
Denisa meringis kesakitan sambil memegang tangannya.
Wajah keira benar benar merah padam karena emosi.
" Apaan si kei. Sakit tau". Lirih denisa memegang tangan nya.
"Seharusnya lo tau batasan Sa. Gue udah nikah, dan lengan yang lo gandeng itu suami gue. Jangan mengulang kejadian dulu". Pekik Keira sangat kesal dengan kelakuan denisa itu.
Pagi nya menjadi buruk karena ulah denisa berkunjung ke rumah nya.
"Kamu kenapa sih kei, itu sampai merah tangannya denisa". Andik malah memarahinya. Membuat Keira semakin kesal saja.
"Kamu belain dia? Kamu seneng di rangkul wanita ini??? " Ketus Keira pada suami nya.
"Bukan gitu maksud aku, tapi kita obrolin dengan tenang jangan begini. Malu".
"Harusnya dia yang malu, bukan aku. Ayo pulang aja". Ucap Keira lalu andik mengikuti Keira pulang.
Denisa tersenyum licik melihat kepergian mereka.
"Bahkan kami sudah saling mencecap manis nya bibir kami satu sama lain keira. Lo gak akan menang kali ini. Cukup dulu saja lo menang". Batin denisa.
__ADS_1
Denisa sudah kehilangan akal seperti nya, berusaha merusak rumah tangga temannya sendiri.
Keira masuk ke rumah lalu ke kamar nya dan membanting pintu kamar nya.
Mama dan papa yang kebetulan juga baru sampai rumah kaget melihat menantu nya murka seperti itu.
"Ada apa bik? " Tanya mama jeni.
"Itu tadi nona sama tuan seperti nya ribut kecil. Tadi teman perempuan nya datang kemari, baru berapa menit keluar eh malah balik lagi cemberut gitu nyonya". Jelas bibik.
" Siapa bik? "
"Namanya Denisa kalo gak salah".
"Sudah ma, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita orang tua jangan ikut campur, kecuali mereka minta nasihat atau pendapat baru kita maju". Papa agung sungguh sangat bijak.
"Baiklah pa, yuk kita sarapan dulu".
Di dalam kamar Keira benar benar kesal dengan kelakuan denisa yang menurut dia kelewatan.
"Apa coba maksudnya pagi pagi buta bertamu ke rumah orang? Pengantin baru pula. Dia gak merasa mengganggu apa ya? Merangkul lengan suami orang seenaknya aja". Oceh Keira pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jangan jangan, dia mau... " Belum Keira menyelesaikan dugaan nya, andik datang dan membuka pintu.
"Jangan jangan apa sayang? Kamu jangan marah marah terus dong. Aku gak mau kamu bertindak asal seperti tadi" Ucapan andik malah membuat Keira semakin mendidih rasanya.
"Apa kamu bilang? Bertindak asal? " Keira semakin emosi jadinya.
'Duh salah ngomong kayaknya nih gue'. Batin andik berteriak.
"Nggak gitu sayang, kamu jangan salah paham terus dong sayang". Andik mendekat mencoba memeluk Keira untuk meredakan emosi nya. Tapi reaksi Keira di luar dugaan andik.
Keira berpikir kalau suaminya malah membela temannya itu. Padahal jelas jelas denisa sudah keterlaluan menurut keira.
Keira sendiri tau sifat denisa jika melihat laki laki ganteng apalagi kaya. Pasti langsung di pepet sampai benar benar dapat. Tidak peduli itu pacar temannya atau bukan, denisa tetap nekat.
Maka dari itu Keira harus berhati hati dengan suaminya jika terlalu dekat dengan temannya itu.
Hubungan keira dan denisa pun jadi tidak sedekat dulu karena kejadian terakhir di kampus waktu denisa memaki maki keira karena laki laki yang di dekati denisa menolaknya hanya karena dia menyukai keira.
Padahal Keira sendiri tidak tau siapa laki laki itu.
Hal itu membuat denisa murka dan melampiaskan nya ke keira yang tidak tau apa apa.
__ADS_1
Jelas keira pun marah balik karena tuduhan asal dari denisa itu..