
Di rumah sederhana milik Bu Sukma sedang ramai keluarga serta para tetangga ikut membantu acara yang di adakan Bu Sukma pagi ini.
Bu Sukma akhirnya menyetujui Denisa menikah dengan Andik.
Pun dengan mama jeni dan papa agung juga dengan berat hati menerima keputusan Andik yang akan bertanggung jawab atas perbuatannya pada Denisa.
Meskipun kini Denisa sedikit stres karena kehilangan bayi yang di kandung nya. Tetapi Andik tetap menikahi Denisa.
Sebelum keputusan ini di buat, Andik dan orang tua nya sempat bertengkar hebat karena mama jeni masih kekeh tidak mau mempunyai menantu wanita perusak hubungan orang lain.
Di sisi lain, Andik memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Denisa.
Akhirnya mama jeni mengalah, dan menyetujui untuk menikahi Denisa dengan catatan ia tidak mau Andik membawa Denisa ke rumah nya.
Apalagi menghadapi Denisa yang sedang tidak stabil mental nya seperti saat ini.
Andik menyetujui syarat sang mama.
Di depan orang tua nya, keluarga Denisa, dan pak penghulu, Andik mengucapkan ijab qobul.
Denisa tersenyum sangat bahagia akhirnya Andik mempersunting nya juga.
Sedangkan Andik, ia terlihat sangat tidak bahagia di pernikahan nya kali ini.
Ia terlihat tersenyum dengan terpaksa menghadapi kenyataan bahwa sekarang ia suami sah dari Denisa.
Setelah semua mengatakan SAH terbayang kembali kenangan saat dimana Andik menikahi Keira.
Meleleh air mata Andik. Bukan air mata kebahagiaan, melainkan air mata penyesalan.
__ADS_1
Ia menyesali semua yang ia lakukan.
Denisa yang melihat Andik tampak tak bahagia bersanding dengannya menjadi murung.
Semua orang menyalami nya dan memberikan ucapan selamat. Meskipun ada saja yang masih nyinyir dengan pernikahan keduanya.
Para tamu memberikan selamat lalu menikmati hidangan yang ada.
Lambat laun hari semakin sore, tamu dan tetangga semuanya pamit undur diri.
Tak banyak tamu yang di undang seperti pernikahan Andik dengan Keira megah, mewah, ramai penuh tangis haru bahagia.
Semua acara sudah selesai.
Andik langsung masuk ke kamar Denisa untuk mengganti pakaian. Ia ingin membersihkan diri agar lebih segar.
Setelah Andik ke kamar mandi, Denisa masuk ke kamar lalu mengganti gaun pengantinnya dengan baju biasa, di bantu oleh perias pengantinnya.
Andik melaluinya begitu saja dengan ekspresi wajah yang datar.
Biasanya mereka akan berlaku mesra dan tak mengenal waktu untuk menghabiskan waktu bersama dengan peluh yang membasahi tubuh mereka.
Kini, semuanya terasa hampa dan kosong.
Denisa seolah dianggap tidak nampak di depan Andik.
Denisa melangkah ke kamar mandi dengan lesu.
Ia memang akhirnya bisa memiliki Andik seutuhnya. Namun, tidak dengan hati dan jiwa nya.
__ADS_1
Denisa merasa jika raga Andik memang berada di sampingnya, tetapi jiwa nya terbang entah dimana.
Hanya tatapan datar, malah justru mengarah ke dingin yang ditunjukkan Andik kepada Denisa.
tidak ada lagi raut wajah gembira, penuh gairah seperti dulu yang ditujukan hanya untuk Denisa ketika mereka masih tinggal di apartemen.
Tidak ada lagi canda tawa, kecupan manis, peluh bercucuran ketika mereka 'bersatu' di malam yang panjang.
Denisa menangis di dalam kamar mandi. Tentu ia nyalakan kran air agar suara tangisnya tersamarkan.
Ia tidak mau ibu nya khawatir. Sudah cukup ia merepotkan orang tua nya.
Kini, Denisa harus menelan pil pahit setelah berhasil memiliki Andik seutuhnya.
Denisa tak lagi di hiraukan keberadaan nya oleh sang suami meskipun berada tepat di depan muka.
Denisa merasa miris dengan kehidupan nya kini.
Ia pikir akan bahagia jika sudah memiliki Andik secara utuh.
Ia pikir Andik akan terus menyayangi dan mencintainya sepenuh hati setelah mereka SAH sebagai pasangan suami istri.
Namun, kenyataan tak sesuai dengan harapan yang setinggi langit.
Padahal sang ibu pernah bercerita pada Denisa bahwa ia punya saudara yang mempunyai suami dari hasil merebut dari istri sah nya. Kini hidupnya sangat miris dan penuh hujatan. Saudara dan suaminya hanya bahagia sementara, dan pergi begitu saja tanpa kejelasan apapun. Ternyata pria itu kembali memperbaiki rumah tangga nya dengan istri pertamanya. Kini, saudara Bu Sukma hidup dengan kesendirian dan kucilan orang orang karena sudah tega merebut suami orang.
Kini, denisa merasakan apa yang kerabat ibu nya rasakan.
Memang merebut milik orang lain dengan cara paksa tidaklah membawa keberkahan hidup. Tidak akan ada rasa bahagia yang sebenarnya.
__ADS_1
Yang ada hanya ada rasa gelisah dan ketakutan.