cafe kecil di seberang kantor.


Cafe kecil itu pun milik Keira. Ia sengaja mendirikan cafe kecil di sana selain dekat dengan kantor nya, juga agar ia lebih sibuk dan melupakan masa lalu yang menyakitkan dan membuat nya terpuruk.


"Lah, si Arya mau ajak gue atau papa sih sebenernya. Nyebelin ih. Gue susul aja deh". Keira pun mematikan komputer nya lalu beranjak menyusul papa dan Arya ke cafe miliknya yang ada di seberang kantor.


Sebenarnya di samping kantor terdapat jembatan penyeberangan, namun karena agak lelah Keira memilih menyeberang lewat bawah saja.


Arya dan papa Anton melihat dari kaca Keira menyusul nya.


Namun, kejadian tak terduga berlalu begitu saja bagaikan kilat di langit.


Keira hampir saja tertabrak sepeda motor yang melaju sangat kencang dan menuju kearahnya.


Namun, sepasang tangan kekar menariknya ke pinggir jalan lagi karena melihat motor tersebut sama sekali tidak berhenti padahal Keira sudah melambaikan tangan pertanda ingin menyeberang jalan.


Naas, motor itu kehilangan kendali lalu menabrak truk yang ada di depan nya.


Pengemudi motor tersebut terkapar dan bersimbah darah sangat banyak.


✓ Flashback on...

__ADS_1


"Gue gak terima kayak gini terus. Meskipun sekarang sudah berhasil menikah dengan Andik. Kenapa malah dianggap kayak bukan istrinya? pasti dia masih mikirin Keira. Gak bisa di biarin. Andik gak boleh mikirin lo terus. Kalau Lo masih ada pasti Andik masih keingetan terus sama lo, jadi lo harus end". Ucap Denisa di dalam kamar seorang diri. Ia merasa frustasi dengan pernikahan nya karena Andik tak kunjung membaik sikapnya terhadap dia.


Andik yang kala itu ingin istirahat, mendengar ucapan Denisa langsung terdiam. Andik merasa ada yang di rencanakan Denisa terhadap Keira. Andik harus terus mengawasi Denisa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Keira.


Perasaan Andik menjadi tak enak setelah mendengar ucapan Denisa.


Andik tau, bahwa Denisa adalah wanita yang nekat.


Andik akan membuntuti kemanapun Denisa pergi.


Hati nya berkata pasti dia akan melakukan rencana buruk pada Keira.


✓ Flashback Off ...


"Sa...." teriak Andik begitu melihat Denisa terkapar setelah menghantam truk besar di depannya.


Yaa, orang yang mengendarai motor dengan kencang mengarah ke Keira adalah Denisa.


Beruntung Andik datang tepat waktu untuk menarik Keira yang sedikit lagi hampir tertabrak.


"Mas Andik?". lirih Keira.


"Denisa?" lirih nya lagi.


Keira langsung berlarian menuju Andik dan Denisa.


"Kamu gak apa apa nak?".


"Kamu gak apa apa kei?".


Ucap papa Anton dan Arya bersamaan.


Keira menjawab dengan gelengan kepala.


Keira syok sekali melihat keadaan Denisa yang bersimbah darah dan wajah, tangan dan hampir seluruh tubuhnya penuh luka luka serius.


"Mas, cepat bawa ke rumah sakit. Cepat". ucap Keira sambil menangisi Denisa.


Ia juga bingung, meskipun sudah di sakiti sedemikian rupa namun rasa simpati nya terhadap sahabat yang dahulu nya sangat dekat itu tak hilang. Keira tetap ingin Denisa selamat.


"Kenapa kamu melakukan hal bodoh ini sa? kenapa? astaga". Andik menangisi nasib nya dan menangisi tindakan Denisa yang konyol itu.


"Sudah mas, jangan banyak ngomong. Bawa Denisa ke UGD". teriak Keira.


"Sabar nak". kata papa Anton.

__ADS_1


"Kei. Kamu masih peduli sama aku?". Ucap Denisa pelan dan sangat lirih.


"Ya masihlah, kita kan teman. Sudah jangan banyak bicara. Kita obati yaa luka nya". Keira semakin panik karena Denisa semakin lemas.


Andik berusaha menggendong Denisa, namun begitu di angkat terdengar bunyi seperti kayu yang patah.


Begitu bunyi itu terdengar, spontan Denisa tercekat lalu berkata...


"Maafkan aku teman".


Belum sempat Keira menjawab Denisa sudah menutup mata nya rapat rapat.


Bunyi yang terdengar berasal dari kaki Denisa yang ternyata patah. Benar benar patah.


Tulang nya terputus dari sambungan nya.


Keira nyaris pingsan mendengar bunyi patahan tulang Denisa.


Segera di pegang oleh Arya dan papa Anton.


melihat banyak darah membuat Keira lemas tak berdaya.


Dalam keadaan lemas Keira berkata lirih sekali menjawab perkataan Denisa.


"Aku memaafkan mu teman".....


Sambil berurai air mata....


"Kenapa jadi gini sih teman?". Pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab lagi.


Andik membawa ke UGD terdekat untuk memastikan keadaan Denisa.


Dan dokter jaga di sana menyatakan bahwa...


Denisa telah tiada.....


Keira mendengar itu hanya bisa diam dan menangisi semua yang sudah terjadi antara ia dan Denisa.


Ia menyesali perbuatan Denisa terhadap nya.


Namun, semua sudah terjadi.


Waktu tak mungkin bisa di putar kembali untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.


Keira menatap jenazah sahabatnya dulu...

__ADS_1


Ia mengingat saat masih menempuh pendidikan semua terasa indah tanpa beban....


"Aku sungguh memaafkan mu teman. Pergilah dengan tenang. Semoga tuhan mengampuni segala dosa mu dan menerima mu disisi Nya".


__ADS_2