
Denisa berpura pura sedang melihat lihat sambil mencoba berjalan ke hadapan andik dan rendra.
"Loh Andik? Lagi apa di toko sepatu perempuan gini?" Tanya denisa berbasa basi.
"Eh,, ada denisa. Hhmm,, i ini aku lagi beli sepatu untuk hadiah". Jawab andik sedikit grogi, dan mengundang perhatian rendra yang menatapnya dengan penuh selidik. Takut bos nya ada yang tidak beres.
"Oohh gitu. Hadiah untuk siapa? Aku juga mau belanja di sini, tapi sepertinya heels merah nya sudah di beli orang deh. Gak dapat deh jadinya". Ucap denisa agak lebay gitu.
"Oh kamu cari heels itu. Maaf ini sudah aku beli".
"Duuhh sweet banget sih andik". Denisa sudah percaya diri sekali sambil mencubit pipi andik. Rendra yang melihat itu lantas menyenggol lengan bos nya dengan siku nya dan tidak lupa tatapan tajamnya. Andik langsung ciut melihat rendra melotot.
Padahal andik bos nya rendra, tapi andik takut rendra mengadukan ini ke istri nya keira.
"Bisa bicara sebentar gak andik? Berdua aja, boleh yaa". Denisa langsung menarik lengan andik ke kursi yang ada di mall itu.
"Ren, sebentar yaa. Tunggu".
"Gue curiga, ada apa si andik sama itu cewek. Gatel banget sih ceweknya. Keira tau tamat sudah riwayat lo bro". Gumam rendra melihat sahabatnya itu di tarik perempuan lain.
"Ada apa sa?"
__ADS_1
"Hhmm,, itu, kamu beli heels itu untuk aku kan? Maaf, semenjak kejadian indah di dalam mobil itu, aku selalu mikirin kamu andik". Denisa dengan tidak tau malu nya mengungkapkan perasaan nya itu.
"Hhmmmm .. Gimana yaa sa,, Sebenarnya aku juga kepikiran kamu, tapi gak mungkin lah yaa. Aku gak bisa berpikir aneh aneh sa. Sekarang aku sudah menjadi suami teman kamu keira, dan maaf heels ini aku beli untuk hadiah istriku. Aku minta kamu lupain kejadian itu, maaf kita hanya khilaf". Setelah mengatakan hal itu andik kembali ke rendra lalu pergi dari mall itu.
Denisa sangat geram mendengar penolakan dari andik.
'Sekarang boleh kamu nolak aku. Tapi besok, gak boleh kamu giniin aku sayang'. Batin denisa.
Di dalam mobil....
"Bro, lo ada urusan apa sama itu cewek? itu bukannya sekertaris nya irwan yaa?". Rendra mengintrogasi rekannya itu.
"hhmm.. Itu temen nya keira ren. Gak ada urusan apa apa kok, dia cuma bilang sepatu yang gue beli ini incaran dia kemarin tapi gak sempat beli. Eh keburu gue yang beli deh".
"Lah lo jadi kepo banget dah kayak ibu ibu ngeriung di tukang sayur deh. Udah ayok balik, lama deh. Nanti gue potong gaji lo baru tau".
"Ah gak asik lo ancamannya,, Basi".
Yaa andik memang sering mengancam memotong gaji rendra. Tentu tidak benar benar di potong. Hanya gurauan saja.
Rendra merasa ada yang aneh dengan perempuan tadi. Kalau di lihat dari ekspresi nya, dia suka dengan sahabat nya, andik.
__ADS_1
Rendra harus terus mengingatkan andik agar tidak terjerumus dengan wanita lain.
"Oh iya ren, gue mau adain acara syukuran gitu. Enaknya dimana yaa? di rumah atau di gedung yaa?".
"Syukuran apa dah? Perasaan belum goal proyek nih".
"Loh udah goal dong. Baru beberapa minggu goal nya. Jadi mesti adain syukuran dong".
"Apaan sih yang goal, orang belum ada yang taken kok perusahaan mana pun. Ngawur aja lo".
"Bukan itu bambang. Maksud gue keira yang udah goal. Gue mau buat acara syukuran karena keira lagi hamil andik junior". ucap andik bangga dan bahagia sekali kelihatan nya.
"Wahhhh,, keren si parah. Tokcer juga yaa lo bro. Gak sia sia gue ajarin lo dari dulu, hahaha". Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Pasti dong, makanya gue mau syukuran nih. Enak nya dimana yaa?"
"Kalau menurut gue sih bro mending di rumah aja dulu. Nanti kalo acara empat bulanan baru deh buat acara yang agak besar lagi. Gimana? undang tetangga dan saudara aja dulu".
"Boleh deh, nanti gue omongin sama keira sama nyokap juga. Mereka yang paling paham".
Setelah mengobrol mereka pun melanjutkan perjalanan pulang menuju kantor.
__ADS_1
Rendra ikut senang melihat andik yang sekarang penuh dengan semangat setiap hari nya.