
Hari demi hari berlalu.
Andik masih enggan untuk pulang. Dia merasa sangat bersalah pada keira dan buah hati nya.
Andik terus bermimpi bertemu bayi yang berbicara bahwa ia adalah darah dagingnya, namun ia sangat membenci Andik sebagai ayahnya.
Setelah bermimpi buruk itu, andik terbangun dengan keringat yang bercucuran serta nafas yang tersengal-sengal.
Denisa yang tidur di sampingnya juga kaget dengan andik yang tiba-tiba terbangun.
Sikap andik pada denisa berubah drastis semenjak andik tau bahwa dari kejadian di mall itu mengakibatkan kematian sang buah hati dengan keira istri nya.
"Kamu kenapa sayang? Mimpi buruk? Minum dulu ya?". Ucap denisa seraya memberikan gelas berisi air putih.
"Nggak. Gak perlu". Andik bangkit lalu meninggalkan denisa sendirian lagi di apartemen itu.
Andik mandi, lalu bersiap untuk pergi.
Denisa menghentikan langkah andik ketika hendak membuka pintu.
"Andik. Kenapa kamu jadi begini? Aku lagi hamil anakmu!! Kasih perhatian sedikit untuk anakmu ini andik. Dia butuh perhatian ayahnya".
"Aku harus melihat anakku. Aku akan kerumah keira. Pasti anakku sedang bermain dengan bunda nya".
"Heh!! Anakmu itu sudah mati !! Kamu gak perlu lagi kesana melihat anakmu. Anakmu gak ada di sana. Dia sudah di kubur di tanah!!". Ucapan denisa membuat andik naik pitam dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Andik mencengkeram wajah denisa dengan kuat lalu matanya melotot tajam menatap denisa seraya berkata...
"Anakku masih hidup. Silahkan cari perhatian pada ayahnya anakmu itu!! Aku bukan ayahnya!!". Setelah mengucapkan itu, andik menghempaskan wajah denisa lalu pergi meninggalkan nya.
"Kejam sekali kamu sekarang mas. Ini anakmu. Ini anakmu". Denisa menangis histeris. Dia kecewa dengan sikap andik padanya.
Denisa berjalan lemah menuju ponselnya.
Dia menekan satu nomor yang terlihat sedang online.
Tuuuttt....
"Halo. Nak. Ada apa sa?". Ucap seseorang di seberang sana.
"Hhhh.. sshh.. hhmm". Denisa tak kuasa menahan isak tangisnya ketika mendengar suara tersebut.
"Bu, maafkan semua kesalahanku yaa bu. Aku sudah tak sanggup lagi bu". Pecah sudah tangisan denisa.
"Kamu yang tenang yaa. Tarik nafas lalu ambil air hangat supaya tenang yaaa".
Denisa mengikuti saran ibu nya. Yaa, orang yang di telepon denisa adalah ibu nya, bu sukma.
.
.
__ADS_1
.
Di kediaman pak Anton, keira sedang termenung memikirkan buah hatinya yang sudah meninggalkan dia.
Para orang tua sangat sedih melihat keira menjadi murung seperti itu.
Tiba tiba terdengar ketukan pintu sangat keras dan teriakan.
Tok tok tok tok....
"Kei, buka pintunya kei. Maafin aku kei. Aku benar-benar tidak sengaja. Kei maafkan aku kei".
"Seperti suara andik yaa yan". Mama jeni dan yansyah yang memang menginap di kediaman pak Anton mendengar suara gedoran pintu serta suara anaknya bergegas mengintip dari jendela.
Begitu pintu terbuka...
"Loh, kak yansyah? kok bisa di sini? mana istriku?".
"Sabar ndik. Jangan buat keributan. Dari mana saja kamu ? Kenapa baru sekarang kamu muncul hah?".
Keira dan mama nya mendengar keributan di depan pun bergegas keluar kamar untuk melihat ada apa.
Pak Anton dan pak agung yang sedang di halaman belakang pun ikut ke depan.
"Ada apa ini? kenapa ribut ribut?". ucap mama siska.
__ADS_1
"Keira, akhirnya kamu keluar juga sayang. Mana bayi kita sayang? aku mau gendong dia".
"Apa kamu sudah tidak waras? ayo". Keira menyeret Andik menuju suatu tempat.