Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Berkunjung II


__ADS_3

Masih di kediaman Gumilar. Andik nampak lebih segar meskipun badannya terlihat lebih kurus.


Arya terus mengajak Andik ngobrol.


Karena terlalu asik mendengar Arya bicara, tak terasa makanan di piring Andik langsung tandas tak tersisa.


Mama jeni menitikan air mata melihat Andik mau keluar dan makan bersama di meja makan.


Andik malah fokus dengan Arya. Andik justru tak menghiraukan Keira yang berada di sebelah Arya.


Andik seperti anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur.


Arya juga mengajak Andik duduk di taman belakang rumah.


Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, Andik terlihat menikmati obrolan mereka.


Tak terasa waktu hampir sore.


Arya dan Keira pamit untuk pulang.


Arya sudah memberi tau mama jeni bahwa besok Arya dan Keira akan pergi berbulan madu.


Tetapi Arya tak memberi tau Andik.


Ia takut Andik akan kepikiran lagi dan terbebani dengan rencana bulan madu nya.

__ADS_1


Padahal bisa saja Arya cuek pada Andik.


Namun jiwa sosial Arya memang tinggi. Terlebih lagi dia seorang pemimpin rumah sakit ternama. Kadang ia juga terjun langsung melihat pasien pasiennya. Tak jarang pula ia melihat pasien yang mencoba menyakiti diri sendiri karena depresi.


Maka dari itu, Arya sudah terbiasa dengan kondisi andik saat ini.


.


.


.


.


Kepergian Arya dan Keira yang berbulan madu sebenarnya juga terdengar oleh Andik.


"Semoga kamu berbahagia kei. Aku takut untuk menjalin hubungan dengan wanita lagi.Aku takut bertindak bodoh lagi. Sepertinya aku tidak akan menjalin hubungan lagi dengan wanita manapun. Aku akan menjalani hidup ini seorang diri".


Andik kembali termenung di dalam kamarnya. Sang mama pun kembali sedih melihat putranya menyendiri lagi. Berdiam diri lagi. Menatap kosong lagi.


"Mama merasa sangat sedih pah, putra bungsu kita... Ia... Kenapa harus begini pah, hiks hiks hiks". Mama jeni menangis sesenggukan.


Yansyah yang berada di kamar mendengar tangisan mama nya. Ia pun langsung keluar melihat keadaan.


"Ada apa ma? kenapa?".

__ADS_1


Papa agung hanya mengangkat dagu nya tanda menunjukkan sesuatu.


Yansyah pun langsung melihat ke arah yang di maksud.


"Ada apa lagi dengan Andik pa?".


Yansyah mencoba menghampiri adiknya itu.


"Ada apa hmm?". Yansyah menyentuh pundak adiknya.


Andik pun menoleh ke arah kakaknya.


"Tidak. Aku hanya sedang merenungkan masa depan ku yang suram. Sepertinya aku tidak akan menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun. Boleh kan kak?". tanya Andik tanpa menoleh ke arah Yansyah.


"Kenapa? Jangan menyiksa diri sendiri Andik. Sayangilah diri sendiri dan juga orang tua kita. Mohon ampun pada Allah dan juga orang tua kita. Lanjutkan hidup seperti biasa. Kamu pasti bisa dek". Yansyah memeluk adiknya yang sedang rapuh itu dan mengusap kepalanya.


Andik terus menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, jalani saja hidup ini mengalir apa adanya. Ada kakak disini dek". Andik tak kuasa menahan tangisnya melihat adik laki lakinya terpuruk.


"Mama sungguh sedih lihat anak mama begini. Dosa apa mama hingga anak mama jadi seperti ini. Aku mohon ampun yaa Allah". Mama jeni pun jadi sesenggukan lagi melihat Yansyah ikut menangis.


Tak pernah sekalipun mama jeni melihat anak laki-laki nya terpuruk, sedih, bahkan sampai depresi seperti itu.


Mama jeni merenungkan apa ada dosa yang ia perbuat dan ini sebagai karma balasan untuk nya.

__ADS_1


"Apa ada dosa kita yang belum termaafkan yaa pah?". ucapan mama jeni berhasil membuat papa agung tegang.


__ADS_2