Ketika Cintaku Terbagi...

Ketika Cintaku Terbagi...
Khawatir


__ADS_3

Mendengar keira demam yansyah yang baru saja tiba di dapur untuk sarapan langsung menghampiri bibik yang sedang memapah keira yang sudah lemas itu.


"Ada apa bik?" tanya yansyah


"Ini den, non keira muntah dengar bibik bilang seafood. Eh ternyata demam juga panas banget".


"Sekarang bibik panggil andik di kamar nya, saya bawa keira ke mobil supaya andik bawa ke rumah sakit".


Bibik pun naik ke atas untuk memanggil andik yang baru selesai.


Sedangkan yansyah menggendong keira ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


Di dalam mobil yansyah seperti hilang akal memperhatikan istri dari adiknya yang artinya adalah ipar nya sendiri..


Dia ingin sekali mencium kening keira, tapi urung ia lakukan karena andik sudah datang.


'Gue benar benar gila'. batin yansyah.


"Kak keira kenapa?" tanya andik yang baru tiba


"Istri lo itu sakit kok lo malah gak tau. Gimana sih jadi suami? bawa dia ke rumah sakit. Biar gue ikutin dari belakang. Soalnya sekalian mau ngantor gue".


Andik malah cemberut kakak nya begitu.


'Kok yansyah kayak khawatir gitu yaa sama keira. Ah mana ada begitu, dia kan kakak gue berarti keira juga adik nya'. Andik berperang melawan batin nya.

__ADS_1


Mobil melaju membelah jalanan menuju ke rumah sakit. Bibik juga ikut serta untuk menemani keira jika andik sedang mengurus sesuatu. Juga membawa tas keira yang berisi pakaian keira.


"Dokter tolong istri saya pingsan dok. Badannya panas sekali". ucap andik khawatir.


"Kenapa bisa gini pak?" tanya suster.


"Saya gak tau sus, istri saya sedang hamil. Demam nya tinggi sekali seperti nya".


Keira lalu di bawa ke ruang IGD untuk di periksa.


"Den, sarapan dulu yaa. Ini tadi bibik sempat bawa nasi goreng seafood yang bibik bikin untuk sarapan". bibik menyodorkan kotak makan nya ke andik.


"Saya gak laper bik. Kepikiran keira".


"Kalau den andik gak makan terus ikutan sakit, siapa yang jagain non keira?"


Yansyah datang setelah memarkirkan mobilnya lebih dulu.


Andik perhatian memang raut wajah kakak nya ini menunjukkan kekhawatiran yang kentara.


"Gimana istrimu?" ucap yansyah berusaha tenang dan tidak terlalu menampakkan kekhawatiran nya.


"Masih di tangani dokter kak di dalam".


"Gue udah telepon mama sama papa, nanti dia bilang mau kesini".

__ADS_1


Dokter keluar dari ruangan itu, membuat manusia yang menunggu di depan menoleh seketika.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


"Dengan keluarga pasien keira? suaminya ibu keira?".


"Iyaa saya dokter suaminya , bagaimana dokter?".


"Istri anda mengalami stres pak, kehamilan trimester pertama ini memang rentan sekali. Mual muntah biasa di alami ibu hamil, tapi usahakan masuk makanan yang bergizi walaupun sedikit. Jaga suasana hati nya, kalau bisa harus bahagia dan ceria jangan sampai membuat mood nya jelek. Itu saja, nanti saya resepkan vitamin dan obat nya".


"Baik dokter, terima kasih banyak dokter".


"Sama sama pak, saya permisi".


"Mari dokter".


"Bik, kak, ayo masuk dulu".


Keira terbaring lemah di brankar, sebentar lagi akan di pindah di rawat inap. Keira harus di rawat beberapa hari.


"Ibu keira akan di pindahkan ke ruang rawat dulu yaa pak. Mari ikut saya". ucap suster.


Bibik dan yansyah melihat keira yang pucat dengan suhu badannya yang masih tinggi.


"Ndik, gue ke kantor dulu yaa. Udah agak siang. Nanti kalo ada apa apa telepon aja".

__ADS_1


Yansyah pergi karena dia benar benar cemburu melihat kemesraan andik untuk istri nya.


"Gue udah bener bener gila, aaarrgghh". gumam yansyah setelah keluar ruangan.


__ADS_2