
Bukan tanpa alasan orang tua denisa khawatir dengan anak nya yang egois itu.
Ayah diman dan ibu sukma sangat mengenal putri nya itu, jika mempunyai keinginan sebisa mungkin harus terpenuhi. Tidak memikirkan caranya bagaimana yang penting harus dapat.
Seperti dulu saat masih sekolah orang tua denisa harus menghadap kepala sekolah langsung karena ulah denisa.
Jadi mereka teringat waktu denisa dan keira sekolah SMA dulu bertengkar hebat hanya karena laki laki, dan denisa juga salah paham terhadap keira yang hanya dapat tumpangan dari laki laki itu.
✓ Flashback On
Pagi itu keira ingin berangkat sekolah diantar supir, tetapi di perjalanan ban mobil nya bocor.
Karena takut terlambat akhirnya keira berusaha mencari taksi, atau angkutan umum. Yang penting sampai sekolah tepat waktu.
Waktu keira celingak celingukan mencari taksi, tiba tiba teman sekolah nya keira lewat di jalan yang keira sedang berdiri mencari angkutan umum.
Dia adalah dimas anggara...
Kakak tingkat serta Ketua osis yang most wanted pada saat itu.
Tampan, tinggi, hidung mancung dan alis tebal menjadi daya tarik sendiri.
Apalagi dimas kapten basket di sekolah nya. Makin bertambah kadar ketampanan nya.
Membuat siswi di sana mengagumi sosok dimas sang ketua osis.
Dimas melihat keira yang sedang bingung di pinggir jalan langsung berhenti tepat di depannya.
"Loh keira ngapain di sini? Bentar lagi bel loh". Ujar dimas
__ADS_1
"Eh kak dimas. Itu ban mobil nya bocor jadi mau cari taksi aja deh".
"Ayo naik, bareng aku aja. Kelamaan kalo nunggu angkot atau taksi kei. Cepet naik keburu telat loh. Mau di hukum pak toto keliling lapangan? Atau bersihin toilet laki laki?" Dimas menakut nakuti keira agar mau diajak bareng.
Dimas sebenarnya kagum pada keira, dimana semua wanita mengejar ngejar dia. Keira malah tidak tertarik sama sekali.
Akhirnya Keira mau di ajak bareng sama dimas.
"Pegangan yaa kei aku mau ngebut biar gak telat".
"iihh jangan ngebut dong kak. Biasa aja".
"Udah pokoknya kamu pegangan yang kuat". Dimas menarik tangan keira agar memeluk pinggang dimas.
Seperti remaja yang sedang pacaran saja di lihatnya. Begitu serasi mereka.
Mereka berdua membelah jalanan yang lumayan padat karena memang jam semua orang berangkat kerja dan sekolah.
Sesampainya di parkiran sekolah, semua mata tertuju pada kedua siswa yang baru saja sampai dan berboncengan.
Sampai ramai gitu yang menonton keira dan dimas. Padahal hanya berboncengan saja sudah se heboh itu.
Denisa penasaran ada apa ramai ramai gitu di parkiran.
Ternyata yang bikin heboh adalah sahabatnya yang berboncengan dengan dimas begitu dekat.
Mereka terlihat sangat serasi.
Denisa geram melihat pemandangan itu. Karena denisa fans beratnya dimas.
__ADS_1
Setiap hari ada saja yang denisa berikan ke dimas.
Dimas terus menolak nya secara halus agar denisa tidak tersinggung.
Jujur, dimas agak risih dengan denisa yang tiap hari berusaha mendekati nya.
Melihat dimas berduaan dengan keira sahabat nya denisa langsung mendidih darahnya.
Padahal denisa bukan siapa siapa nya dimas.
Denisa dengan tergesa gesa membelah kerumunan orang di parkiran.
Hal yang mengejutkan semua yang ada disana. Denisa mendorong keira yang baru saja turun dari motor ninja kesayangan dimas itu.
Sampai jatuh tersungkur terbentur pembatas jalan.
Bruuuggghhhhh ....
"Woy apa apaan lo dorong orang gak kelas. Kesurupan lo yaa?" pekik dimas.
"Dasar munafik lo yaa kei. Lo bilang gak tertarik sama yang namanya pacaran karena mau fokus sekolah dulu. Tapi ini apa? lo malah jalan sama cowok yang gue suka. N*jis banget sih lo jadi cewek". teriak denisa mengeluarkan uneg uneg nya.
"Lo apa apaan sih sa. Siapa juga yang pacaran sama kak dimas?? gila lo yaa ? sakit kepala gue tau gak". teriak keira lagi sambil berusaha berdiri di bantu dimas. Selagi berusaha berdiri kepala keira yang terbentur keras mengeluarkan darah segar setelah nya pandangan menjadi gelap dan keira pun ambruk.
Dimas sangat panik melihat keira pingsan dengan banyak darah.
Salah satu murid berlari ke ruang guru menceritakan kejadian denisa yang dengan brutal nya mendorong keira yang tidak salah apa apa. Hanya salah paham saja.
Denisa tidak sedikit pun merasa takut atas perbuatannya.
__ADS_1